LPG dan Budaya Dapur

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 12 JANUARI 2014

Oleh: Junaidi Khab*

Kenaikan harga LPG (Liquefied Petroleum Gas) atau – gas minyak bumi yang dicairkan – menjadi persoalan sosial-finansial pasca-BBM dinaikkan 22 Juni 2013 tahun lalu. Berbagai kecaman dan hujatan kepada presiden Susilo Bambang Yudhoyono bermunculan saat itu. Begitu pula dengan kenaikan harga LPG hingga 40-60 persen dari 1 Januari 2014 kemarin yang dinilai mencekik rakyat. Memang benar harga yang sangat tinggi sangat memberatkan rakyat jika dibanding pendapatan rakyat yang sangat minim dan kecil. Apalagi uang rakyat banyak dikorupsi melalui dana anggaran publik yang digunakan untuk kepentingan pribadi.

Selain dinilai mencekik leher finansial rakyat dan itu kenyataannya memang demikian, seakan kenaikan harga LPG tersebut sebagai upaya untuk menglihkan isu korupsi belaka. Atau ada yang beranggapan bahwa kenaikan harga tersebut sebagai upaya untuk bancakan dana politik. Jika kita tarik benang merahnya, masyarakat mayoritas tidak setuju jika LPG dinaikkan. Namun, kendatipun demikian, meski rakyat memiliki lembaga perwakilan legislatif suaranya tidak pernah terdengar begitu cerah di tengah-tengah hegemoni politik kekuasaan.

Tidak ada guna lah pada intinya jika rakyat berbicara kepada lembaga legislatif tentang kondisinya, tentang keinginannya. Sekarang tahun 2014 yang disimpulkan sebagai tahun politik, dan memang seperti itu kenyataannya. Maka dari itu, rakyat dalam menghadapi dua transisi suara tak terdengar mulai kenaikan harga BBM hingga harga LPG yang dinaikkan tidak usah berkeluh kesah lagi. Kelak memilih pemimpin jangan hanya karena uang dan janji-janji politikus yang bagaikan rubah sedang menyeringai itu. Rakyat harus memiliki komitmen dan pendirian yang independen dalam menentukan para wakilnya agar nasib di masa depana tampak begitu cerah.

Sebenarnya persoalan harga LPG naik bukan hal urgen jika masyarakat mau berpikir lebih kreatif dan penuh pertimbangan. Semenjak tidak ada LPG, masyarakat kita semua bisa memasak, menggoreng, dan merebus apapun. Tentu itu berangkat dari ide kreatif pendahulu kita dalam membuadayakan budaya masak secara alamiah tanpa menggunakan gas yang bahayanya lebih besar daripada kayu bakar. Budaya mendapur ketika LPG tercipta menghilang begitu saja, dapur akan lenyap. Bagaimana tidak? Ibu-ibu bisa masak dimana saja walaupun tanpa wahana dapur. Di dalam rumah, di ruang tamu, dan bahkan di dalam kamar pribadi bisa memasak.

Budaya dapur harus bangkit kembali. Rakyat tidak harus bergantung kepada LPG lagi hanya untuk urusan memasak, menggoreng, atau merebus bahan mentah. Ada banyak cara untuk memasak dan menghidupkan budaya dapur yang tidak harus mengeluarkan dana banyak. Salah satunya menggunakan kayu bakar atau kompor minyak tanah atau menggunakan energi alternatif dengan memanfaatkan gas metana dari Tempat Pembuangan Akhir Supit Urang seperti yang dilakukan oleh masyarakat kelurahan Mulyorejo Kota malang (Tempo.co: 08/01/2014).

Kita tidak harus berkeluh kesah hanya persoalan LPG naik. Jika harga LPG memang tetap naik, setidaknya kita lebih optimis dan semangat untuk bekerja lebih maksimal guna mengepulkan dapur dengan gas-gas modern tersebut. Biarlah harga LPG melambung, asal rakyat mampu membeli dan segalanya terpenuhi dengan kebijakan pemerintah dan kreativitas rakyat itu sendiri.

Belenggu

Komaruddin Hidayat (2013:55) mengatakan dengan perumpamaan bahwa ada seekor burung beo yang memiliki bunyi indah dan merdu menyerupai suara manusia yang dipelihara selama dua tahun. Tetapi ketika sudah tiba masa untuk dibebaskan dengan dibukakan pintu sangkarnya, ia tidak mau keluar sama sekali. Kemungkinan besar ia takut untuk leluasa menikmati kebebasan yang penuh dengan persaingan ketat.

Sebenarnya untuk melepas burung itu ada kekhawatiran yang sangat dalam. Ketika burung itu dilepas khawatir tidak mendapat makanan akibat persaingan hebat apalagi di daerah Jakarta yang penuh dengan persaingan bebas dan jauh dari hutan atau ditangkap oleh orang lain yang tak bertanggung jawab. Ia lebih memilih di dalam sangkar, ia nyaman dalam sangkar meski berada dalam kekangan.

Apa yang terjadi pada burung beo itu, sesungguhnya sering kali menimpa anak manusia. Bahwa seseorang yang sudah lama tinggal di zona nyaman (comfort zone), tidak berani melakukan perubahan untuk mencari kehidupan baru yang lebih luas dan menantang. Ini pernah terjadi pada penghuni penjara yang sudah 20 tahun mendekam di rumah tahanan, ketika hari pembebasan tiba, bukannya kegembiraan yang muncul malah kegamangan menapakkan kaki ke alam bebas. Dia merasa malu, takut, dan gamang membangun pergaulan baru dan mencari pekerjaan baru. Akhirnya dia memilih melamar kerja sebagai tukang kebun rumah tahanan yang suasananya sudah menyatu dengan dirinya.

Kenaikan harga LPG yang dianggap meresahkan rakyat itu tak lain karena mereka telah terbelenggu telalu lama dalam sangkar modernitas dan tak mampu membuat hal-hal baru yang lebih kreatif dan efektif di bidang kebutuhan rumahtangga. Dalam hal apapun, utamanya kebutuhan untuk dapur. Jadi, hakikatnya rakyat masih terbelenggu oleh LPG dan tak mau lepas darinya. Rakyat sebenarnya bisa diibaratkan dengan burung beo tadi, atau dengan tahanan yang menghuni jeruji besi selama 20 tahun tersebut.

Ketika ketergantungan – yang pada hakikatnya itu belenggu – sudah meracuni kehidupan, maka untuk keluar darinya memang sangat sulit. Kegamangan kebutuhan hidup tak dapat terpenuhi hanya harga LPG naik menjadi hantu yang terus berdatangan tiap mimpinya dalam bayang-bayang masa depan. Padahal rakyat meski tanpa LPG akan tetap bisa mengepulkan dapur-dapurnya. Jangan biarkan diri kita dalam kenyamanan belenggu kehidupan. Maka dari itu, kesadaran untuk berpikir lebih kreatif lagi guna mengepulkan dapur-dapur untuk kebutuhan sehari-hari harus dibiasakan agar ketika dihadapkan pada satu persoalan pelik kita tidak mudah mengeluh dan putus asa.

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Esai tersebut bisa dibaca secara lengkap di: RADAR SURABAYA ● MINGGU, 12 JANUARI 2014 LPG dan Budaya Dapur. Semoga memberikan manfaat yang banyak bagi kita semua. Amin.

One Response to LPG dan Budaya Dapur

  1. M. Faizi says:

    sementara dapur di tempat saya memang masih menggunakan kayu bakar. LPG hanya untuk menjerang air agar segera mendidih. tapi, bagaimana mereka yang tinggal di kota besar? saya tidak bisa membayangkan mereka akan sekreatif masyarakat Kelurahan Mulyorejo di Kota Malang

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: