Meneladani Pemikiran Soekarno dan Soeharto

Tribun Jogja: Minggu, 26 Januari 2014

Ajaran-Ajaran Spektakuler Bung Karno & Pak Harto (Junaidi Khab)

Ajaran-Ajaran Spektakuler Bung Karno & Pak Harto (Junaidi Khab)

Judul               : Ajaran-Ajaran Spektakuler Bung Karno & Pak Harto

Editor              : Suwelo Hadiwijoyo

Penerbit           : IRCiSoD (DIVA Press)

Cetakan           : I, November 2013

Tebal               : 208 Halaman

ISBN               : 978-602-255-344-1

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kita sebagai bangsa Indonesia tentu sudah mengenal dua pemimpin bangsa ini yang cukup fenominal, Bung Karno dan Pak Harto. Kita akan mudah mengenal Bung Karno karena beliau menjadi pemimpin negeri yang pertama kalinya. Itu pun diiukuti oleh pemikiran-pemikirannya yang jenius dan pidatonya yang memukau diakui publik mampu mempersuasi bangsa Indonesia. Jika Pak Harto dikenal karena memimpin Indonesia cukup begitu lama. Selain itu, ia dikenal sebagai tokoh pemimpin yang diktator kelas kakap.

Selain dua pemimpin yang dikenal dengan ajaran-ajarannya yang spektakuler dan memberi sumbangsih bagi keberlangsungan hidup bangsa Indonesia ini, juga memiliki sisi negatif yang tidak perlu kita ikuti. Setidaknya cara yang mereka lakukan untuk memajukan bangsa ini tentu berbeda, namun tujuannya sama. Karena itulah, terkadang ketika berbicara tentang Pak Harto selalu dipandang sebagai pemimpin yang jahat yang tidak berperikemanusiaan. Padahal di balik itu semua, Pak Harto memiliki ajaran yang perlu kita amalkan untuk menyongsong kehidupan yang akan datang.

Apalagi Bung Karno yang identik dengan jiwa nasinalismenya yang tinggi. Seakan-akan tidak ada celah di balik itu semua. Hakikatnya, sejahat apapun seorang pemimpin, ia memiliki cara dan prinsip tersendiri untuk membangun negeri guna mampu bersaing, tahan banting, kuat dan rakyatnya hidup sejahtera.

Untuk menguak ajaran-ajaran yang ditelurkan oleh Bung Karno dan Pak Harto tersebut, buku ini akan mencoba untuk menggalinya secara rinci pemikiran-pemikiran dan ajaran yang digagas semenjak mereka menjadi pemimpin negeri ini. Misalkan seorang Bung Karno menggagas suatu ajaran untuk mempertahankan negeri ini yang dikenal dengan nasionalisme. Dengan ajaran nasionalisme inilah negara dan bangsa Indonesia mampu berdiri, berdikari, dan bersatu dengan kuat (Hal. 16).

Ajaran nasionalisme ini pada dasarnya dimaksudkan oleh Bung Karno untuk mengingatkan rakyat Indonesia bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa adalah sangat penting dalam mewujudkan cita-cita pembukaan UUD 1945 yang diperuntukkan demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Dengan demikian, upaya-upayan untuk tercapainya persatuan dan kesatuan perlu dilaksanakan. Di masa depan, ajaran nasionalisme ini juga dimaksudkan untuk memajukan rakyat Indonesia dalam rangka mencapai kesejahteraan dan kedamaian seluruh wilayah NKRI, yang berimplikasi pula dalam menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan abadi serta keadilan sosial.

Bung Karno sebagai pemimpin pertama bangsa Indonesia ini sudah jelas langkah jeniusnya menjadi cermin bagi pemimpin-pemimpin sesudahnya. Termasuk Pak Harto ketika memimpin bangsa Indonesia, ia selalu menghormati Bung Karno. Apa yang baik darinya ia jadikan pijakan untuk melangkah. Termasuk ajaran Pak Harto yang sangat terkenal – Aja Adigung, Adigung, lan Adiguna – yang berarti “jangan sok berkausa, sok besar, dan sok sakti” dalam memimpin negeri ini (Hal. 30).

Sebagai penerus Bung Karno, Pak Harto benar-benar menjunjung tinggi ajaran – aja adigung, adingung, lan adiguna – dalam menjalankan roda pemerintahan. Tindakan-tindakannya ini direalisasikan dengan mempelajari sejarah dan kepemimpinan Bung Karno sebelumnya. Dengan ajaran Pak Hati yang ini setidak kita dalam rangka membangun bangsa ini perlu belajar dari sejarah dan pemimpin-pemimpin masa lalu yang telah mampu menjadikan bangsa Indonesia besar, maju, dan dikenal oleh negara-negara lain.

Selain nasionalisme yang menjadi ajaran Bung Karno, ada beberapa ajaran yang menjadi pijakannya. Dari ajaran-ajaran itu, tumbuh sikap yang independen sebagai bangsa Indonesia dengan beragam suku dan budaya. Misalkan Pancasila, marhaenisme, antielitisme, persatuan nasional, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), ganyang Malaysia, Spiritualisme.

Begitu pula dengan ajaran Pak Harto, meski dirinya dicap sebagai tokoh doktator ia memiliki banyak prinsip hidup untuk Indonesia yang patut kita amalkan dalam membangun negeri ini. Di antaranya yaitu: Memayu hayuning bawono ambrasto dhur angkoro, mikul dhuwur mendhem jero, urip iku urup nanging kudu ugo mikirno urupe rakyat, wicaksono pikolahe lan arif tumindake, detan serik lamun kataman, datan susah lamun kelangan.

Kehadiran buku ini perlu diapresiasi dan harus menjadi bahan bacaan pokok guna mengenal lebih dekat tentang gagasan dua tokoh pemimpin kita dengan ajaran-ajarannya yang spektakuler. Lebih jauh dan dalam lagi, buku mengulas secara tuntas ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang mereka bawa dalam sepak terjang sebagai negarawan maupun kehidupan sehari-hari. Berbagai nilai tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap bangsa ini, seperti antikolonialisme dan antiimperialisme yang dicetuskan oleh Bung Karno, atau nilai-nilai hidup orang Jawa yang ditanamkan oleh Pak Harto, seperti andhep asor kalawan rakyat. Selamat membaca dan menyelami makna dan nila-nilai ajaran yang dibawa oleh Bung Karno dan Pak Harti!

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Bisa diakses di: Tribun Jogja Minggu Kliwon 26 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: