Sastra (wan) dalam Ancaman

RADAR SURABAYA _ MINGGU, 1 DESEMBER  2013

Oleh: Junaidi Khab*

Ada suatu hal yang mengiris perasaan saat membuka jendela dunia melalui berita-berita di internet. Nama baik kesusasteraan tercoreng oleh tindakan yang dilakukan oleh seorang sastrawan ternama di Indonesia terkait laporan (Tempo.co: Jumat, 29/11/2013 14:15) atas kasus penghamilan seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FBI UI). Tangan tak kuasa untuk memegang setangkai pena, badan pun runtuh bergelimangan abjad-abjad kehinaan. Sastra seakan berlumuran darah, bukan darah pejuang, tapi darah kotor yang keluar bulanan dari kemalua seorang wanita.

Kabar ini tentu mencoreng reputasi sastra dan sastrawan yang katanya berjiwa idealis dan humanis. Tapi kenyataannya menjadi wahana yang miris, tragis, dan sama sekali tidak etis. Kita memang mengakui perilaku tersebut sebagai bentuk naluri yang manusiawi. Namun meskipun demikian, naluri itu ada tempatnya yang layak dan semestinya menjadi sebuah mahkota yang agung untuk menempuh bahtera kehidupan.

Kemungkinan besar publik akan memicingkan matanya dengan pemberitaan atas nama “sastrawan” melakukan hal yang tidak etis ini. Berbagai anggapan jiwa sastra yang katanya mulia lambat laun akan layu dan lapuk termakan usia syahwat yang semakin tua dan semakin menggerayangi batin manusia. Ada rasa dilema yang menyatakan bahwa sastra mampu menjadikan manusia lebih humanis, tapi kenyataannya kini sastra menjadikan orang sinis dan apatis.

Dalam sebuah kesempatan, mantan menteri pendidikan, Fuad Hasan berkata Kalau mau berperang, kumpulkan seribu sastrawan untuk bicara soal strategi perang yang akan dipakai, nanti hasilnya tidak akan pernah terjadi perang. Apa yang disampaikan oleh Hasan itu, menggaris bawahi bahwa sastra bisa menempa hati yang keras menjadi halus, lembut, dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan (Edi Firmansyah dalam Agus Wibowo, 2013:20).

Mungkin ungkapan Fuad Hasan tersebut memang ada benarnya, namun benar yang berlebihan atas kasus yang menimpa sastrawan tersebut. Kini hati sang sastrawan terlalu halus dan lembut sehingga mudah terjerumus pada kehidupan yang kelam. Ada sebuah keraguan atas pernyataan – sastra bisa menempa hati yang keras menjadi halus, lembut, dan penuh dengan nilai-nila kemanusiaan. Secara logika, eksistensi sastra luput dari kasus yang menimpa sastrawan tersebut. Sastra hanya mampu menempa hati dan tidak bisa menempa kerasnya syahwat yang bersemayam dalam tiap jiwa manusia.

Kasus sastrawan ini harus menjadi cambuk bagi kita semua, utamanya para pecinta seni, budaya, dan karya sastra agar mampu menjaga diri dan introspeksi diri guna tidak terjerembab dan menjerembabkan profesi idealis yang kita pegang. Torehan-torehan mirisnya jangan sampai membekas pada kulit-kulit kita, dan kulit-kulit buku yang akan dilahap oleh masyarakat.

Jalan Kembali

Naluri manusiawi memang akan tumbuh kapan dan dimana saja ketika lawan jenis sudah mulai mendekat. Tentunya perilaku sang sastrawan itu memang naluri seorang manusia yang secara hukum manusia, tidak perlu disalahkan. Namun, kita perlu sadar bahwa kesalahan – naluri manusiawi – ini jangan terus menjadi tren dan tameng untuk menutup celah hitam yang kita perbuat. Sikap bijak, humanis, idealis, dan profesional harus menjadi tambatan utama untuk berlabuh dalam kehidupan ini.

Bagi masyarakat pecinta nilai humanis dan idealis, tentu sang sastrawan akan kehilangan pengagum atau penggemar karya-karyanya. Karya yang sepatutnya mendorong manusia berbuat baik kini sudah ditutupi oleh perilaku yang tidak ideal. Memang ada benarnya – ambillah isinya, dan jangan melihat kulitnya – pepatah yang sering gentayangan dalam kehidupan ini. Tapi ketika kulit sudah lusuh dan kotor, mayoritas masyarakat enggan memungutnya. Di sinilah kiranya sangat penting antara kondisi kulit dengan isi.

Menutup celah serapat-rapatnya dan menempa kembali hati serta syahwat hewani dalam batin ini harus terus dilakukan sebagai upaya kita untuk menemukan jalan kembali pada nilai-nilai idealis dan humanis dalam kesusateraan. Jika hati yang halus dan terlalu lembut, namun syahwat menjadi liar dan kasar, maka sastra seperti yang dituturkan oleh Agus Wibowo tidak akan menemukan titik terangnya. Sastra akan kehilangan taringnya. Sastra akan luntur pamornya oleh kelindan yang tidak ideal lagi dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan.

Jalan kembali menuju pada nilai sastra yang ideal dan penuh dengan makna humanity harus segera kita temukan. Perilaku kehidupan yang kita perbuat hakikatnya merupakan sebuah cerminan dan representasi dari apa yang kita ucapkan atau tuliskan dalam bentuk deretan abjad. Jika kita sudah berada pada ranah dan jarak yang terasa kurang ideal lagi, perlu kiranya mencoba untuk memadukan kembali antara ungkapan dan tindakan yang kita perbuat. Yang mana dalam hal ini sastra telah berhasil masuk ke dalam jiwa-jiwa manusia yang haus ketenangan harus terus distimulasi dengan berbagai perilaku yang mendukung guna menemukan makna kehidupan yang utuh dan penuh kedamaian melalui nilai-nilai dalam kesusasteraan.

Mari kita tempa hati dan syahwat yang keras dengan nilai ideal kesusasteraan yang hakiki. Keseimbangan dalam menempa dua rasa ini perlu menjadi tolok ukur profesinalitas seorang sastrawan. Yaitu dengan menyesuaikan antara ucapan, ungkapan, dan tindakan sebagai cerminan dari hakikat sebuah sastra yang penuh dengan makna idealis dan nilai-nilai humanis.

* Penulis Bergiat di Komunitas Satra UIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Silakan baca lebih lanjut di: RADAR SURABAYA MINGGU, 1 DESEMBER 2013. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: