Mewaspadai Penyebab dan Bahaya Buta Warna

ESQ News: Selasa, 21 Januari 2014

Tes Buta Warna untuk Segala Tujuan (Junaidi Khab)

Tes Buta Warna untuk Segala Tujuan (Junaidi Khab)

Judul               : Tes Buta Warna untuk Segala Tujuan

Editor              : Dwi Sunar Prasetyono

Penerbit           : Saufa (DIVA Press)

Cetakan           : I, Oktober 2013

Tebal               : 68 Halaman

ISBN               : 978-602-279-073-0

Peresensi         : Junaidi Khab*

Dalam anggapan kita, buta warna seakan-akan ketidakmampuan mata untuk melihat warna secara menyeluruh. Karena istilah buta secara umum yaitu mata tidak bisa melihat terhadap suatu objek. Namun kenyataannya, buta warna dalam hal ini sangat berbeda dengan yang kita persepsikan. Buta warna yang dimaksud di dalam buku ini hanya sebatas pada kemampuan mata yang tidak maksimal untuk membedakan warna yang sesungguhnya. Bisa jadi warna merah dianggap hitam, kuning tampak putih, dan hijau kelihatan ungu. Hal demikian sangat berbahaya bagi kita jika berhadapan dengan suatu aturan yang menggunakan warna sebagai patokannya.

Buta warna atau yang dikenal dengan istilah defisensi penglihatan warna adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk melihat warna atau melihat perbedaan warna dalam kondisi pencahayaan normal. Jadi, buta warna bukanlah kebutaan dalam arti sebenarnya, sebab yang ada hanyalah kekurangan penglihatan warna. Penyebab paling umum dalam hal ini adalah kesalahan dalam pengembangan satu atau lebih set kerucut retina yang berfungsi menyerap cahaya warna dan mengirimkan informasi tersebut ke saraf optik (Hal. 7).

Penyebab buta warna lainnya yaitu perempuan yang membawa sifat buta warna walau dia sendiri tidak buta warna. Perempuan pembawa sifat warna mungkin saja secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna. Ia tetap sebagaimana wanita normal pada umumnya. Akan tetapi, wanita pembawa sifat ini berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak.

Meskipun demikian, tidak semua perempuan menurunkan sifat buta warna pada keturanannya. Hanya segelentir perempuan saja yang memiliki sifat buta warna ini. Persoalan buta warna bukan hal sepele sebagaimana kita ketahui dari ilustrasi tersebut. Penyakit buta warna sangatlah berbahaya baik bagi penderita maupun orang di sekitarnya. Ancaman tetap mengintai meski buta warna termasuk penyakit ringan. Utamnya sangat berbahaya dalam situasi atau di mana suatu aturan menggunakan warna sebagai penanda. Misalkan pada lampu lalu lintas yang mana aspek yang dipakai adalah kode warna. Salah dalam membedakan antara lampu warna merah dan hijau, maka maut yang akan mengintai kita.

Bukan hanya pada tataran lampu lalu lintas yang sempat ada hukum pelarangan untuk membuat Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi warga buta warna di Rumania. Tetapi banyak aspek penerbangan bergantung pada kode warna. Beberapa di antaranya cukup mengganggu bagi penderita jenis buta warna ringan, misalnya pancaran sinyal warna (color-gun) pesawat yang kehilangan komunikasi radio, indikasi kode warna di bahu landasan pacu, dan sejenisnya. Sehingga beberapa ketentuan membatasi penerbitan sertifikasi pilot bagi penderita warna untuk alasan yang satu ini (Hal. 19).

Sangat ironis, buku ini tidak adil dengan ulasannya yang cukup memukau mulai dari pengertian, penyebab, bahaya, dan hingga tes buta warna. Ketidakadilan tersebut bisa kita telisik lebih dalam pada ranah solusi dan pengobatan. Kemampuan penulis hanya sebatas pada arah yang timpang saja, yaitu mengulas seputar buta warna di luar lingkaran penyembuhannya.

Penting kiranya sebuah solusi untuk dijelaskan lebih lanjut mengenai penyembuhan buta warna. Padahal pada halaman pengantar penulis mengatakan bahwa ada strategi yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Kenyataannya, isi buku ini tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh penulis. Maka dari itu, keberadaan buku ini masih mentah dan tidak optimal bagi para pembaca. Kendatipun demikian, buku ini masih penting untuk dibaca guna mengenal lebih lanjut tentang buta warna meski apa yang disampaikan jauh dari sempurna. Kita hanya tinggal mencari sendiri solusi penyembuhan buta warna dari buku literatur lainnya jika penulis tidak siap untuk melengkapi kekurangan ini.

Ulasan yang menarik ini patah seketika. Tidak jauh dari persoalan buta warna yang patah ini, ada beberapa ulasan yang pada substansinya perlu diketahui lebih dalam oleh para pembaca. Di antaranya sebagaimana tercantum, yaitu definisi dan penyebab buta warna, tes buta warna Ishihara, dan ada sejumlah 24 plat sebagai metode yang digunakan untuk mengetahui seseorang apa buta warna atau tidak meski tidak ada solusi penyembuhan yang menjadi tujuan utama pembaca.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Bisa diakses di: http://esq-news.com/2014/berita/01/21/mewaspadai-penyebab-dan-bahaya-buta-warna.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: