Menghidupkan Kembali Sihir-Sihir WS Rendra

Koran Jakarta: Sabtu, 28 Desember 2013

W.S Rendra doa untuk anak cucu (Junaidi Khab)

W.S Rendra doa untuk anak cucu (Junaidi Khab)

Judul               : doa untuk anak cucu

Penulis             : W.S Rendra

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : I, April 2013

Tebal               : xvi + 100 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-8811-12-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Dalam keadaan apa pun, Rendra senantiasa menyihir kita lewat kata-kata” (Sapardi Djoko Damono – penyair).

Mayoritas masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan nama seorang penyair terkenal Jayengan, Surakarta, Jawa Tengah. Ia lahir sebelum Indonesia belum merdeka, tepatnya pada Kamis Kliwon, 7 November 1935. Nama lengkapnya yaitu Willybrordus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo. Sebuah nama yang unik dan cukup panjang dengan dua panggilan pada masanya. Kadang-kadang dia dipanggil Willy oleh rekan-rekan dan pengagumnya. Namun ada pula yang memanggilnya dengan nama populer hingga sekarang, yaitu Rendra.

Sudah banyak karya sastra yang ditelurkan oleh Rendra. Utamanya dalam hal puisi yang banyak menjadi torehan tintanya sebagai bentuk pengembaraan hidupnya dengan kata-kata. Kemampuannya dengan kata-kata itulah Rendra namanya bisa naik daun. Jika para dukun menyihir seseorang melalui mantra yang tidak karuan bacaannya itu, maka Rendra melalui kekuatan kata-kata puitik yang unik, menarik, dan eksotik itulah mampu menyihir setiap orang. Sehingga dengan sihir kata-kata indahnya itu ia mendapat banyak penggemar.

Banyak buku kumpulan puisi karya Rendra. Bila dihitung dari kumpulan puisi yang pertama, terbit pada 1957, berjudul Balada Orang-Orang Tercinta, hingga terakhir, pada 1997, Perjalanan Bu Aminah, maka seluruhnya berjumlah 12 buku kumpulan puisi. Dari 12 kumpulan itu hanya ada 2 buku yang judulnya dibuat oleh orang lain. Sedang seluruh lainnya oleh Rendra sendiri (Hal. ix).

Kehadiran buku ini bukan semata untuk menyihir dan menyulap para pembaca dan pengagum Rendra sebagai sastrawan ternama di Indonesia. Dalam hal tersebut, buku ini sebagai upaya untuk menghadirkan jiwa Rendra yang terapung entah dimana keberadaannya dengan jiwa-jiwanya yang pneuh estetika kata-kata mulia nan bijak. Jiwa-jiwa itu tersimpan rapi di tempat dimana Rendra waktu itu tidak ingin memublikasikannya. Karena tuntutan zaman, maka jiwa-jiwa Rendra yang berupa rangkaian kat-kata puitik nan indah itu maka buku ini hadir untuk menghidupkan kembali semangat juang Rendra bagi generasi Indonesia di abad XX ini.

Dari beberapa karya Rendra yang telah dibukukan atau telah berhasil dikemas dalam bentuk rekaman, salah satu dari dua media tersebut belum menjamin kelengkapan karya-karya Rendra yang diterbitkan sejak tahun 1957-1997. Kadang-kadang karya dalam bentuk rekaman tidak ditemukan dalam karya bentuk buku yang dicetak, begitu pula sebaliknya.

Tidak semua puisi yang ia (Rendra) tulis tercantum dalam buku kumpulan-kumpulan puisinya. Ada beberapa pembaca dan pembeli kaset baca sajak Rendra yang mencermati puisi-puisi itu. Mereka mendapati salah satu puisi yang dibacakan oleh rendra dalam sebuah kaset ternyata tidak ditemukan dalam semua buku kumpulan puisi yang pernah diterbitkan (Hal. xiv).

Begitu kiranya tentang karya Rendra yang kurang terakomodir dengan baik. Atau kemungkinan ada kesengajaan dari Rendra atau pihak lain untuk tidak menjadikan lengkap dalam satu kumpulan dan satu tema. Dengan itu, untuk melengkapi kealpaan atau ketiadaan karya puisi Rendra dalam buku-buku tertentu, maka buku ini hadir sebagai penutup celah bagi lubang karya Rendra tersebut.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa buku ini jauh dari sempurna karena memang eksistensinya sebagai pelengkap dari karya-karya Rendra lainnya yang berkesan tidak lengkap bisa terpotong. Antara yang berbentuk buku dan yang berbentuk kaset baca puisi oleh Rendra akan menemukan kelengkapan tersendiri melalui kumpulan puisi dalam buku ini. Walaupun buku ini tergolong tidak sempurna, namun semangat makna puisi yang tersirat di dalamnya bisa menjadi sihir, obat dan mengompori semangat juang dan hidup para pembaca.

Tepatnya “doa untuk anak cucu” kita jadikan sebagai umpan menarik kembali semangat hidup Rendra yang lahir dari puisi-puisinya agar bangkit lagi ke permukaan sebagai sihir dan motivator mujarab bagi kehidupan bangsa Indonesia untuk berjuang dan mentap masa depannya. Dengan begitu, semangat tahun 1935-1997 yaitu – dimana Indonesia pra-merdeka hingga pasca-merdeka – bisa menemukan kembali perjuangan yang setidaknya menyerupai semangat juang anak bangsa ini seperti Indonesia sebelum merdeka. Dengan semangat demikian itu, melalui sihir-sihir Rendra itulah diharapkan kemajuan bangsa ini bisa kita raih.

Setidaknya dalam buku ini ada dua puluh tiga (23) karya puisi Rendra yang belum pernah dipublikasikan. Kehadiran dua puluh tiga puisi pilihan dalam buku ini merupakan suatu pemantik baru bagi perkembangan kesusastraan di Indonesia. Selain itu, meski dengan keterbatasan karya-karya dalam buku ini tergolong sangat minim dan sedikit, namun akan memberikan gambaran baru tentang jiwa-jiwa yang rapuh tetap mampu bertahan hingga menemukan cahaya baru dalam hidup ini.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Bisa dikunjungi di:

http://koran-jakarta.com/?2124-menghidupkan%20kembali%20sihir-sihir%20ws%20rendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: