Profesionalisme Penulis dan Ironisme Media Massa

Republika: Ahad, 10 November 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Republika Profesionalisme Penulis dan Ironisme Media Massa (Junaidi Khab)

Republika Profesionalisme Penulis dan Ironisme Media Massa (Junaidi Khab)

Kata profesional layak dimiliki oleh setiap jiwa yang memiliki keunggulan dan keahlian yang khusus dalam bidang tertentu. Keahlian itu tidak perlu ditawarkan atau menyuruh orang lain untuk mengakuinya. Dengan sendirinya, jika memang seseorang memiliki jiwa profesional, maka secara umum publik akan mengkuinya sendiri tanpa harus dipaksa dan diupah. Itu mungkin kiranya makna dari profesional dalam artian yang cukup sederhana. Pengertian tersebut dapat pula diperluas dengan perspektif yang lain menurut cara pandang kita masing-masing. Seperti yang diungkapkan oleh Ramayulis (2013:28-29) bahwa profesional tak lain orang yang menyandang suatu profesi dan penampilan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Tidak jarang di antara kita ingin menjadi profesional dalam bidang tertentu dan lebih-lebih dalam berbagai bidang ingin digeluti dan berprofesi. Namun sayang, kemampuan kita terbatas. Kita bisa menjadi profesional yang maksimal hanya dalam bidang-bidang tertentu saja. Itu sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita masing-masing. Bahkan terkadang kita tidak menyadari, ingin menjadi profesional namun memaksakan kehendak pihak lain untuk mengakuinya. Hal demikian yang disayangkan. Selain menghilangkan citra pribadi jika diketahui publik bahwa di balik itu semua ada kongkalikong yang kita lakukan juga merusak tatanan profesionalitas yang ada.

Tidak akan jauh-jauh kita membahas tentang profesional. Kita mulai saja dari dunia kepenulisan. Menjadi profesional dalam dunia tulis-menulis juga tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Hal itu membutuhkan proses dan kesiapan dalam menempuh proses yang cukup panjang. Berbagai jalan terjal harus mampu dilalui hingga lulus menghadapi ujian rasa malas untuk terus berkarya dan menulis.

Namun sayang, budaya tulis-menulis yang profesioanl masa sekarang sedikit perlu dipertanyakan. Sebenarnya bukan hanya saat ini saja yang perlu dipertanyakan. Mulai sejak dulu semestinya juga perlu dipertanyakan. Karena tidak semua orang mampu menulis, apalagi menjadi penulis yang bertaraf profesional di level nasional. Saat ini saja karena dipengaruhi globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi, minat tulis-menulis mulai merosot di kalangan remaja dan orang dewasa. Yang mana ini menjadi tuntutan bagi kita semua agar kita terus semangat untuk menulis. Karena dengan menulis itulah kita akan menorehkan sejarah kehidupan bagi generasi berikutnya yang akan datang.

Dalam hal dunia tulis-menulis sangat banyak korelasi dan sumbangsih dari media masaa, khususnya media cetak. Dengan adanya media massa baik cetak atau online, dunia kepenulisan semakin digembor-gemborkan. Peluang untuk profesional melalui media-media itu sudah mulai bisa dinilai dan dirasakan. Hal tersebut bukan hanya saat ini, tetapi semenjak media cetak digagas dan dicetuskan sebagai pembukan cakrawala berpikir dan informasi dunia. Dari sinilah segalanya menjadi terang benderang.

Namun sayang, belakangan ini media massa berubah hasrat yang mana tujuan awalnya sebagai media penerangan melalui dunia tulis-menulis, kini  seiring dengan perkembangan arus politik dan perbisnisan, media massa yang dipandang lebih mengarah pada dunia bisnis dan politik yang mana hanya demi keuntungan sepihak saja, yaitu untuk mengisi kantong kalangan tertnetu. Selain itu, media massa dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan legitimasi dan reputasi di mata publik meski isi beritanya tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Misalkan akhir-akhir ini pada tahun 2013 sudah terdengar isu bahwa ada salah satu media massa yang bersedia memuat karya tulisan publik dengan menerima/meminta bayaran dari penulis (mirip dengan suap-menyuap). Bayaran tersebut disesuaikan dengan pangkat dan jabatannya. Semakin tinggi pangkat atau jabatannya, maka keuntungan media tersebut akan semakin tinggi. Karena jika ingin tulisannya dipublikasikan di media tersebut, pihak penulis harus membayar dengan suka rela. Sebenarnya bukan persoalan jika kita lihat dari dunia bisnis. Penulis diuntungkan dengan dimuat karyanya sehingga reputasi dan legitimasinya semakin kuat di mata publik, begitu pula media tersebut untung dengan memperoleh pendapatan.

Melihat pada isu tersebut saya bertanya-tanya. Bagaimana nanti jika semua media menerima tulisan yang diharuskan ada bayarannya dari pihak penulis? Tentu media-media dan penulis tidak akan profesioanl lagi. Kemungkian dengan bayaran yang tinggi itu, media mau mempublikasikan karya tulisan yang sebenarnya masih tidak berbobot. Hal ini yang sangat disayangkan. Sangat ironis sekali ketika kita melihat pada pesan-pesan di surat kabar yang menyebutkan bahwa wartawannya dilarang menerima atau meminta uang dari pihak manapun. Namun dalam hal ini, medianya sendiri mau menerima suatu karya tulisan dengan bobot bayaran dari pihak penulis.

Padahal semestinya sebagai media massa yang menyajikan beberapa informasi dan gagasan-gagasan publik harus memiliki profesionalitas yang tinggi. Seharusnya media tidak mau menerima biaya, dan lebih-lebih meminta pungutan dari kontributor (penulis). Media harus lebih sportif dan objektif dalam menyeleksi beberapa karya yang layak muat atau tidaknya terhadap karya yang ada nilai profesionalitasnya dan berisi gagasan-gagasan cemerlang. Maka dari itulah, media sepantasnya mau menerima karya-karya yang berbobot yang bisa memberikan pencerahan bagi kehidupan bangsa.

Dengan karya yang telah diambil dan dipublikasikan oleh media  setidaknya penulis merasa bangga karena karyanya dimuat tanpa harus meminta pengakuan dari pihak media kalau karyanya itu berbobot yang menunjukkan bahwa penulis memiliki nilai profesionalitas yang tinggi. Selain itu pula, setidaknya media memahami untuk mengapresiasi penulis dengan karyanya yang telah dimuat. Dengan apresiasi tersebut, penulis akan lebih semangat untuk menelurkan ide-ide cemerlangnya. Bukan hal yang begitu penting bagi penulis makna sebuah label profesional dari publik. Namun hal yang sangat penting, yaitu karyanya tersbut benar-benar berbobot sehingga pihak media melalui filterasi dan seleksinya mau menerbitkan karya tersebut.

Perlu ditegaskan kembali bahwa jika media mau menerima suatu karya tulisan dengan pungutan dari pihak kedua, maka profesionalitas penulis belum bisa diakui. Dan kemungkinan besar media akan menjadi bomerang kehancuran dengan mudahnya menerima pungutan dari pihak kedua, hingga media kelak bisa disogok oleh kaum kapitalis demi kepentingan pribadi saja. Jika sudah demikian, citra media akan tercoreng dan profesionalisme penulis akan sirna dengan sendirinya. Mari kita selamatkan media dan para penulis serta profesionalitasnya dalam membangun kehidupan bangsa melalui dunia tulis-menulis dan jurnalistik.

Media massa merupakan pilar demokrasi dan jembatan rakyat kepada pemerintah. Dengan adanya media massa, segala aspirasi rakyat bisa sampai pada wakil rakyat. Maka dari itulah kita jaga nama baik media massa dan pertahankan eksistensinya sebagai penyambung napas rakyat bawah.

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: