Pengantar Mayat

Riau Pos: Ahad, 29 September 2013 – 08.58 WIB

Oleh: Riza Multazam Luthfy

Baiknya, kuperkenalkan kau kepada seseorang yang sangat penting dalam hidupmu, sebelum ajal benar-benar hinggap di tengkuk.

Meski uban belum menghuni kepalamu yang subur, meski garis-garis keriput belum merayapi kulitmu yang lindap, meski rabun dan pikun belum mengendap di mata dan pikiranmu, meski batuk disertai darah hitam-kental belum muncrat dari mulutmu yang kerap bersumpah serapah itu, kusarankan agar kau mengenalnya terlebih dahulu.

Ya, kau tak akan merugi jika mulai sekarang nama, pekerjaan serta alamat orang ini genap menempel di otakmu. Syukur-syukur termasuk juga nomor HP-nya. Toh, cuma perlu secuil tempat untuk menancapkannya di bagian sudut hard disk kiriman Tuhan itu, jika dibanding dengan jumlah utang perusahaanmu, atau barang-barang permintaan istrimu ketika ulang tahunnya ketigapuluh dua, atau berpuluh nama gadis simpanan yang mesti kau hafal satu persatu di luar kepalaagar tak tertukar di antara mereka, atau bahkan dengan ibu dari anak-anakmu. Itu artinya, kau melakukan hal yang berarti bagi perjalanan hidupmu: menyiapkan kematian jauh-jauh hari.

Hingga, ketika bosan bertahan di dunia, kau bisa menghubunginya dengan menelepon atau sekadar mengirim SMS. Dan, ia akan datang dengan segera; dengan baju compang-camping, rambut awut-awutan, dan wajah yang boleh dikatakan lebih mirip setan ketimbang manusia. Tapi…

Tapi apa?

Barangkali kau akan melotot sambil melongo, terheran-heran, saat mengetahui bahwa siapapun pengundang orang ini, orang yang kusembunyikan namanya dari tadi, malah bergembira. Bergembira dengan gigi-gigi berjongkok diam, gemetaran, sebab menahan biji tawa supaya enggan lepas dari sarangnya. Bergembira lantaran salah satu keluarganya akan mati tenang serta dalam keadaan jauh dari nestapa. Bergembira karena harta warisan bakal dibagi secara serampangan, tanpa menaruh khawatir jika arwah si pewaris bakal gentayangan.

Baiklah. Daripada kelamaan merahasiakannya, buka lebar-lebar dua telingamu! Akan kusingkap kedoknya. Bukan terlalu capai berbasa-basi denganmu, namun lebih karena aku melanting kasihan melihat alismu berulang kali berjingkat, sesetel matamu berkilat-kilat, memendam pertanyaan siapa sebenarnya orang yang kumaksud.

Mudrik. Namanya Mudrik. Kasim Mudrik lengkapnya. Eit, simpanlah pertanyaanmu, jika kau berhasrat bertanya asal-usulnya. Sebab, tak seorang pun mengetahui. Tak seorang pun mengetahui jika ia, entah dilahirkan oleh dan di batu, oleh dan di air, oleh dan di udara, atau oleh dan di api. Emmm… Tapi, kupikir ia tidak semisterius itu. Ah, peduli apa aku, juga kau, dengan siapa dirinya sebenarnya. Karena yang terpenting darinya bukanlah siapa ibunya, dari mana ia berasal, atau bahkan namanya sekalipun.

Jadi, maksudmu?

Yang terpenting dari orang ini adalah track-record-nya. Semua orang yang ingin bahagia hingga di kehidupan kedua, termasuk kau, maka wajib mendengar penuturanku tentang dirinya. Agar secepatnya kau mencatatnya sebagai orang yang teramat istimewa bagimu, melebihi lainnya, bahkan istri atau anakmu. Juga uang tabungan di luar negeri, di mana tiada seorang pun mengendusnya, kecuali dirimu sendiri.

Mudrik. Kau tahu? Ia hanyalah pengantar mayat. Ia datang ke rumah duka untuk menggerung-gerung sambil mencakar-cakar lantai di samping mayat yang baru saja meninggal. Ia akan memilih mendekatsedekat-dekatnyake mayat. Lantas dengan suara yang menyayat, ia menangis sejadi-jadinya. Siapapun mendengar tangisannya, tentu akan turut serta mengalirkan air mata. Tak jarang, sebagian di antara mereka akan memekik, menjerit dengan suara pilu membabibuta; mengabarkan kesedihan kepada alam semesta.

Ia akan terus menangis sampai seluruh keluarga si mayat berkumpul, untuk kemudian bersama-sama mengantarkan ke rumah abadi. Dan, enggan ia menghapus ratapannya kecuali jika anak pertama si mayat sudah berada di dekatnya. Jadi, jikalau selama bertahun-tahun, anak pertama si mayat belum juga muncul, maka lelaki dengan sorot pandang tajam dan cambang yang lecek itu akan tetap menangis. Menangis dengan suara menggelegar, mirip petir buncit waktu menyambar pohon beringin di tengah alun-alun kota hingga tumbang. Kalau itu terjadi, maka pasti ia memerintahkan agar penguburan mayat ditunda, hingga seorang yang dinanti-nanti betul-betul nampak batang pantatnya.

Bukan tanpa alasan jika Mudrik berbuat demikian. Menurutnya, anak pertama merupakan pewaris sekaligus penerus cita-cita orang tua. Anak pertama memanggul tanggung jawab berat untuk melanjutkan perjuangan ayah-bunda. Anak pertama dilahirkan guna memimpin dan mengarahkan adik-adiknya. Anak pertama ditumbuh-besarkan demi mengharumkan nama keluarga. Itulah mengapa Mudrik berkecek, seorang ayah atau ibu yang meninggal dan di kubur tanpa diantar oleh anak pertama, maka mustahil keduanya bisa merasa nyaman dan tenang di alam baka.

O, ya, dari tadi belum kujelaskan mengapa para pengundang Mudrik bisa begitu gembira dengan kehadiran sosok mengerikan sekaligus menyenangkan itu. Dan, inilah yang perlu kau camkan! Ia, Mudrik, lelaki dengan tindik di pusarnya itu, selain meratap dan mengantar mayat sampai kuburan, di tengah perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhir tersebut, ia juga bertugas menyebarkan guntingan kertas-kertas mungil berwarna hijau muda. Di kertas itulah terpahat kalimat ringkas, menggambarkan keadaan lahir atau batin si mayat, yang ia baca keras-keras dengan sesekali mendongak ke atas.

Sebelum membuntuti mayat menuju loka baru, ia akan menuliskan satu atau dua baris kalimat guna menerangkan profil mayat yang sedang diiringi. Barang tentu dalam menuliskan kalimat tersebut, ia mengekor saja kepada pemesan. Apabila pemesan mengharapkan agar si mayat dikenang mulia dan luhur budi, maka Mudrik, misalnya, akan mengguratkan pena, menggoreskan kata-kata: ‘’Inilah orang yang ketika hidupnya selalu berbuat kebajikan, menolong yang lemah, giat mendermakan harta kepada para janda.’’ Pun sebaliknya, jika mungkin ada seorang anak bernafsu supaya sang ayah dinilai oleh tetangga dan kolega sebagai dursila, maka Mudrik dengan ringan tangan akan menulis demikian: ‘’Inilah orang yang rajin berbuat nista, doyan mengelabui manusia, bertindak culas hingga akhir hayatnya.’’

Guntingan kertas-kertas mungil yang ditulisi dan dirapal berulang kali sebelum sampai di kuburan tersebut, masih kata Mudrik, merupakan kesaksian bagi si mayat. Kesaksian apakah ketika tinggal di dunia, seseorang berperan selaku pahlawan atau penjahat, berperangai baik atau gemar maksiat, berkalung martabat atau bosan dihujat. Kesaksian itu menjadi catatan terakhir bagi malaikat sebelum dilaporkan kepada Sang Pencipta Kodrat. Entah berdasar kitab apa, pokoknya Mudrik meyakini bahwa dengan kesaksian itulah, bisa diterka adakah seseorang yang meninggal mengalami kebahagiaan yang sangat atau mengunyah penderitaan berlarat-larat.

Tergantung pemesan?

Tergantung pemesan. Kalimat apapun yang diinginkan pemesan pasti akan ditulis oleh Mudrik. Tak ayal, jika akhir-akhir ini berbondong-bondonglah orang memanfaatkan jasanya. Sebut saja Lumoto, anggota DPR yang sudah dua kali menjabat dan sedang terbelit kasus korupsi. Nekat ia menguras kantongnya, demi menghendaki supaya kertasnya kelak berbunyi: ‘’Inilah anggota dewan yang bijak dan suka membela hak-hak rakyat.’’ Atau Karidmah, mantan artis yang tersandung kasus pembunuhan terhadap ulama tersohor di Jakarta. Rela ia menghadiahkan tiga rumah mewahnya sekaligus, dengan syarat Mudrik mau memberi kesaksian: ‘’Inilah wanita salihah, berbakti kepada agama, selalu sayang kepada sesama.’’ Atau Pikemboh, penyair gaek yang rajin menenggak bir. Tiga bulan lalu, naik motor renta, ia berkunjung ke rumah kokoh menghadap jalan. Di kediaman Mudrik itu, di senja yang agak kusam itu, ia berjanji menghadiahkan seluruh buku antologinya, puisi-puisi liarnya, termasuk juga cadangan imajinasinya, apabila sang pengantar mayat tersebut bersedia mengecapnya: ‘’Inilah penyair yang benar-benar penyair. Penyair yang mencintai kata di atas segalanya.’’

Dan, sekali lagi, baiknya kau mengenal aku, sebelum akhirnya memamah penyesalan. Sebelum akhirnya kedudukanmu kurongrong dari dalam, kehormatanmu kuhajar habis-habisan, kewibawaanmu sedikit demi sedikit kurontokkan, ketenaranmu kuhilangkan, nyawamu kuhabisi pelan-pelan. Dan, ketika nyaris sekarat itulah, jangan lupa tekan 085649773437.

Itulah nomorku, nomor Mudrik yang cukup sangar dan disegani oleh para psikopat itu!***

Yogyakarta, 2012

Riza Multazam Luthfy
Menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media, seperti Kompas, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Lampung Post, Koran Jakarta, Jurnal Nasional, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Joglo Semar, Bali Post, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Riau Pos, Sriwijaya Post, Surabaya Post, Radar Surabaya, Malang Post, Radar Malang, Radar Bojonegoro, Sumut Pos, Padang Ekspres, Haluan, Sumatera Ekspres, Jurnal Medan, Analisa, Banjarmasin Post, Waspada, Serambi Indonesia, Satelit Post, Kendari Pos, Majalah Basis, Majalah Sagang, Majalah Sabili, Majalah Annida, Majalah Cahaya Nabawiy, Okezone.com, Kompas.com, dan Radarseni.com. Cerpennya juga tergabung dalam antologi Negeri Sejuta Fantasi (2012). Ia adalah ahlul mahad Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Sedang melanjutkan studi di program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Sumber: http://www.riaupos.co/1502-spesial-pengantar-mayat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: