Memperbaiki Kesalahan-Kesalahan Guru PAUD

Beranda Solidaritas: Edisi September-Oktober 2013

Cover Kesalahan-Kesalahan Guru Paud yang Sering Dianggap Sepele (Junaidi Khab)

Cover Kesalahan-Kesalahan Guru Paud yang Sering Dianggap Sepele (Junaidi Khab)

Judul               : Kesalahan-Kesalahan Guru Paud yang Sering Dianggap Sepele

Penulis             : Lily Alfiyatul Jannah

Penerbit           : DIVA Press

Cetakan           : I, Agustus 2013

Tebal               : 179 Halaman

ISBN               : 978-602-7695-21-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang sangat mulia. Karena hal tersebut secara tidak langsung mengubah suatu masyarakat agar memiliki wawasan, pandangan, dan kreatifitas yang tinggi guna menyongsong masa depan yang lebih cerah dan mencerahkan. Bahkan dalam kitab ta’limu al-muta’allim disebutkan bahwa guru juga menjadi orang tua kita setelah orang tua asli dan mertua. Begitu mulia seorang tugas seorang hingga dinobatkan sebagai orang tua kita dalam sisi agama.

Namun, seorang guru tidak hanya asal-asalan dengan tugas dan profesinya. Sebagai guru yang baik tentu harus dengan profesionalitas yang tinggi dalam mendidik anak didiknya. Dan hal penting lagi yang perlu dipahami dalam menjaga profesionalitas oleh seorang guru. Yaitu para pendidik utamanya di tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) harus mampu mengikuti dan beradaptasi perkembangan masyarakat karena perkembangan anak didik (lebih-lebih usia PAUD) lebih dominan dan peka terhadap berbagai hal baru yang ada di lingkungan sekitar (Hal. 23).

Model ulasan buku molek ini cukup memberikan apresiasi bagi para pendidik untuk meningkatkan profesionalitasnya dalam bidang keguruan di tingkat PAUD. Tidak semua orang akan mampu menjadi guru yang profesional dan bermoral. Banyak tindakan yang amoral dan ditakuti oleh peserta didik dari beberapa guru. Sehingga mereka lebih cenderung mencurahkan pemikiran dan pergolakan jiwanya melalui jalan yang salah seperti bolos sekolah, membangkang di jalan yang tidak benar, dan selalu mencari cara lain dalam menumpahkan apa yang dirasakan di luar jangkauan guru.

Secara eksplesit ide yang digagas dalam buku ini sesuai dengan takaran penulis yang dikhususkan untuk menyarankan para guru anak usia dini agar mampu meningkatkan profesinalitas yang diembannya. Namun di sisi lain mengesampingkan peran guru dan bentuk penyimpangan yang semestinya tidak berada di lingkungan anak usia dini. Guru yang otoriter bisa mengakibatkan anak didik cenderung menghancurkan milik (hak) orang lain dan fasilitas umum serta anak-anak akan menempuh berbagai cara permusuhan, anarkisme, dan amarah untuk mengungkapkan ketidaksukaannya baik terhadap sikap guru yang otoriter dan kebencian yang dialami dirinya sendiri dengan kebencian atau akibat materi yang disampaikan serampangan (Hal. 27-28).

Secara sederhana anak didik usia dini tak mungkin melakukan permusuhan dan anarkisme yang sangat akut. Namun persoalan yang ditimbulkan oleh ulasan di dalam buku ini lebih mengarah pada bentuk pelampiasan yang mayoritas dilakukan oleh anak usia pendidikan di atas anak usia dini. Sepintas tampak membangun kontra dalam menganalisis problem yang terjadi di lingkungan anak usia dini yang arahnya menuju tindakan yang dilakukan oleh anak di atas usia mereka.

Guru profesional yang diharapkan yaitu mampu beradaptasi dengan anak didik, situasi, kondisi, dan lingkungan sosial. Itu menjadi tujuan utama agar seorang guru mampu mengayomi dan mengerti apa yang sedang bergolak dalam jiwa anak didiknya. Selain itu, untuk menjadi guru yang profesional harus mampu memberikan penampilan dan gaya humoris namun mendidik, menjaga kondusifitas kelas, dan tidak monoton di dalam kelas (Hal. 140-154).

Tak jauh dari itu. Substansinya metode humoris, menjaga kondusifitas kelas, dan tidak monoton di dalam kelas merupakan ilmu yang perlu juga diterapkan di berbagai lini dan jenjang pendidikan. Bukan hanya di tingkat pendidikan anak usia dini. Yang rentan menjadi topik bahasan lebih mengarah pada perilaku dan perasaan orang dewasa bukan anak usia dini yang menempuh pendidikan awal.

Meskipun demikian, juga dijelaskan tentang problem dalam sekolah pada tingkat anak usia dini dan juga hal-hal yang perlu dilakukan dan diamalkan oleh para guru PAUD. Misalkan mendongeng dengan cara dan ciri khas yang unik. Sehingga anak didik pada tingkatan usia dini akan memiliki daya tarik san motivasi tersendiri melalui cerita dongeng yang disampaikan oleh pendidik. Terkadang hal ini yang menjadi kelemahan guru anak usia dini yang terabaikan (Hal. 96).

Akan tetapi, secara umum buku ini layak dibaca oleh para guru dan tutor dalam rangka menjadi tenaga didik yang profesional dan mampu mengayomi anak didik terkait gejolak yang dialami oleh mereka. Namun secara khusus buku ini sengaja disajikan bagi guru tingkat pengajaran anak usia dini yang secara tidak langsung ulasannya lebih umum dan lebih banyak dialami oleh peserta didik selain anak usia dini. Akan tetapi, ulasannya cukup mudah dipahami dan dicerna oleh setiap pembaca.

* Peresensi Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Beranda Solidaritas Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: