Strategi Memberantas Korupsi

Harian Bhirawa: Jumat Kliwon, 27 Desember 2013

Kapan Kapok Kisah-Kisah Kasus Korupsi yang Menyakitkan Hati (Junaidi Khab)

Kapan Kapok Kisah-Kisah Kasus Korupsi yang Menyakitkan Hati (Junaidi Khab)

Judul               : Kapan Kapok? Kisah-Kisah Kasus Korupsi yang Menyakitkan hati

Penulis             : Reza Zia ul-Haq

Penerbit           : IRCiSoD (DIVA Press)

Cetakan           : I, November 2013

Tebal               : 220 Halaman

ISBN               : 978-602-255-343-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kasus perkara korupsi yang akut di negeri ini sudah banyak menimpa berbagai instusi kenegaraan yang memiliki peranan dan kiprah penting bagi kemajuan bangsa dan negara. Tidak tanggung-tanggung, uang yang dikorupsi jika digunakan untuk mensejarhterakan masyarakat satu kabupaten sangat menjamin. Kita hanya melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga saja kabar tentang korupsi. Andaikan koruptor itu bagaikan maling sapi di desa-desa, pencuri kakau, pencuri ayam, atau seperti pencuri asongan di kampung-kampung mungkin saja para koruptor sudah habis mati dipukuli massa.

Namun kasusnya ini sangat kompleks dan sulit untuk kita berantas keberadaannya. Tidak seperti maling sapi dan maling-maling gadungan di jalanan itu. Memberantas korupsi memerlukan berbagai macam instrumen yang cukup banyak dan kuat, utamanya oleh masing-masing individu. Memang sudah banyak suatu gagasan yang menawarkan solusi pemberantasan kasus korupsi di Indonesia.

Salah satunya yaitu; pertama, koruptor dimiskinkan dan kekayaannya digunakan untuk kepentingan negara dan rakyat Indonesia. Kedua, diberi hukuman fisik seperti potong jari yang diusulkan oleh ketua Mahkamah Agung (Akil Muchtar) namun dirinya yang terjerat kasus korupsi sendiri. Ketiga, ada yang mengusulkan agar krouptor dieksekusi. Keempat, tidak menerima uang dari para kandidat suatu pencalonan kepala negara atau daerah. Namun gagasan semacam itu masih jauh panggang dari api.

Sayangnya, metode-metode itu hanya sebatas teori dan reotorika saja – tidak ada tindak lanjut dan realisasi oleh masyarakat dan negara – karena kita tidak yakin dengan usaha terasebut. Selain itu pula, negara kita merupakan negara demokrasi yang berdasarkan pada Pancasila sehingga hukum fisik, eksekusi tidak mungkin terlaksana. Begitu pula sangat sulit untuk tidak menerima uang apapun dari para kandidat pencalonan kepala negara atau daerah karena kondisi masyarakat kita yang berada pada ekonomi menengah ke bawah, sehingga banyak money pilitic yang terjadi di masyarakat oleh para politisi sebagai dasar perilaku korupsi.

Kehadiaran buku ini merupakan suatu sumbangan pemikiran yang dikemas dalam bentuk rentetan kisah para koruptor, kasusnya, dan orang-orang yang terlibat dalam kasus korupsi. Yang mana buku ini ingin mengajak masyarakat luas untuk memberantas korupsi di Indonesia dengan cara yang cukup menjamin atas pemberantasan korupsi yang sudah akut ini. Yaitu dengan mengenal para koruptor terlebih dahulu. Lalu, ketika kita sudah mengenal para koruptor, setidaknya kita mampu mawasdiri dengan orang-orang yang terseret oleh kasus korupsi agar tidak mendukungnya untuk menjadi bagian dari pemimpin negeri ini, baik pemimpin di tingkat nasional, propinsi, kebupaten, atau daerah.

Ada beberapa orang yang terkena kasus korupsi yang perlu kita ketahui seluk-beluk dan rentetan kasusnya. Seperti Gayus Halamoan Pertahanan Tambunan (dikenal dengan Gayus Tambunan) yaitu pegawai dirjen pajak golongan III A. Kasus yang menimpa Gayus ini berupa penerimaan gratifikasi uang sebesar US$ 659.800 dan 9,6 SGD namun tidak melaporkan ke KPK (Hal. 108).

Semua orang sudah tentu mengenal nama Gayus Tambunan di Indonesia. Selain nama Gayus dikenal melalui media visual, juga dikenal melalui media audio yaitu lagu Andai Aku Jadi Gayus Tambunan yang dinayanyikan oleh Bona Paputungan. Sebenarnya dua media ini cukup menjadi media mengenal Gayus dan para koruptor lainnya. Namun tidak sempurna jika kita tidak mengenal lebih jauh tentang jalan hidupnya. Maka dari itu, sebuah referensi menjadi suatu kebutuhan untuk tahu lebih jauh tentang para koruptor dan bigorafi singkatnya. Dengan tujuan sebagai upaya penyadaran bagi masyarakat untuk sinis pada para koruptor, hukuman sosial agar mereka jera, dan sebagai pelajaran bagi yang lain.

Korupsi di negeri ini sudah tidak memandang status. Mulai dari yang berstatus instansi kepolisian, partai politik, kejaksaan, keagamaan, perbankan, dan lain sebagainya. Djoko Susilo menjadi kasus korupsi simolator SIM di kepolisian (Hal. 92). Anas Urbaningrum dari Paratai Politik (Demokrat) terseret kasus korupsi Wisma Atlet di Palembang (Hal. 44). Akil Muchtar dari institusi kejaksaan terseret kasus suap pelicinan pemilihan kepala daerah Gunung Mas Kalimantan tengah. Negra kita seakan telah digoyahkan oleh kasus korupsi yang telak akut dan menjalar ke berbagai instansi kenegaraan Indonesia (Hal. 33).

Buku molek ini menyajikan banyak nama, data, dan biografi singkat para koruptor kelas kakap yang berhasil ditangkap oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di berbagai lembaga. Dari data-data itu kita akan tahu objek para koruptor, perihal kehidupannya, dan uang yang berhasil dibawa kabur ke alamnya sendiri. Dengan mengenal mereka melalui buku ini, masyarakat diharapkan sadar dan berpartisipasi agar tidak mendukung mereka untuk menduduki jabatan strategis di Indonesia. Bahkan jika perlu mereka harus diasingkan di negeri ini.

* Peresensi Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: