Rembulan

Koran Tempo: Minggu, 27 Oktober 2013

Oleh: Zaim Rofiqi

SISUINEJ jatuh hati, Sisuinej jatuh cinta pada putri tiriku: Rembulan. Dan aku tahu, cintanya tak bertepuk sebelah tangan: Rembulan juga mencintainya.

Dalam usia yang telah setua diriku, aku tahu, tak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Setiap peristiwa, ada sebabnya; setiap kejadian ada karena kejadian lainnya. Demikian juga cinta Sisuinej: benih-benih asmara yang tumbuh dalam dirinya tak muncul tiba-tiba, cintanya pada Rembulan muncul karena berbagai kejadian sebelumnya. Dan sebagaimana yang umum diketahui oleh makhluk-makhluk yang telah setua diriku, makhluk-makhluk yang telah mengenal betul pahit-manis, suka-duka, kehidupan di dunia, cinta hanya bisa ada karena pertemuan, cinta hanya bisa muncul karena saling kenal, cinta hanya bisa tiba karena percakapan. Pendeknya, dalam hal cinta, pepatah lama tanah Jawa ini selalu terbukti kebenarannya: witing trisna jalaran saka kulina, cinta datang karena terbiasa-terbiasa bertemu, bicara, percaya, dan seterusnya.

Sebagaimana orang-orang pada umumnya, pada mulanya Sisuinej tidak begitu mempedulikan Rembulan-meskipun, aku tahu, Rembulan sangat memperhatikannya. Seperti umumnya orang di kampungnya yang kumuh, apa yang lebih sering menyibukkannya adalah keluarga, pekerjaan, dan hal-ihwal lain yang berhubungan dengan uang.

Dari kesibukan dan kebiasaannya selama ini, aku tahu ia terbiasa pulang dan sampai di gubuknya sekitar isya, antara pukul tujuh dan delapan. Menjelang atau setelah isya, aku hampir bisa memastikan Sisuinej akan muncul di ujung gang bersama gerobak birunya yang bertuliskan “Mie Ayam Pangsit,” berjalan menuju gubuknya. Kadang ia muncul dengan wajah yang begitu cerah dan ia mendorong gerobak itu dengan begitu bersemangat, seolah-olah ia sudah tak sabar untuk segera sampai di gubuknya dan bertemu anak-istrinya. Kadang ia muncul dengan wajah kusut-semrawut, seolah habis melakukan sebuah perjalanan panjang yang begitu melelahkan, dan raut mukanya seperti berkata bahwa ia telah begitu lelah dan ingin segera rebah.

Begitu sampai di gubuknya, ia biasanya langsung merebahkan diri di atas sebuah dipan bambu di dalam satu-satunya kamar yang ada di gubuknya. Untuk beberapa saat ia biasanya hanya terbaring, mungkin ingin segera melepaskan lelah. Lazimnya, istrinya akan segera menghampirinya sambil membawa segelas kopi atau teh. Kadang, atau sering, ia langsung memeluk istrinya itu dan menggumulinya di atas dipan bambu beralas tikar untuk beberapa saat. Kadang, atau sering, istrinya sedikit memberontak dan memintanya untuk mandi atau mencuci muka dulu sebelum menggumulinya. Namun sering kali Sisuinej mengabaikan saran istrinya itu dan langsung saja memeluk dan menciuminya. Setelah itu, ia biasanya mandi, lalu bermain-main dengan putri tunggalnya, sementara istrinya membereskan barang-barang di gerobaknya sebelum kemudian menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Setelah makan malam, mereka biasanya langsung menonton siaran televisi bersama hingga sang buah hati tertidur, dan ketika putri tunggalnya itu telah terlelap, Sisuinej lazimnya menggunakan kesempatan itu untuk kembali menggauli dan menciumi istrinya selama yang ia dan istrinya suka.

Namun kebahagiaan dan kemesraan seperti itu ternyata berlangsung tak lama. Berangsur-angsur, semuanya berubah. Seiring dengan semakin dewasanya sang buah hati, kebutuhan hidup Sisuinej pun bertambah. Dulu, sebelum sang putri tercinta itu masuk sekolah, penghasilannya dari berjualan mi ayam-kadang ia juga sesekali menjadi makelar sepeda motor-bisa dibilang cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Ia bahkan kadang bisa menyisihkan uang untuk ditabung hingga ia bisa membeli sebuah televisi kecil. Namun setelah muncul tambahan biaya untuk uang sekolah, seragam, buku-buku pelajaran, dan biaya-biaya lain yang terkait dengan sekolah putrinya, Sisuinej pun jadi kelimpungan. Mereka pun harus benar-benar berhemat. Imbasnya, kadang dalam sehari ia dan istrinya hanya makan dua kali, itu pun dengan lauk yang seadanya.

Kesulitan hidup Sisuinej ini menjadi lebih parah karena keadaan yang juga berubah: permintaan untuk memakelari penjualan sepeda motor sudah amat sangat jarang. Selain itu, jumlah penjual mie ayam di kampungnya juga bertambah: jika dulu hanya ia dan Mat Tabot yang berjualan, kini Fasni dan Isal juga berjualan barang yang sama. Bertambahnya jumlah penjual mie ayam di kampungnya itu berarti meningkatnya persaingan, dan hal ini sangat mungkin juga berarti menurunnya pendapatannya.

Dan memang apa yang dikhawatirkan Sisuinej terjadi. Tak seperti dulu saat ia hampir selalu pulang dengan gerobak yang kosong, setelah Fasni dan Isal ikut berjualan mi ayam, dagangannya nyaris tak pernah habis. Imbasnya, ia dan istrinya mulai kebingungan mengatur keuangan rumah-tangganya. Istrinya mulai sering mengeluh karena uang yang ia berikan tak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan mereka bertiga ditambah biaya sekolah putrinya. Jika sudah mulai mendapat keluhan dari istrinya, Sisuinej biasanya hanya diam, meski kadang ia juga berusaha menenangkan istrinya dengan berkata, “Mudah-mudahan besok rejeki yang kita dapat lebih banyak.”

BEBAN hidup Sisuinej yang mulai terasa berat jadi tambah berat saat suatu ketika putri tercinta mereka tiba-tiba sakit. Pada suatu Minggu sore, jika aku tak salah ingat, setelah bermain bersama anak-anak sekampungnya, badan sang buah hati itu tiba-tiba sangat panas. Bibirnya pucat membiru, selalu terkatup rapat, dan hanya terbuka sedikit saat batuk memaksa kedua bibir kecil itu membuka. Melihat hal ini, tentu saja Sisuinej dan istrinya panik. Tanpa menunggu lama, ia dan istrinya segera membawa putrinya ke klinik terdekat. Meski akhirnya lega setelah diberi tahu oleh dokter bahwa putrinya hanya menderita panas demam biasa, namun ketika sampai di gubuknya, masalah baru segera menghadang Sisuinej: dari mana ia mendapatkan uang belanja untuk berjualan mi ayam yang tadi telah ia gunakan untuk membayar dokter? Apakah besok ia tak berjualan? Dari mana mereka bertiga makan jika besok ia tak berjualan?

Sisuinej menghampiri istrinya yang terbaring di samping putrinya dan bertanya apakah dia punya simpanan yang bisa ia gunakan untuk berbelanja bahan-bahan mi ayam besok? Mendengar pertanyaan itu, istrinya malah menangis lalu memeluk erat putrinya. Melihat hal ini, Sisuinej segera ke luar kamar, lalu duduk meringkuk di belakang gubuknya. Ia berpikir keras tentang siapa kira-kira orang yang bisa ia datangi untuk meminjam uang. Akhirnya, wajah Mat Tabot terbayang di kepalanya, dan ia pun segera bergegas mendatangi rumah tetangganya itu.

Sejak banyak hal dalam hidupnya berubah menjadi lebih buruk, kehidupan rumah-tangga Sisuinej tak pernah sebahagia dulu lagi. Jika dulu sepulang berjualan mie ayam ia selalu dihampiri istrinya dengan senyuman, kini yang didapatinya adalah wajah muram istrinya, dan hawa gubuknya yang penuh kemurungan. Istrinya pun mulai sering menolak saat sepulang kerja Sisuinej berusaha memeluknya dan menggumulinya. Aku juga mulai sering mendengar kemarahan dan omelan istrinya saat dia mendapati gerobak Sisuinej masih berisi barang-barang yang tak habis terjual. “Apa aku harus ikutan kerja, ha?”, “Laki kalo gak becus cari uang ya bukan laki!”, “Mosok tiap hari tak pernah habis! Mau makan apa kita!” Mendengar kemarahan dan omelan istrinya ini, Sisuinej biasanya hanya diam, atau menghampiri si kecil dan mengajaknya bermain-main sambil berusaha sebisa mungkin tak menanggapi omelan istrinya itu.

Perubahan kondisi rumah-tangganya ini tentu saja sangat berpengaruh pada kebiasaan Sisuinej. Jika dulu ia biasa pulang sekitar isya, kini, mungkin karena sangat ingin mendapatkan uang yang lebih demi memenuhi kebutuhan keluarganya, ia sering kali muncul di ujung gang bersama gerobaknya dua atau tiga jam lebih lama. Jika dulu ia muncul di ujung gang dengan wajah yang kadang terlihat sumringah, kini tiap kali terlihat di ujung gang, wajahnya bisa kupastikan muram. Jika dulu saat pulang ke gubuknya ia bisa sedikit senang karena bisa langsung rebahan ditemani secangkir kopi atau teh buatan istrinya dan diberi kesempatan menggumuli istrinya sesukanya, kini yang sangat sering dijumpainya adalah gubuknya yang dalam keadaan sepi, dan apa yang kemudian sering ia lakukan adalah duduk tercenung di depan atau belakang gubuknya dengan hanya ditemani secangkir kopi atau teh yang ia buat sendiri.

Ada kebiasaan lain Sisuinej yang sangat sering kulihat setelah kehidupannya jadi tambah berat: ia jadi sering melamun. Ya, sejak rumah-tangganya tak sebahagia dulu lagi, sejak istrinya lebih sering mengomelinya dan bersikap dingin terhadapnya, sejak putrinya mulai dihinggapi penyakit, aku jadi sering melihatnya murung, duduk sendirian di depan atau belakang gubuknya, sementara matanya menatap jauh ke cakrawala, seperti tak menatap apa-apa.

Dari kebiasaan baru duduk tercenung sendirian, aku curiga, Sisuinej mulai menjalin hubungan dengan putri tiriku, Rembulan. Sering, saat istrinya mulai datang amarahnya karena uang yang ia berikan kepadanya tak seperti yang dia harapkan, Sisuinej menghindar dan apa yang ia lakukan adalah duduk meringkuk di belakang gubuknya, tercenung, melamun, hingga amarah dan omelan istrinya reda. Sering juga di dinihari buta, saat pekat kelamku menyeragamkan dan membungkam seluruh perkampungan kumuh itu, Sisuinej tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dan apa yang ia lakukan adalah membuat segelas teh atau kopi, lalu duduk tercenung sendirian di depan atau belakang gubuknya. Pada saat-saat ia tercenung, melamun, sendirian inilah aku sering mendengar ia menggumamkan hal-hal yang tak aku mengerti artinya, hal-hal yang sepertinya sangat pribadi, hal-hal yang aku yakin tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun, termasuk kepada istrinya sendiri.

Pernah, suatu ketika, saat ia sedang duduk tercenung di belakang gubuknya, putri tunggalnya terbangun, lalu menangis. Setelah beberapa saat tak berhasil ditenangkan istrinya, sang buah hati itu akhirnya ia ajak untuk ikut menemaninya duduk di belakang gubuknya. Setelah berhasil meredakan tangisnya, Sisuinej berusaha menghibur sang buah hati itu dengan menunjuk-nunjuk ke putri tiriku yang saat itu sedang bulat sempurna. “Tuh lihat, di langit bulan cantik banget, pengen gak ayah ambilkan bulan?” Putrinya mendongak, menatap ke cakrawala: “Kok cantik, Yah? Emang bulan itu perempuan ya?” Sisuinej sedikit terhenyak mendengar tanggapan anaknya itu, dan hanya menjawab: “Ya, rembulan adalah perempuan yang kesepian. Mau nggak ayah ambilkan bulan?” Mata anaknya berbinar: “Mau.”

PUNCAK kesulitan hidup Sisuinej, aku kira, terjadi saat suatu ketika aku mendengar harga barang-barang naik, akibat naiknya harga bahan bakar minyak. Beberapa waktu setelah itu, putrinya jatuh sakit: badan si buah hati itu mendadak sangat panas, bibirnya pucat membiru, kini disertai sesak nafas dan kejang-kejang. Sisuinej dan istrinya panik: uang yang mereka miliki telah habis untuk membeli bahan-bahan untuk berjualan mie ayam. Mereka bingung harus membayar dengan apa jika harus ke klinik. Sisuinej berpikir sejenak lalu segera meninggalkan gubugnya, melesat mendatangi Mat Tabot, Fasni, Isal, dan beberapa tetangganya yang lain untuk meminjam uang. Namun hasilnya nihil: mereka juga sedang mengalami kesulitan keuangan. Akhirnya, ia dan istrinya tak jadi membawa putrinya ke klinik, dan hanya mengompresnya dengan es batu yang dibalut selendang agar panasnya turun. Namun upaya ini tampaknya tak membuahkan hasil: panas putrinya tak juga menurun. Beberapa saat kemudian, badan sang buah hati itu malah semakin panas, dan dari mulut mungilnya mulai keluar busa. Melihat hal ini, Sisuinej dan istrinya tentu saja semakin panik. Akhirnya mereka memutuskan untuk nekat membawa si kecil ke klinik terdekat, meskipun ia sama sekali tak punya uang untuk membayar ongkos pengobatan. Namun, di atas ojek, dalam perjalanan menuju klinik, sang buah hati itu mengembuskan napas terakhirnya.

Kematian putri tunggalnya ini tampaknya sangat memukul istri Sisuinej, hingga setelah peristiwa itu istrinya nyaris tak pernah lagi bicara kepadanya. Selain terus mengomelinya, istrinya juga sering seenaknya mengatakan bahwa kematian sang buah hati itu adalah karena kesalahannya. Kondisi seperti ini tentu saja membuat Sisuinej jadi tambah sering menyendiri, tercenung, melamun, kadang bahkan sambil menggumamkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu yang tak begitu jelas bagiku. Dalam berbagai gumamnya, aku sering mendengar ia menyebut-nyebut nama putrinya, Bunga, dan nama putri tiriku, Rembulan. Pernah, suatu ketika, saat omelan dan racauan istrinya terdengar mengoar keras dari dalam gubuknya, aku melihat Sisuinej duduk menggumamkan sesuatu sendirian di belakang gubuknya, wajah dan matanya menatap jauh ke angkasa, sementara tangannya melingkar ke depan dadanya seperti sedang memangku sesuatu atau seseorang: “Tuh cantik banget, kan? Bunga masih pengen gak ayah ambilkan bulan?” “Ya udah, Ayah janji, nanti pasti Ayah ambilkan.”

Setelah putrinya meninggal, Sisuinej praktis hidup sendirian: istrinya jadi sering pergi entah ke mana, dan pulang sesuka hatinya. Pernah beberapa kali Sisuinej mencoba bertanya mengapa dia jadi sering ke luar rumah dan ke mana, namun istrinya lebih sering hanya diam dan mengabaikannya, dan ketika menjawab pun, apa yang keluar dari mulut istrinya adalah amarah.

Mungkin karena merasa tak punya daya untuk menghalangi istrinya-sejak kematian putrinya, istrinya praktis tak pernah lagi meminta uang kepadanya-akhirnya Sisuinej hanya menyibukkan dirinya dengan tetek-bengek yang terkait dengan usaha mie ayamnya. Meskipun dari hari ke hari aku lihat Sisuinej semakin jadi pendiam, ia masih setia mendorong gerobak birunya itu ke luar dari perkampungan kumuhnya sebelum sinar matahari pertama terlihat di angkasa. Meskipun hari demi hari aku lihat wajahnya semakin kusut, namun menjelang atau selepas isya aku masih dapat memastikan ia muncul di ujung gang, berjalan terseok melewati jalanan tak beraspal menuju gubuknya.

Ya, kesibukan berjualan mi ayam ini masih terus dijalaninya selama sekitar dua atau tiga minggu setelah kematian putri tercintanya, hingga suatu ketika, saat pulang dari berjualan, ia mendapati gubuknya telah kosong melompong. Istrinya tak ada, dan hampir seluruh barang di gubuknya itu lenyap. Sisuinej segera memeriksa kamarnya, dan di sana praktis sudah tak ada apa-apa: yang tersisa hanya tiga buah baju, sebuah celana panjang, dan sebuah celana pendek miliknya. Mengetahui hal itu, Sisuinej tentu saja sangat terkejut dan kelabakan. Ia segera mendatangi beberapa tetangganya untuk menanyakan apakah mereka tahu di mana istrinya berada, namun mereka semua menggelengkan kepala.

Untuk beberapa saat ia mencoba menerka-nerka ke mana istrinya pergi, namun ia sama sekali tak punya gagasan tentang tempat yang mungkin dituju istrinya. Ia mencoba mengingat-ingat, namun seingatnya ia atau istrinya sama sekali tak punya sanak atau saudara di ibu kota. Tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia pun lalu hanya merebahkan diri di atas dipan. Rasa lelahnya setelah seharian berjualan semakin menjadi-jadi saat tahu kini ia benar-benar sendirian. Lama ia hanya merebahkan badan, dan apa yang ia lakukan hanyalah melamun, menerawang ke keluasan langit yang membentang seperti tak berbatas. Matanya yang mulai basah menatap jauh ke angkasa. Beberapa saat kemudian, sebuah benda di kelam cakrawala mengusiknya. Matanya yang tadi terlihat kosong kini terlihat sedikit bercahaya dan mengarah pada satu benda di angkasa: Rembulan. Ia tampak seperti baru menyadari bahwa di angkasa putriku sedang bulat sempurna dan terlihat begitu anggun memesona. Ia masih terus merebahkan badan sambil memandang dan hanya memandang putri tiriku itu. Mungkin tanpa disadarinya, sebuah nama terucap pelan dari mulutnya: Bunga. Beberapa saat kemudian ia bangkit dari dipannya, berjalan ke belakang gubuk sambil membisikkan gumam pelan: Aku harus pergi, ya, pergi meninggalkan gubuk ini, kampung ini, meninggalkan semua ini. Aku harus pergi menepati janji untuk putriku tercinta.

Sesaat sebelum Sisuinej memutuskan meninggalkan semua yang ada di sekelilingnya, sesaat sebelum ia pergi demi menepati janji untuk sang buah hati tercinta, sebuah suara menggema di dalam batok kepalanya, dan mungkin hanya aku yang mendengarnya:

Jalan-jalan yang telah ditinggalkan,
bayang-bayang pepohonan dan rerumah,
pintu-pintu yang tertutup-
Aku melihat rembulan menjelma sesosok perempuan,
yang membuka susunya, dengan lembut, di tepi atap sebuah gubuk.

Di bawah, bumi biru,
sebuah sungai penuh bayang-bayang yang diam.
Sebuah daun, juga sekejap gelembung, mengambang
dan kemudian pecah, dengan lembut.
Pucat, semua pucat, sangat pucat, pelan, lembut.
Anggur yang dingin itu,
tertuang ke dalam gelasku,
dan mawar-mawar di tanganmu, Rembulan, juga botol dan gelas,
terlihat seperti ringkasan
sebuah mimpi, yang mandek, untuk sesaat.
Dan kemudian semua itu meleleh, dengan lembut.
Sekali lagi, hatiku kini menjanjikan cinta, yang lembut.
Kau berkata, “Kecup aku, namun dengan lembut.”
Rembulan, sambil mengembuskan napas saat dia turun perlahan, berkata:
“Lagi, tapi yang lebih lembut.”

Jakarta, 2013


Catatan
Puisi di atas berjudul Vista karya Faiz Ahmed Faiz, penyair Pakistan (1911-1984). Dikutip dengan sedikit variasi dan tambahan.

Zaim Rofiqi tinggal di Jakarta. Buku kumpulan puisinya, Lagu Cinta Para Pendosa (2009), dan buku kumpulan cerpennya, Matinya Seorang Atheis (2011).

Sumber: http://koran.tempo.co/konten/2013/10/27/325811/Rembulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: