Cinta di Persimpangan Jalan

Serambi Ummah: Jumat, 17 Januari 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Cinta di Persimpangan Jalan (Junaidi Khab/Serambi Ummah)

Cinta di Persimpangan Jalan (Junaidi Khab/Serambi Ummah)

Jalan yang penuh dengan reruntuhan daun-daun kering menjadi saksi cintaku. Liku-likunya menjadi penghias terjalnya kisah asmaraku. Simpang siur orang berjalan menambah gairah cintaku. Seakan jika tak ada orang yang lewt di sana, cintaku akan biasa-biasa saja. Tanah yang penuh rerumputan itu terkadang diselimuti embun pagi yang kebetulan lewat di pagi hari. Jarak antar rumah warga dengan warga yang lainnya cukup berjauhan di jalan itu. Suasana lebih tenang dan nyaman bagi remaja seusiaku untuk melihat gadis yang telah meniduri palung hatiku.

Sejenak aku beranjak dari kursi belajar. Berdiri mengelus dagu yang tanpa bulu kedewasaan. Pikiranku melayang pada sosok gadis yang selalu kulihat di jalanan itu. Ingin rasanya mengulang kisah-kisah indah itu di balik sampah-sampah daun kering. Disaksikan rumput-rumput yang lembab oleh tusukan embun di pagi hari.

Sesekali aku memandangi buku di atas meja. Ingin rasanya bersenggama dengan pena yang lihai dan gemulai. Menorehkan perasaanku yang terbang di atas jalan. Jalan itu indah. Penuh tatapan-tatapan mata yang bening. Santri-santri berlalu-lalang di pagi hari. Kadang membawa kitab. Kadang membawa ember di kepalanya berisi air tanpa dipegang.

Aku hanya tersipu malu ketika berangkat ke sekolah yang tak jauh pula dari jalan itu. Tapi di balik rasa maluku itu tersimpan beribu makna dan kenangan. Ingin rasanya jalan itu diperpanjang atau ditambah lagi di tempat lain yang menjadi santri-santri itu lewat dengan penuh kewibawaan.

Hasrat hanya tertanam dalam hati. Cintaku sudah mengembara di jalan itu. Ingin rasanya menyapa Melda sosok santri berwibawa dan familiar dengan masyarakat. Ia juga serius. Hingga aku kadang tak mampu menyapa walau hanya satu huruf ketika bersalipan di jalan itu. Mungkin ini cinta yang aku miliki. Entah dengan dirinya. Tapi kuharap ia sama dengan gerak hatiku ke mana melangkah.

***

Pada pagi yang cerah. Matahari masih saja tersenyum di ufuk timur. Daun-daun masih meneteskan air mata embunnya yang tertidur semalaman. Dengan perasaan penuh bunga di pagi itu, aku melangkahkan kaki menikmati indahnya segarnya angin dan dedaunan. Tak kusangka aku berada di belakang empat gadis santri yang baru saja pulang menimba air. Ember yang ada di atas kepalanya itu bergoyang-goyang hingga pundak dan tubuh ikut bergoyang pula. Sekejap mata aku melihat lalu memalingkan mata.

Dengan langkah pelan diriku membuntuti gadis-gadis itu yang sedang bincang-bincang. Sahut-sahut suaranya menutupi jejak dan langkahku yang ada di belakangnya. Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan itu. Ternyata benar apa yang aku harapkan. Melda juga menaruh sejuta tunas mawar di hatinya.

Aku dengan terperanjat kaget dan senang di celah-celah itu terdengar namaku disebut. Kakiku terdiam menjauh dari mereka. Namun aku terus saja berjalan ingin lebih jauh lagi mendengar nama Melda disebut. Tapi langkahku jauh dari mereka. Gadis-gadis itu telah masuk halaman tempat ia mengabdi. Siur air yang dituang ke jambangan terdengar jelas dengan ketawa-ketiwi dan obrolan di dalam. Aku lewat saja di sebelah bangunan tempat Melda berada.

***

Kedatangan hari Senin dalam hidupku menjadi dambaan tersendiri. Dari sana aku akan berjalan dan berpapasan dengan Melda dengan tatapan yang sulit akan kulupakan. Berbagai peralatan sekolah telah kupersiapkan dan kumasukkan ke dalam tas. Kini hanya tinggal memasangkan pakaian ke badan. Parfum kuleletkan ke sekujur tubuh. Kamar dan halaman rumah pun menjadi wangi tiada tara.

Dengan semangat yang pasti aku yakin nanti bisa berpapasan dengan Melda. Kususuri jalan setapak demi setapak. Ternyata dari kejauhan aku melihat sosok gadis yang kuyakini dia itu Melda yang akan berangkat mengambil air ke sumur. Wajahnya tak pernah mendongak ketika berpapasan dengan laki-laki, termasuk diriku sendiri. Namun aku akan mencoba mendongakkan raut wajahnya yang manis. Jarak pun tak ada pemisah. Kini Melda sudah berada di depan mataku dengan tertunduk malu. Aku memperpelan langkahku.

“Mel, kok tumben sendirian?”.

Aku mencoba menyapanya. Ia menghentikan langkahnya. Namun ia terlihat kaget setelah mendengar sapaanku. Tapi rasa kagetnya bukan karena ia benci padaku. Daun-daun terdiam menunggu segelumit kata dari bibirnya yang merah. Tanah-tanah di sekitar memastikan jawabannya ramah.

“I… I… Iya aku sendirian, teman-teman akan menyusul”.

“Kan mereka masih belum berangkat Mel”.

“Awas, nanti dilihat orang dan teman-temanku mas”.

Aku mencoba menghadangnya. Namun ia menerjang hadanganku. Dengan perlahan aku melepasnya. Dari jarak jauh terlihat teman-temannya yang akan menyusul. Aku kecewa pada diriku sendiri. Tak mendapat sapaan yang semestinya aku dapat seperti yang ada dalam benakku sebelumnya. Semenjak itu aku tak berani menyapa Melda lagi.

Kini aku hanya bisa menjalin hubungan dengan Melda sekedar melihat sosok matanya ketika berjumpa saja dan surat menyurat dengan perantara temannya yang terkadang tak mau membawanya. Aku tak berani lagi menyapanya dalam dunia nyata di jalan itu. Seakan hubunganku dengan Melda berada di tembok besar yang berduri dan berkawat tajam.

Rasa rindu hanya bisa dilepas ketika pagi atau sore di jalan itu. Dengan satu kali tatapan dari mata Melda, rindu yang menggelayut dalam hatiku bisa terobati. Perjalanan cinta memang berbeda-beda. Mungkin aku dan Melda akan menjalin hubungan tidak akan selamanya. Karena sebentar lagi aku harus meninggalkan halaman rumahku, merantau ke negeri orang.

Kisah cintaku dengannya hanya bermuara di persimpangan jalan. Tidak lebih dari itu. Sekali pandang, itu caraku menjalin hubungan dan cinta. Tatapan yang tersembunyi, memberikan warna pelangi di lekuk alisku dan membias ke lekuk-lekuk alisnya. Jalan yang kujadikan muara cinta, kini akan dirundung kesepian. Tak akan ada lagi pelangi-pelangi yang membias lagi di sana. Hanya ratapan daun-daun kering yang berjatuhan silih berganti. Mungkin aku harus menganyam hidup baru lagi. Jauh dari peradaban itu. Cinta di ujung mata. Cinta yang tak pernah lebih dan tak pernah kurang.

Surabaya, 16 April 2013

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Bergabung di Pondok Budaya Ikon Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Bisa diakses di: Serambi Ummah Jumat, 17 Januari 2014 Cinta di Persimpangan JalanSerambi Ummah Jumat, 17 Januari 2014 Cinta di Persimpangan Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: