Rahasia Meraih Husnul Khatimah

BONG-ANG Tuban: Edisi Pertama November 2013

Cover Rahasia Meraih Husnul Khatimah Menyambut Kehidupan Akhirat dengan Mulia (Junaidi Khab)

Cover Rahasia Meraih Husnul Khatimah Menyambut Kehidupan Akhirat dengan Mulia (Junaidi Khab)

Judul               : Rahasia Meraih Husnul Khatimah Menyambut Kehidupan Akhirat dengan Mulia

Penulis             : Abdullah at-Talidi

Penerbit           : Safirah

Cetakan           : I, Juni 2013

Tebal               : 156 Halaman

ISBN               : 978-602-255-158-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kehidupan ini bagi mereka yang berkeyakinan dan beragama akan mengalami penghujung alias kematian. Lalu setelah kematian itu ada kehidupan baru lagi yang tak semua orang mudah meyakini kehidupan pasca-kematian itu kecuali orang-orang yang beriman. Mereka yang mengimaninya dengan berbagai daya dan upaya selalu berusaha menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian itu. Namun terkadang kendala dalam menyiapkan bekal itu juga selalu mengiringinya. Berat, memang berat bekal yang harus diperoleh lalu dibawa sebagai cadangan untuk kelak.

Usaha berat itu sebenarnya sangat ringan dan mudah ketika dipikirkan. Begitu akan direngkuh, sulit bukan main. Itulah bekal yang penuh tantangan dan sarat makna di baliknya. Melihat kegelisahan yang dihadapi oleh mereka yang beriman, Talidi mencoba untuk menemukan jalan menuju bekal itu untuk memudahkan agar bisa direngkuh. Bekal itu tak lain kebaikan. Kelak ketika akan mati yang bisa menemani kita dalam keadaan sakarat di penghujung kehidupan ini. Husnul Khatimah. Itulah yang diinginkan oleh umat manusia yang beriman dengan kematian.

Sebenarnya topik husnul khatimah ini sudah lumrah di kalangan masyarakat. Pada intinya jika ingin mati dengan husnul khatimah, berakhir dengan penuh kebaikan sangatlah mudah dan bagaikan membalikan telapak tangan, yaitu berbuat baik dalam berbagai dimensi kehidupan. Sementara yang menyulitkan untuk meraih husnul khatimah itu tak lain aplikasinya dalam kehidupan ini. Ketika akan berbuat baik terkadang kita berpikir seribu kali. Kalau kebaikan itu menguntungkan diri kita, pasti dilakukan. Tetapi kalau tak mendatangkan keuntungan bagi kita secara realistis, itu pun tidak dilakukan. Padahal secara tidak langsung sebuah kebaikan memberikan sinar kehidupan dan menguntungkan bagi pelakunya.

Salah satu upaya yang ditawarkan untuk meraih husnul khatimah ini tak lain harus zuhud dunia. Dengan kata lain bukan manusia ini menghindari kehidupan dunia dan tak mau bekerja. Memang banyak definisi mengenai zuhud dunia ini. Namun pada intinya kita tak harus rakus terhadap perihal dunia. Karena itu bisa menyebabkan berbagai macam penyakit; sombong, riya’, dan merasa paling kuat sendiri sehingga yang lain kecil dan tak berdaya. Yang tidak diperbolehkan, yaitu mencari harta dunia dengan berbagai cara hingga mencintainya dengan berlebihan (Hal. 43-45).

Untuk melakukan hal yang bernuansa baik terkadang umat manusia, utamanya umat Islam sendiri terlalu fanatik dengan sebuah dalil atau rujukan yang disyariatkan. Sehingga tak heran jika kehidupannya seakan selalu terkekang. Di sini kelemahan fanatisme terhadap sesuatu. Segalanya akan tersa membelenggu. Padahal agama merupakan memberi aturan yang cukup longgar dan tidak mengikat secara keras. Begitu pula dengan istilah zuhud masyarakat sering menganggap tak bekerja dan menghindari dari hal-hal yang berbau dunia/material.

Dalam hal menggapai husnul khatimah zuhud tak lain sebuah usaha untuk menggapai keterikatan hati dengan dunia secara berlebihan. Jika orang sudah melakukan kebaikan dan yang baik bagi orang lain, tanpa susah payah dunia/harta akan dengan sendirinya. Dengan harta itu kita bisa berbuat baik dengan bersedekah, zakat, dan bisa menunaikan ibadah haji. Zuhud bukan segalanya menghindar dari kekayaan, namun menjaga hati agar tidak rakus harta dunia sehingga apa yang didapat berupa harta kita mudah melakukan amal ibadah dengan harta yang kita peroleh di dunia untuk bekal di akhirat kelak.

Sudah sangat jelas jika berbicara tentang husnul khatimah bahwa manusia harus melakukan berbagai macam kebaikan. Yang mana itu untuk menjadi bekal ketika menghadapi kematian. Salah satunya dengan bersedekah dari harta yang kita miliki. Karena orang yang kaya dan yang menumpuk kekayaan adalah orang-orang yang binasa dan rugi. Mereka pada hari kiamat adalah orang-orang yang fakir dari kebaikan-kebaikan, catatan-catatan amalnya penuh dengan keburukan dan sedikit kebaikan. Kecuali orang yang memenuhi hak-hak Allah dengan hartanya dan banyak memberikan sedekah (Hal. 51).

Sebenarnya banyak macam nasehat dan anjuran dalam meraih husnul khatimah, mati penuh dengan amal kebaikan. Buku ini juga mencoba untuk memberikan gambaran tanda-tanda husnul khatimah (Hal. 71) dan menyajikan bahasan yang mirip dengan buku-buku literatur lainnya. Namun ulasan di sini merupakan lebih ringan dan santai dibaca sehingga pembaca mudah menemukan titik terangnya. Eksistensi husnul khatimah tak jauh dari perilaku yang kita kerjakan sehari-hari. Berbuat baik dan sebanyak mungkin melakukan sifat dan perilaku yang terpuji, baik bagi diri sendiri atu orang lain. Karena sejatinya berbuat baik bagi orang lain tak lain merupakan cerminan berbuat baik bagi diri kita sendiri.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: