Tentang Kebangkitan Orang Mentawai

Lampung Post: Minggu, 17 November 2013

Cover Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai Sebuah Etnografi (Junaidi Khab)

Cover Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai Sebuah Etnografi (Junaidi Khab)

Judul               : Bebetei Uma Kebangkitan Orang Mentawai Sebuah Etnografi

Penulis             : Bambang Rudito

Penerbit           : Gading Publishing

Terbitan           : I, Februari 2013

Tebal               : xxii + 208 hlm.; 14,5 x 21 cm

ISBN               : 978-979-16776-2-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Indonesia merupakan salah satu negera di Asia yang memiliki banyak pulau, banyak pula adat, tradisi, budaya, suku, ras, bahasa, dan seni-seni yang tidak dimiliki oleh beberapa negara di Asia, dan dunia secara umum. Kehadiran keragaman tersebut merupakan bentuk kekayaan nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Inilah salah satu yang menjadikan Indonesia banyak dikenal dan dilirik oleh banyak negara selain dari kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Di Indonesia ada banyak suku yang memiliki banyak budaya, tradisi, dan corak yang khas atas kesukuannya. Misalkan suku Jawa, Sunda, Madura, dan Mentawai.

Kehadairan buku ini merupakan sebuah representasi dari kekayaan Indonesia dari segi budaya yang hidup di etnis suku Mentawai yang terletak di Sumatera Barat. Melalui analisanya, Bambang mencoba menelusuri budaya dan adat yang berkembang di Mentawai sebagai sebuah etnis yang menurut masyarakat termsuk etnis yang tertinggal.

Lebih lanjut Bambang menyebtukan bahwa orang Mentawai adalah sukubangsa yang mempunyai wilayah kebudayaan di Propinsi Sumatera Barat. Berdasarkan peta wilayah kesukubangsaan, sebagian besar wilayah Propinsi Sumatera Barat bagian daratan masuk dalam wilayah kebudayaan sukubangsa Minangkabau. Wilayah kebudayaan Minangkabau adalah luak Limapuluh Koto, luak Tanadatar, luak Agam, dan Kubung Tigobaleh beserta masing-masing daerah rantaunya. Sedang seluruh wilayah kepulauan Mentawai, yang secara administratif, merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera Barat, secara kesukubangsaan masuk dalam wilayah kebudayaan sukubangsa Mentawai (Hal. 8).

Maka dari itu, kebudayaan yang berkembang di Mentawai merupakan gambaran arau pengaruh dari kebudayaan masyarakat Minangkabau. Namun meskipun demikian tentu ada kekhasan tertentu sebagai bentuk dari budaya orang Mentawai meski budayanya dipengaruhi dan didominasi oleh orang Minangkabau. Kita tidak boleh langsung mengebiri kebudayaan tersebut. Karena setidaknya ciri tertentu yang menampakkan orang Mentawai juga terlihat.

Ada banya ciri budaya dan adat yang berkembang dalam masyarakat Mentawai. Misalkan yang cukup terkenal dari kajian buku ini seperti Bebetei Uma, yaitu suatu pranata sosial yang menyeluruh, yang digunakan oleh masyarakat kabupaten Mentawai termasuk yang bukan sukubangsa Mentawai untuk melancarkan segala keinginan dan aktivitas mereka. Upacara ini selalu ada, tak peduli peranan dan status dalam sistem sosial masyarakat Mentawai. Upacara ini menjadi pranata yang penting dalam kehidupan, baik kehidupan jasa (seperti di kantor-kantor kabupaten), pertanian (seperti di Masyarakat Sipora dan Pagai) maupun berladang atau berburu (Hal. 12).

Kajian tentang orang Mentawai mungkin dalam buku ini bisa dikata langka karena Mentawai termasuk daerah terpencil dan tidak maju. Namun meski demikian, mereka tetap melakukan perubahan-perubahan untuk bangkit dan hidup lebih maju. Itu terbukti sudah ada sebagian masyarakat Mentawai yang mulai meninggalkan sebagian tradisi yang berlaku di sana seperti mengikir gigi semenjak anak mulai memasuki dunia remaja dan budaya-budaya irrasional lainnya sedikit banyak mulai ditinggalkan.

Meskipun ada sebagian dari budaya dan adat atau tradisi yang ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai, namun juga ada yang masih dipertahankan keberadaannya. Utamanya adat atau tradisi yang tetap terjaga yaitu Bebetei Uma. Melalui Bebetei Uma lah orang Mentawai memulai kebangkitannya.

Selain itu pula tradisi perkawinan juga masih tetap terjaga guna menghormati nenek moyang mereka. Seperti salah satu contoh: tipe perkawinan ideal yang berlaku di masyarakat Mentawai adalah asimetris yaitu seorang lelaki kawin dengan anak perempuan dari saudara lelaki ibunya. Dari gambaran ini terlihat juga adanya perkawinan yang eksogomi muntoghut. Tetapi pada kasus tertentu, perkawinan juga bertipe simetris. Misalnya pada kasus seorang lelaki yang hendak kawin tetapi tidak punya mas kawin. Dia lalu memberikan adik perempuannya kepada saudara lelaki dari calon istrinya (bride-exchange) (Hal. 72).

Masih banyak contoh adat atau tradisi yang disuguhkan dalam buku ini berkenaan dengan kehidupan orang Mentawai. Pemberian denda (tulou) bagi pelanggar perjanjian seperti persetubuhan dalam satu klan. Prosesi perceraian dengan mencari pihak yang bersalah melalui rotan yang dipotong di bagian tengahnya. Jika rotan yang terpotong lebih panjang, maka yang dianggap bersalam pemegang rotan yang lebih panjang. Namun, jika rotannya tidak putus dalam satu kali tebasan, maka perceraian tidak terjadi. Sungguh unik dan menarik untuk dipelajari dan diketahui!

Buku ini sangat berguna untuk diketahui tentang bagaimana sebuah keyakinan dan padangan hidup yang ada dalam kebudayaan suatu sukubangsa tertentu yang diwujudkan dalam sebuah upacara dipakai untuk menangkal dan beradaptasi dengan perkembangan kebudayaan dari luar lainnya. Sehingga pendukung dari kebudayaan tertentu tersebut dapat hidup langgeng dalam arena kebudayaannya sendiri. Selain itu pula untuk dipakai sebagai sebuah sarana mewujudkan identitas kesukubangsaannya.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan UIN Sunan Ampel Menulis,  UIN Sunan Ampel Surabaya.

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Bisa dibaca di: Lampung Post Minggu, 17 November 2013 Tentang Kebangkitan Orang Mentawai. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: