Membina Pahlawan Berkarakter Pancasila

Duta Masyarakat: Sabtu, 09 November 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Pemuda yang memiliki semangat yang tinggi dan jiwa yang kuat harus kita pupuk agar mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Karena satu-satunya harapan yang bisa kita andalkan membunuh tikus-tikus peliharaan tersebut hanya pemuda yang kemungkinan besar akan mampu membuat tatanan kenegaraan lebih bersih, maksimal serta adil dan makmur.

Eksistensi pahlawan bukan hanya sekedar pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Akan tetapi di balik istilah pahlawan itu sendiri harus ada nilai-nilai yang patut dijadikan sebagai paradigma dalam mewujudkan keberadaan pancasila yang menjadi dasar terbangunnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika refleksi hari pahlawan hanya menjadi sebuah tradisi tahunan dan momen untuk menunjukkan semangat yang fasik dari para pemimpin dengan berbagai kegiatan yang tidak biasa, ini akan menjadi musuh bagi kehidupan bangsa.

Kedudukan pokok Pancasila bagi NKRI adalah sebagai dasar negara. Pernyataan demikian berdasarkan ketentuan Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan: “….maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Jika kita amati dari pembukaan UUD ’45, negara Indonesia ini segalanya didasarkan kepada Pancasila, lebih-lebih sila yang pertama. Namun kenyataannya nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu sendiri rapuh digerus oleh pergolakan zaman yang semakin lama semakin menuntut kehidupan ini untuk lepas dari kaidah-kaidah normatif yang terkandung di dalamnya. Pancasila pada saat ini hanya menjadi simbol negara yang tak lebih dari sebuah kemunafikan belaka.

Ketuhanan vs Keuangan

Hal yang sangat mencolok kebobrokannya ketika sila pertama kita baca seakan-akan ada amandemen tersendiri. Yang mana hal tersebut tidak perlu lagi melihat aspek fungsinya, akan tetapi kita lebih melihat pada akar Pancasila itu sendiri sudah dirapuhkan oleh tingkah pemerintahan kita sendiri. Berbagai kasus di negeri ini hanya didominasi oleh runtuhnya Pancasila pada sila yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai keyakinan dalam beragama kini mulai merosot dari ruh bangsa Indonesia. Sehingga segala aktifitas kenegaraan yang dijalankan di negeri ini hanya bertumpu pada nilai ‘keuangan’ sebagai kepentingan nafsu belaka. Tidak lebih dari itu, nilai ketuhanan yang sebenarnya memiliki peranan penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara agar tercapai kehidupan yang adil dan makmur kini hanya tertinggal selongsongannya saja.

Jika sudah demikian, bangsa Indonesia sedang berada pada titik dimana kehancuran itu akan masuk. Nilai ketuhanan yang seakan sudah berganti ‘keuangan’ menjadi fondasi yang sangat kokoh dalam jiwa bangsa Indonesia. Sehingga tidak pelak jika berbagai kalangan dan pejabat gencar-gencarnya berurusan dengan masalah keuangan yang menyangkut kehidupan orang banyak.

Korupsi salah satu hasil dari terkikisnya sila pertama. Karena Keuangan menjadi Yang Maha Esa, maka tidak dapat dimungkiri lagi keadaan ekonomi bangsa ini akan rusak. Segala hal yang menuju atas masyarakat yang adil dan makmur hanya akan berakhir dengan puing-puing para koruptor saja. Kita lihat saja berbagai persoalan yang melanda negeri kita, konflik di Papua, Mesuji beberapa bulan yang lalu, dan berbagai konflik di nusantara ini hanya faktor kepentingan ekonomi pihak tertentu.

Saatnya Berkiprah

Melihat berbagai kasus di negeri ini seakan-akan pahlawan negeri ini sudah hilang ditelan oleh berbagai kemelut persoalan yang tak kunjung selesai, khususnya persoalan ekonomi masyarakat yang tidak kunjung sejahtera karena di balik itu masih tersembunyi tikus-tikus yang terus menggerogotinya. Ada yang kita tidak sadari sendiri, bahwa tikus-tikus itu sebenarnya kita yang memelihara dan memberi makan di lumbungnya. Hal inilah yang harus dibinasakan melalui peran pemuda dan membinanya supaya berkarakter Pancasila.

Pemuda yang memiliki semangat yang tinggi dan jiwa yang kuat harus kita pupuk agar mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Karena satu-satunya harapan yang bisa kita andalkan membunuh tikus-tikus peliharaan tersebut hanya pemuda yang kemungkinan besar akan mampu membuat tatanan kenegaraan lebih bersih, maksimal serta adil dan makmur.

Dalam UU No. 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok Kepegawaian, tidak ada larangan pengangkatan pejabat bekas terpidana. Namun, dalam UU No. 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok Kepegawaian mengatur, seseorang tidak boleh menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau menjadi pejabat bila dijatuhi hukuman pidana berkekuatan hukum tetap dengan ancaman penjara setinggi-tingginyya empat tahun.

Bukan hanya pemuda sebagai pahlawan yang harus berkiprah untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini. Akan tetapi berbagai kalangan, kabinet negara dan para birokrat harus memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka mensejahterakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila. Kita harus bersikeras untuk tidak memberi peluang dan menjadikan seorang pemimpin atau wakil yang sudah terlibat di berbagai kasus pidana, termasuk tindak pidana korupsi.

Memberi peluang kepada mereka yang sudah pernah terpidana karena berbagai kasus, termasuk yang terlibat dalam kasus korupsi untuk menjabat suatu parlemen kenegaraan atau menjadi wakil rakyat di bidang tertentu (eksekutif, yudikatif, atau legislatif) berarti kita telah mengabaikan amanat rakyat, karena kepala daerah dan para pejabat dibayar dari uang rakyat, kemungkinan besar ini akan menjadikan rakyat kecewa dengan para pemimpinnya. Hal ini juga memberi peluang bagi tikus-tikus piaraan untuk hidup kembali yang akan terus menggerogoti uang rakyat. Dengan demikian, besar kemungkinan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tidak akan teraplikasikan dalam kehidupan bangsa Indonesia serta para koruptor dan kasus korupsi tidak akan terselesaikan.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: