Mau sukses, Muliakan Orang Tua

RADAR SURABAYA _ MINGGU, 13 OKTOBER 2013

Cover Tempatkan Orang Tuamu di Atas Kepala, Nsicaya Mulai Hidupmu! (Junaidi Khab)

Cover Tempatkan Orang Tuamu di Atas Kepala, Nsicaya Mulai Hidupmu! (Junaidi Khab)

Judul               : Tempatkan Orang Tuamu di Atas Kepala, Nsicaya Mulai Hidupmu!

Penulis             : M. Sanusi

Penerbit           : DIVA Press

Cetakan           : I, September 2013

Tebal               : 212 Halaman

ISBN               : 978-602-279-034-1

Peresensi         : Junaidi Khab*

Tiada harta dan tiada apa-apa yang dapat kita berikan atas kasih sayang yang diberikan oleh orang tua kita. Utamanya jasa-jasa ibu sebagai orang tua yang paling dekat dengan kita sebagai anak-anaknya. Sentuhan kasih sayangnya melebihi kasih sayangnya terhadap dirinya sendiri. Sebagai mana ungkapan: “Jika seorang anak terjatuh ke sumur, ibunya tanpa pikir panjang akan melompat untuk menyelamatkannya, namun jika seorang ibu jatuh ke dalam sumur, anaknya akan lari mencari tangga”.

Ungkapan tersebut hanya sebagai kiasan mengenai jasa dan kasih sayang seorang ibu sangatlah besar. Sementara balas jasa seorang anak kepada ibunya tidak seperti kasih sayang yang didapat semenjak masih berwarna merah. Segalah hal dilakukan demi seorang anak. Bahkan demi untuk menghidupi anak-anaknya mereka harus menjual harga diri. Ini sebenarnya bukti kasih sayang seyang seorang ibu, namun dengan jalan yang bertentangan dengan norma. Meskipun hal demikian dilakukan oleh seorang ibu, seorang anak masih ogah-ogahan untuk berbakti dan memuliakannya, bahkan mayoritas mereka durhaka kepadanya.

Kita tentu menyadari bahwa durhaka kepada orang tua adalah akhlak yang tidak terpuji. Namun sangat sulit bagi kita untuk berbakti dan memuliakan orang tua, khususnya ibu. Melalui buku ini kita diajak untuk menyelami makna berbakti dan memuliakan orang tua. Orang tua merupakan elemen penting dalam hidup kita. Tidak jarang kita mendengar seseorang yang sukses dalam karirnya, dapat dipastikan selalu dibarengi oleh restu orang tua. Secara biologis, adanya kita tentunya mustahil tanpa orang tua. Atas kelahiran kita di dunia ini, maka wajib kiranya menempatkan orang tua berada di posisi terhormat setelah pengabdian kita kepada Allah Swt. (Hal. 13).

Sungguh memang sangat sulit kita berbakti kepada orang tua, kecuali bagi mereka yang memilikit watak dan hati yang halus, lembut, dan lentur. Terkadang tekad berbakti memang ada dan tumbuh dalam jiwa ini, namun karena sifat dan naluri yang kita miliki sebagai manusia yang selalu sombong, riya’, ujub, dan berbagai sifat manusiawi yang selalu ego, untuk berbakti tertutupu oleh sifat-sifat bejat tersebut. Dari sini penulis mengajak untuk menayadari hal-hal yang menghambat kita untuk memuliakan dan berbakti kepada orang tua.

Untuk menghilangkan sikap sombong, riya’, ujub, dan sifat buruk lainnya dari dalam diri kita, hendaknya kita senantiasa ingat akan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita. Selain itu, selalu ingat dosa dan tidak bosan untuk selalu berdzikir pada Allah Swt. Dengan begitu, sikap sombong dalam diri akan berubah menjadi cinta kepada siapa pun, termasuk kepada kedua orang tua kita. Dengan mengetahui kelemahan diri, maka akan muncul sikap rendah hati (tawadhu’). Sebaliknya, tidak mengetahui kelemahan-kelemahan diri, kita akan merasa sebagai orang yang lebih dan paling segala-galanya dibanding orang lain (Hal. 96).

Sebenarnya dari buku ini tidak ada hal yang menarik dan aktual untuk dibaca dan diserap oleh jiwa yang lumpuh dari berbakti dan menghormati orang tua. Semua lawas dan sudah banyak buku-buku yang mengulas hal senada. Jika kita lihat penjelasannya memang cukup mudah dipahami karena bahasa yang disampaikan tidak begitu rumit alias lugu. Namun, dengan kehadiran buku ini, pembaca dengan mudah untuk menyadari bahwa introspeksi diri sangat penting guna menumbuhkan gerakan batin untuk menghormati, memuliakan, dan berbakti kepada orang tua. Pada akhirnya kita terantar pada dunia kesopanan dan adab yang baik kepada orang tua. Dengan adab dan kesopanan itulah bisa memberikan ruang bagi kita untuk menemukan jalan yang lurus dan mudah untuk dilalui.

Jika kita tidak bisa menjaga alias mengabaikan adab dan kesopanan terhadap orang tua dan anggota keluarga lainnya, seperti berbuat dengki, iri, hasut, dendam, memutuskan tali silaturrahmi, tidak saling tolong-menolong, dan sebagainya niscaya kita akan mendapat dosa dan hidup kita tidak akan diberkahi dan jalan rezeki yang lurus di hadapan kita akan disempitkan bahkan bisa saja ditutup (Hal. 105).

Ada banyak hal yang perlu kita ketahui dari ulasan buku ini terkait cara berbakti kepada orang tua dan beberapa keutamaan serta manfaat bagi kita agar selalu memuliakan orang tua. Orang tua adalah kunci kehidupan ini untuk mencapai kebahagiaan. Dengan restu orang tua, hati akan damai, perasaan akan tenteram. Selain menyajikan cara berbakti kepada orang tua dan beberapa keuatamaan serta manfaatnya bagi kita, buku ini memberikan beberapa bentuk cerita insprasi mengenai keutamaan memuliakan orang tua hingga menggapai kesuksesan berkat memuliakan orang tua. Tentunya ketika kita sudah memuliakan, menghormati, dan berbakti kepada orang tua, mereka akan selalu mendoakan setulus hati agar kita menemukan jalan hidup yang terang benderang serta kebahagiaan dalam hidup ini.

* Peresensi Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Nisa dibaca di: RADAR SURABAYA ● MINGGU, 13 OKTOBER 2013 . Semoga bermanfaat. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: