Gurat-Gurat Otentikasi dan Asimilasi Budaya Masyarakat Madura

RADAR MADURA Minggu, 19 Agustus 2013

(Tanggapan atas Tulisan Bung Homaedi tentang Budaya Masyarakat Madura)

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Sengaja saya tambah nama asli dengan “nama pena” dalam tulisan ini agar tidak ada kecemburuan. Karena nama JUNAIDI terlalu banyak di berbagai penjuru dunia. Mungkin masyarakat akan lebih mengenal saya dengan nama pena “JUNAIDI KHAB”. Itulah sebutan semenjak saya menggeluti dunia kepenulisan.

Salam kenal dan terimakasih atas tanggapan saudara Homaedi di Radar Madura Jawa Pos Group edisi Minggu, 17 Februari 2013 atas tulisan saya yang berjudul “Mempertahankan Keotentikan Budaya Masyarakat Madura” Radar Madura Jawa Pos Group edisi Minggu, 3 Februari 2013 (maaf, ada kesalahan penulisan bulan dari redaksi untuk edisi tersebut dalam koran tersbut tertulis 3 Januari 2013, mohon dicek lagi).

Suatu istilah jika tidak dipahami secara mendalam hanya akan menelurkan persepsi dan gagasan yang ambigu. Setelah saya baca tanggapan hari Minggu Radar Madura Jawa Pos Group edisi Minggu, 17 Februari 2013 pada kolom opini budaya, sungguh darah mengalir dengan cepat. Gagasan dan beberapa analisis baru atas tanggapan  tersebut menderu-deru. Ternyata ada yang memahami istilah otentik sama atau hampir sama dengan asimilasi.

Ada hal yang sangat ironis dalam penggunaan bahasa dalam tulisan yang berjudul “Keotentikan Seni Budaya Madura Tetap Terjaga” oleh Homaedi. Pertama, judul meyakinkan bahwa budaya madura masih otentik. Kedua, namun dalam pembahasan berikutnya disebutkan bahwa budaya seni musik klasik madura tidak jadi masalah jika berasimilasi dengan musik modern. Yang mana hal ini hanya saja berorentasi pada pendapat pribadi seseorang juga yang akurasinya kurang bisa dipertanggunggjawabkan.

Kalau hanya mau mengutip kata orang lain, mengapa tidak membuat kata-kata sendiri? Toh kata seseorang belum tentu kepastian dan kebenarannya lalu kita mudah percaya tanpa landasan yang kuat. Apalagi yang menjadi sandaran bukan orang asli Madura. Tentu cara pandangnya jauh berbeda. Maka dari itulah, keotentikan budaya masyarakat Madura harus tetap dijaga tanpa dicampur atau diasimilasi dengan hal-hal baru yang lainnya. Jika ada budaya yang original saat ini, maka itu yang harus kita pertahankan keotentikannya.

Setidaknya jika sudah mengatakan budaya masyarakat Madura masih asli (otentik) jangan mengatakan tidak masalah mengasimilasinya (penyamaan/ penyelarasan) dengan musik modern masa kekinian. Karena jika sudah terjadi asimilasi, secara otomatis perubahan terhadap keberadaan musik lokal itu sendiri akan musnah. Karena kita akui saja bahwa musik lokal, apalagi musik budaya asli madura tidak begitu menarik perhatian mayoritas publik. Sehingga, jika terjadi asimilasi dengan musik modern, budaya lokal akan mengalami pergeseran gaya modern. Dari sinilah akan hilang istilah otentik dalam budaya masyarakat madura.

Bukan saya menghina budaya musik lokal madura tidak indah. Faktanya memang demikian, peminatnya sangat minim. Sedangkan musik modern yang merupakan budaya masyarakat dinamis akan terus mengalami perubahan dan perkembangan sehingga peminatnya terus bertambah banyak. Namun dalam rangka menjaga keotentikan budaya masyarakat madura dari sisi musikalnya, kiranya perlu purisasi atas keberadaan musik lokal masyarakat Madura itu sendiri.

Masyarakat Madura akan tetap menjadi masyarakat Madura jika identitasnya tetap terjaga. Bahkan dalam menjaga identitasnya itu keaslian budayanya pun sangat mendukung. Tentu masyarakat Madura ingin budayanya tetap berangkat dari nilai yang bernuansa independen tanpa bergantung dan disuguhi oleh gaya dan budaya lain.

Referensi yang Akurat

Referensi bisa didapat dari manapun. Baik dari yang sah dan yang bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya maupun tidak bisa. Misalkan seperti yang diungkap oleh Homaedi dari cuplikan Sujiwo Tedjo dalam tulisannya.

Untuk tetap menjaga eksistensi  seni musik tradisional, tidak ada salahnya memadukan musik klasik dan modern, tanpa harus menghilangkan roh musik klasik itu sendiri”. Sujiwo Tedjo. Katanya.

Bukan menyepelehkan senior (Sujiwo Tedjo). Namun cuma menelisik kembali pemahamannya dalam memberikan sumbangsih atas keotentikan musik tradisional (khususnya musik tradisional Madura). Analogisnya begini, jika musik tradisional berasimilasi dengan musik modern tidak mungkin musik tradisional menang dalam popularitasnya. Tentu musik modern yang akan tetap menonjol di depan masyarakat. Sehingga jika sudah demikian, masyarakat tidak akan lagi menggandrungi musik tradisional yang merupakan ciri jati dirinya. Mereka akan melirik musik yang lebih maju dan lebih eksis dalam percaturan budaya dan seni.

Memang tidak salah memadukan antara yang tradisional dan yang modern. Namun yang lebih tidak salah lagi jika tidak mencampur antara yang modern dengan yang tradisional. Jika budaya tradisional bercampur dengan budaya masyarakat modern itu akan memunculkan budaya baru yang akan menggerus keotentikan budaya setempat. Meskipun masih ada musik dan seni budaya lainnya di Madura yang tetap eksis dengan paduan seni budaya kontemporer, namun penghayatan yang original dari seni dan budaya itu akan berkurang dan tidak maskimal. Yang terlihat hanya kulitnya saja sedangkan makna di balik itu semua bagaikan keropeng. Tidak ada nilai filosofinya.

Bukan saya harus melihat sana-sini ke daerah Saronggi dan beberapa daerah lainnya. Tapi, originalitas budaya masyarakat Madura harus tetap terjaga. Saya orang Gapura Sumenep tulen yang sering berlalu lalang ke barat dan ke timur melihat dan menikmati berbagai sayup-sayup budaya masyarakat saya sendiri. Perlu kita sadari bersama bahwa jika budaya kita tercampur dengan budaya lain (modern) itu sama saja dengan menghilangkan identitas diri kita sendiri sebagai orang Madura. Karena sangat dimungkinkan jika sudah tercampur dengan budaya luar, maka budaya kita yang original akan tereliminasi.

* Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura dan Sekarang Melenjutkan Pendidikannya di Jurusan Sastra Inggris Fakulta Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya serta Bergiat di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: