Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter

Rima News: Ahad, 15 Desember 2013

Pendidikan Karakter Berbasis Sastra Internalisasi Nilai-nilai Karakter Melalui Pengajaran Sastra (Junaidi Khab)

Pendidikan Karakter Berbasis Sastra Internalisasi Nilai-nilai Karakter Melalui Pengajaran Sastra (Junaidi Khab)

Judul                : Pendidikan Karakter Berbasis Sastra Internalisasi Nilai-nilai Karakter Melalui Pengajaran Sastra

Penulis              : Agus Wibowo, M.Pd.

Penerbit            : Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, Juli 2013

Tebal                : 179 halaman

ISBN               : 978-602-229-222-7

Peresensi          : Junaidi Khab*

Pendidikan idealnya merupakan sarana humanisasi bagi anak didik. Itu karena pendidikan memberikan ruang bagi pengajaran etika, moral, dan segenap aturan luhur yang membimbing anak didik mencapai humanisasi. Namun, definisi mengenai pendidikan yang disampaikan oleh para ahli sangat banyak sekali. Itu tergantung dari sudut pandang, paradigma, pendekatan, dan disiplin ilmu mana yang dipakai untuk mendefinisikan.

Ada yang mendefinisikan pendidikan sebagai sebuah proses belajar dan penyesuaian individu secara terus menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita-cita masyarakat. Secara ideal, pendidikan merupakan proses di mana sebuah bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Ki Hajar Dewantara (1977:14) menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect), dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Namun, kenyataannya masih banyak anak didik yang menyimpang dari kaedah humanisasi meski berada di dunia pendidikan. Seperti ada anak didik yang suka minum-minuman, membunuh, dan yang lebih parah yaitu matinya karakter mulia dari dalam jiwanya. Berbagai gagasan berhamburan guna membentuk karakter manusia agar lebih mulia dan bermoral.

Buku ini secara eksplesit juga ingin memajukan pendidikan yang diinginkan oleh masyarakat untuk para generasi penerusnya. Namun, cara dan metode yang menjadi tujuan pembelajarannya yaitu fokus pada pembangunan karakter para peserta didik melalui pengajaran sastra yang pada saat ini sudah minim peminat akibat kemajuan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Sehingga untuk bergelut dengan dunia sastra yang natural sedikit terkikis. Dari beberapa pandangan di dalam buku ini dengan tegas sastra akan mampu menyuplai nilai karakter yang lebih mulia bagi anak didik.

Akan tetapi, seiring dengan sudah marak penerbitan buku tentang pendidikan karakter yang penerapannya kurang praktis dan efisien, buku ini mencoba untuk memberikan sumbangsih agar pendidikan maju dan karakter generasi bangsa lebih maju, bermoral, dan bermutu sesuai dengan yang kita harapankan. Itu tak lain melalui internalisasi nilai karakter kepada anak didik melalui pembelajaran sastra, baik di tingkat sekolah terendah hingga sekolah tertinggi.

Sastra bukan hanya berfungsi sebagai agen pendidikan, membentuk pribadi keinsanan seseorang, tetapi juga memupuk kehalusan adab dan budi pekerti kepada individu serta masyarakat agar menjadi insan yang beretika dan berperadaban (Edi Firmansyah, 2006). Dalam sebuah kesempatan, mantan menteri pendidikan, Fuad Hasan berkata “Kalau mau berperang, kumpulkan seribu sastrawan untuk bicara soal strategi perang yang akan dipakai, nanti hasilnya tidak akan pernah terjadi perang”. Apa yang disampaikan oleh Hasan itu, menggaris bawahi bahwa sastra bisa menempa hati yang keras menjadi halus, lembut, dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan (Hal. 20).

Friedrich Schiller (dalam Darmaningtyas, 2008:81) mengatakan bahwa sastra bisa menjadi semacam permainan untuk menyeimbangkan segenap kemampuan mental manusia, berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus disalurkan. Dengan kesusastraan, seseorang diasah kreativitas, perasaan, kepekaan, dan sensivitas kemanusiaannya, sehingga terhindar dari tindakan-tindakan desturktif, sempit, kerdil, dan picik.

Namun, hakikatnya peran sastra dalam pemebentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran (Hal. 167).

Meski buku ini mencoba untuk memberikan peranan penting dalam menginternalisasi nilai karakter melalui pengajaran sastra, namun penyampaiannya seperti dikejar hantu. Ungkapan-ungkapan dan idenya disampaikan dengan cara tergesah-gesah. Ulasan dan gagasannya kurang begitu maksimal karena pada saat disampaikan masih ada bagian yang dipotong begitu saja tanpa memberi tahu sepenuhnya kepada pembaca. Setidaknya apa yang perlu disampaikan meski hanya berbentuk paparan panjang juga perlu diulas dengan rinci agar pembaca tidak merasa ditekan. Memang sepertinya jika dibaca dengan jeli, ulasan penulis buku ini seakan dikejar dateline dan batas halaman penerbitan.

Namun, pada buku ini, penulis mencoba untuk menguaraikan bagaimana integrasi dan internalisasi nilai-nilai dalam pendidikan karakter melalui pengajaran sastra. Abrams (1981) secara cerdas telah memetakan hal ihwal karya sastra dalam empat paradigma. Paradigma pertama, mengenai sastra sebagai karya objektif (sesuatu yang otonom, terlepas dari unsur apa pun). Paradigma kedua, adalah mengenai sastra sebagai karya mimesis (tiruan terhadap alam semesta). Paradigma ketiga, adalah sastra sebagai karya pragmatis (yaitu memberikan manfaat bagi pembaca). Paradigma keempat, adalah karya sastra sebagai karya ekspresif (pengalaman dan pemikiran pencipta).

Dengan demikian, karya sastra memang memiliki segi manfaat bagi pembaca. Khususnya berkenaan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar pembaca dan penikmat lebih mampu menerjemahkan persoalan-persoalan hidup melalui kesalehan sosial dan kesalehan ritual.

* Peresensi Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis, UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Bisa dikunjungi di:

http://www.rimanews.com/read/20131215/131674/peran-sastra-dalam-pendidikan-karakter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: