Perempuan di Jurang Waktu

Riau Pos: Ahad, 27 Oktober 2013

Oleh: Fakhrunnas MA Jabbar

Pagi-pagi sekali Darina membenahi rumah. Lalu mempersiapkan sarapan di meja makan.  Emaknya membantu semampunya karena usia yang kian renta.

Apalagi akhir-akhir ini sang emak agak sakit-sakitan. Kadangkala mengurusi dirinya sendiri pun sudah payah. Sementara ayah Darina yang sudah tujuh tahun ini menjalani masa pensiun, tak terlalu peduli dengan urusan dalam rumah itu. Di usia tuanya, ia terbiasa duduk santai sambil membaca koran pagi di ruang tengah.

Agak tergesa-gesa Darina melakukan tugas-tugas itu. Ini memang agak lain dari biasa. Tapi  sang emak tak begitu  hirau lagi. Ia tampaknya sudah maklum.

Betapa keinginan Darina untuk pulang kampung dapat mengobati luka hatinya. Pingitan yang dilakukan sang ayah dengan berbagai aturan yang ketat -semisal tak boleh keluar rumah sekadar memperluas pergaulan dengan kawan-kawan semasa sekolah dulu atau menghadiri pesta- membuat Darina begitu terkepung.

Meski keluh-kesah itu diungkapkannya pada emak, tapi tak kuasa menantang tembok besar yang diciptakan ayahnya sejak lama.

Di usianya yang kian rawan, 30 tahun, memang membuat Darina selalu gelisah. Sejak menamatkan SMAnya, Darina tak dapat menikmati kebebasan masa mudanya.

Sang ayah terlalu ketat memagarinya. Lebih lagi, tak ada teman lelaki yang bakal datang bertamu ke rumah karena ayahnya selalu menatap dengan mata yang bernyala.

Darina tak kuasa berbuata apa-apa. Oleh karena itulah, niat pulang kampung lebih bermuara pada pelampiasan kebebasan yang ingin diraihnya daripada sekadar bernostalgia menatap sawah berjenjang atau bermandi-mandi di sungai yang bening di dekat rumahnya.

Darina melewati hari-hari sepinya di dalam rumah. Ia merasa bagaikan seorang pasien tanpa nomor di ruang tunggu praktik dokter.

Entah kapan gilirannya tiba untuk dipanggil. Darina benar-benar kosong dari segalanya. Sementara Adibah, adiknya yang terpaut tiga tahun di bawahnya, sudah lama meninggalkan rumah itu. Adibah hidup berbahagia bersama suami dan dua anaknya yang jelita.

Dalam pandangan orang sekampungnya, usia Darina yang beranjak jauh itu terkesan kurang terpuji. Usia 30 tahunan bagi seorang perempuan sudah terbilang perawan tua. Dan kenistaan atas perawan tua betapa sulitnya mendapatkan jodoh. Kalau pun ada biasanya laki-laki yang sudah beristri atau tubuhnya cacat.

Darina selalu membayangkan hal itu dengan penuh kecemasan. Perasaannya benar-benar dihantui oleh bayangan yang menakutkan. Baginya, matahari sudah menjelang pukul enam petang. Sebentar lagi malam bakal tiba. Di tengah kegelapan nasib itu, Darina tak sudi menempuhnya. Diam-diam Darina pun membenihkan rasa benci pada sang ayah yang tak begitu peduli lagi atas dirinya.

Darina benar-benar merasa berada di jurang waktu. Sekali ia jatuh terjerembab ke dasar curang itu, habislah segalanya. Tak ada yang bersisa kecuali kekecewaan hidup yang tak tertebus. Lebih-lebih lagi kekecewaan itu diukir sang ayah  sejak masa-masa belianya.

Berkali-kali Darina mencoba lari begiru saja dari rumah, tapi kesadaran lain muncul begitu mengenang emaknya yang kian tua. Siapa lagi yang bakal mengurusi emak  bila ia tak ada lagi di rumah itu? Darina bagaikan berhadapan dengan banyak anak panah yang setiap saat siap melesat ke tubuhnya.

‘’Sudahlah…berhati-hati saja. Siapkan dirimu. Pasti ada risiko bila ingin membuat sebuah perubahan…’’ kata emaknya dengan tenang saat Darina hampir merampungkan kerja rumah sepagi itu.

‘’Tapi, kini memang sudah saatnya. Kalau kamu tidak memulainya, menunggu siapa lagi?’’ lanjut sang emak makin melecut semangat Darina untuk secepatnya meninggalkan rumah dan tajamnya pandangan ayah.

Tapi secepat itu pula terbayang bagaimana ayahnya bakal marah besar apabila keberangkatannya pagi itu tanpa memberitahu lebih dulu. Ini di luar kelaziman. Di luar tata-krama yang sudah dianut di lingkungan rumah  itu bertahun-tahun.

Selaku perempuan yang melintasi masa-masa rawan, Darina pun menginginkan suami. Bersuami bukan hanya sekadar mendapatkan perlindungan tetapi lebih mengarah pada tuntutan untuk menanggalkan sebutan perawan tua.

Lebih tertuju pada upaya menepis perbualan orang sekampung tentang gadis cantik yang terus termakan usia ibarat tapai yang kebanyakan ragi sehingga menyebarkan rasa asam.

Terus terang, Darina ingin bersuami secepatnya. Mana tahu, peluang pulang kampung itu dapat menukar pandang. Mana tahu pula, ada lelaki di kampung yang bersimpati padanya.

Darina tahu pasti bahwa dirinya bukannya tidak cantik. Saat masih di SMA bukannya tidak ada lelaki yang terbilang rumpun keluarga yang ingin meminangnya. Tapi, semuanya ditepis begitu saja oleh ayah dan emaknya karena memang belum masanya.

Malam sebelumnya Darina memang sudah bertekad bulat untuk meninggalkan rumah itu. Apalagi emaknya telah memberikan restu secara diam-diam. Makin dibayangkannya bagaimana Adibah, adiknya, begitu berbahagia dengan suaminya, maka berbuncah-buncahlah hatinya untuk segera berlalu.

Ia juga sudah begitu ingin menimang-nimang bayi atau dibelai sang suami. Diakuinya kalau Adibah memang lebih beruntung karena persis setahun setelah menamatkan SMA-nya, tiba-tiba datang lamaran dari pihak keluarga sepupunya yang sudah bekerja di sebuah perusahaan pertambangan.

Adibah memang sangat beruntung. Adiknya itu bagai tak pernah melewati hari-hari penuh kerangkeng di dalam rumah karena cepat dibawa pergi suaminya. Sementara Darina benar-benar terperangkap terlalu jauh.

Mengenang masa-masa penuh pingitan itu membuat Darina makin mempertegas sikap pemberontakannya. Keberanian muncul begitu sang emak memberikan dukungan diam-diam. Semakin cepat tugas-tugas membersihkan rumah dilakukannya semakin kuat pula tekadnya itu untuk segera pergi.

‘’Berkemaslah segera, Ina,’’ bisik emaknya saat berada di dapur.

Darina tersenyum dan bergegas ke kamar mandi. Makin bersiap diri, Darina makin berdebar. Andaikan ayahnya tahu pemberontakan yang akan digelarnya.

‘’Emak sudah siap menghadapi ayah?’’ tanya Darina saat terakhir kali menatap wajah perempuan di usia senja itu.

Sang emak mengangguk dan menebar senyum bahagia.

‘’Emak  memahamimu. Kamu harus mengambil sikap yang pasti,’’ tutur emak yang berhati lembut itu.

Tiba-tiba Darina mendekap emaknya. Airmatanya mengalir pelan-pelan. Pelukan Darina terasa begitu kuat karena tak kuasa membayangkan betapa luhur dukungan sang emak.

‘’Terimakasih, emak. Doakan aku…’’ ucapnya terbata-bata.

‘’Perbekalanmu sudah lengkap?’’ tanya emak.

Darina mengangguk.

‘’Tiket?’’

‘’Juga sudah, mak. Katanya, keberangkatanku pada trip kedua. Sekitar setengah jam lagi.’’

‘’Tenang saja. Emak mempersilakan ayahmu sarapan dulu. Nanti, hati-hati ke luar…’’ pesan emak  masih dengan suara pelan.

Sang emak meninggalkan Darina di kamarnya. Berdebar-debar Darina menanti detik-detik yang menentukan itu. Tapi, beberapa menit emaknya berlalu, tiba-tiba ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Sang ayah langsung menghakiminya.

‘’Sudah hebat kamu sekarang. Sudah berani memberontak. Kurang ajar kamu!’’ bentak sang ayah mulai tak terkendali.

Tiba-tiba sang emak  muncul dengan gemetar. Apalagi saat menatap suaminya yang sedang marah.

‘’Kalian bersekongkol untuk melemparkan aku dari rumah ini. Aku dinilai sudah tak berharga lagi. Aku dianggap tak menentukan lagi. Aku…’’ suara sang ayah tersedak karena menahan luapan kemarahan yang makin liar.

‘’Tak ada maksud kami untuk…’’ suara emak  Darina tersendat-sendat.

‘’Sudahlah…segalanya sudah nyata. Aku sudah dianggap tak berarti lagi di rumah. Silakan pergi sesuka kalian. Silakan saja.’’ Suara ayah Darina masih tetap keras dan lancang. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Tubuhnya gemetaran. Tiba-tiba ia terhuyung dan rubuh di lantai.

Darina dan emaknya serempak menjerit. Kecemasan langsung menyelubungi keduanya. Apalagi mereka jadi ingat kalau sang ayah sudah sejak lama mengidap darah tinggi.

‘’Ayah…ayah…!’’ suara Darina terbata-bata membangunkan sang ayah yang tak sadarkan diri. Begitu pula emaknya berlinangan airmata sambil memeluk tubuh besar yang kini kian lunglai itu.

Tubuh sang ayah berubah jadi dingin. Jantungnya telah berhenti. Darina menangis sejadi-jadinya.

‘’Maafkan aku ayah…’’ bisik Darina di telinga ayahnya yang tak mendengar lagi. Segalanya diam.

Kepergian sang ayah bagi Darina kini jadi perbancuhan benci dan kasih. Betapa ayah yang selama ini mengurungnya di rumah telah menumbuhkan benih kebencian itu. Tapi sesungguhnya, Darina begitu membutuhkan sang ayah. Apalagi, misteri sikap sang ayah yang begitu mengekangnya terjawab saat tak sengaja Darina menemukan buku harian sang ayah di antara deretan buku di lemari.

Berulang-ulang, Darina membaca bagian akhir buku harian yang berkait langsung dengan dirinya:

‘’Aku mencintai kalian semua. Ya, istriku, Darina dan Adibah. Sudah kodratnya, anak perempuan harus pergi saat bertemu jodohnya. Adibah sudah berlalu lebih dulu. Aku merasa bagaikan burung yang patah sebelah sayapnya. Tinggal Darina sendiri. Andaikan Darina juga pergi dan berlalu, patahlah kedua sayapku.. Dan aku tak bisa terbang karena kehilangan kedua anak perempuanku yang terkasih. Aku dan emak kalian akan jadi orang tua lapuk yang kesepian Seorang istri rasanya belum bisa memenuhi relung-relung kebahagiaan seutuhnya. Aku butuh kalian semua…’’

Airmata Darina mengalir bak sungai di pipinya yang ranum. Emak yang dari tadi menyaksikan dari jauh, datang mendekapnya. Buku harian yang sedang terdedah itu pun cepat-cepat dikatupnya.***

Pangkalan Kerinci, 02/2013

Sumber: http://www.riaupos.co/1562-spesial-perempuan-di-jurang-waktu-.html#.UmzGgFPabgk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: