Indonesia Raya

Riau Pos: Ahad, 25 Agustus 2013 – 07.21 WIB

Oleh: Musa Ismail

Kabut, banjir, dan gempa silih berganti.

‘’Kita telah kehilangan. Kehilangan! Sudah sebulan, Indonesia Raya tak kelihatan. Aku sudah mencari ke sana-ke mari, tetapi tetap saja nihil. Ayo, coba katakan, apakah kalian melihatnya. Di pasar, di kampung, di kota, di kantor, di perusahaan, bahkan di sekolah juga tidak aku temukan. Ayo, katakan siapa yang melihatnya?’’ Jabar menundukkan kepalanya sambil tersengguk-sengguk menahan tangis. Ketika itu, dia teringat peristiwa 17 Agustus beberapa tahun lalu. Yang dia lihat, paskibra mengusung keranda, bukan membawa bendera. Paskibra menggantung mayat di ujung tiang bendera, bukan benderanya.

‘’Kita benar-benar rakyat yang tidak bertanggung jawab. Hanya menjaga satu Indonesia Raya, kita tak mampu. Bahkan, kita selalu bertengkar sesama sendiri. Bertengkar sesuatuyang kadang-kadang sangat sepeledan sering diakhiri dengan pertumpahan darah. Kita telah kehilangan. Memang kita telah kehilangan benda berharga.

‘’Mengapa kita tidak mempertaruhkan darah untuk Indonesia Raya? Mungkinkah Indonesia Raya telah dicuri oleh orang yang tidak dikenal? Oh, kita benar-benar manusia tolol!’’ mata Jabar merah bagai si kaki botol yang sering lalu lalang di sepanjang malam pasar ini. Tetapi, malam ini begitu sepi. ‘’Bagaimana kita akan bersemangat kalau Indonesia Raya tidak berdaulat lagi?’’ karena terlalu lama berbicara, suara Jabar bagai tercekik. Malam sepi melahirkan gema pada setiap ucapannya.

Purnama meredup.

Masyarakat tumpah-ruah malam itu. Kini, pasar tak hanya sepi, tetapi hening. Mereka hening karena heran, mengapa kepala kampung begitu histeris sebab kehilangan Indonesia Raya. Renyai hujan di malam itu tak menghentikan keheranan mereka. Renyai itu juga tak mampu mengganjal kehisterisan Jabar. Berbolak-balik sambil bersuara menyemangati warganya agar segera menemukan kembali Indonesia Raya.

‘’Ke mana Indonesia Raya, Pak? Ke mana akan kami cari? Semua orang kehilangan. Bukan kita saja di Sumatera, tetapi juga di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Madura, dan sebagainya juga menangis karena kehilangan. Bahkan, di sekolah, anak-anak kita tak bersemangat lagi untuk menyanyikan semangat Indonesia Raya,’’ sekonyong-konyong Bu Ramlah, seorang guru seni di salah satu sekolah menimpali kesedihan kepala kampungnya.

Resah berkepanjangan.

Bukan cuma kepala kampung atau Bu Ramlah yang merasa aneh. Hutan, lautan, dan udara pun menangis. Komodo, gajah, harimau, dan garuda juga. Warga kampung apalagi. Air mata mereka nyaris kering menyesali peristiwa itu. Padahal, mereka tahu bahwa menyesal kemudian tiada berguna. Namun, apa hendak diperbuat selain menyesali kehilangan Indonesia Raya di tengah peringatan Sumpah Pemuda.

‘’Apa kita tidak malu dengan tetangga? Kita sepertinya tak mampu menjaga Indonesia Raya,’’ Jabar berkeluh-kesah lagi.

‘’Bapak tak sepatutnya hanya berkeluh-kesah. Jangan sampai mencari kambing hitam. Benar atau tidaknya warga, bergantung pada pemimpinnya,’’ Chandra protes karena keberatan dengan sikap Jabar yang kurang bijak. Chandra memang begitu. Kritis, sok hebat, dan agak pintar juga. Buktinya, dia menjadi dosen.

‘’Sekarang, kita harus melangkah ke jalan keluar yang mana?’’ matanya menatap Jabar.

Meskipun menantang mata Chandra, Jabar hanya diam.

‘’Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,’’ imbuhnya sambil berpikir apa yang semestinya bisa dilakukan.

Semuanya diam. Sebagian kecil saja, warga berpikir sesuatu. Lebih banyak hanya menung tak tentu bagai keledai. Padahal, mereka tahu bahwa Tuhan meletakkan sebagian kemuliaan manusia pada ketika mereka memanfaatkan pikirannya. Bukan cuma membawa otak, tetapi berjalan sambil memanfaatkan otak. Namun, begitulah yang terjadi dengan sebagian besar warga kampung ini. Jabar juga sudah berkali-kali mengingatkan warganya agar selalu berpikir positif tatkala menghadapi masalah apapun, termasuk masalah yang rumit ini.

‘’Saya yakin ada seseorang atau sekomplotan orang yang mencurinya. Ini tak bisa kita biarkan. Berbahaya buat kampung kita. Kita mesti mencari tahu siapa dalangnya,’’ Chandra membuka kemungkinan.

‘’Tapi, bagaimana caranya? Apa kau mencurigai seseorang atau sekomplotan orang itu, Chan?’’  kening Jabar  bergerak pelan.

‘’Belum. Aku belum menemukan matlamat ke arah itu. Aku cuma  memikirkannya,’’ lama juga Chandra menanggapi pertanyaan Jabar.

‘’Masalah ini bukan persoalan sepele. Aku jadi psimis dengan sikap kita. Kita terkesan kurang peduli dengan Indonesia Raya. Menyanyikannya saja kita kurang becus. Kita lebih hafal dengan lagu-lagu tren terkini. Kalau menyanyikan saja  kurang becus, bagaimana kita bisa mengelola  Indonesia Raya dengan benar?’’ Bu Ramlah bersuara tinggi.

‘’Maksudmu, aku tidak becus, gitu?’’  muka  Jabar sedikit aneh.

‘’Bukan begitu. Maksudku, kita. Bukan cuma Bapak,’’ tepis Cikgu itu.

‘’Aku setuju itu,’’ tiba-tiba Chandra bersuara.

Jabar menjeling Chandra.

Bu Ramlah merasa di atas angin karena dukungan Chandra.

***

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Sudah tak terhitung lagi peluh yang jatuh. Warga kampung ini memang tidak lagi tahu dan tak paham Indonesia Raya. Bukan hanya tidak paham makna, mereka bahkan tidak hafal. Alasannya sudah lupa dimakan usia. Karena alasan itu pula, Cikgu Ramlah mati-matian melatih para siswanya untuk menghafal dan memaknai Indonesia Raya di tengah badai kehilangan. Bahkan, setiap Senin, mereka menyanyikannya, tetap saja ada kehilangan. Jiwa Indonesia Raya laksana sudah lepas dari raganya. Mereka selalu lemah.

‘’Mungkinkah nasionalisme itu mulai pudar?’’ pikir Cikgu Ramlah ketika itu. Panas telah mengubah mukanya menjadi agak merah. Bertambah panas karena para siswanya semakin lepas dari jiwa lagu itu. Asal bernyanyi tanpa makna, tanpa jiwa. Kosong bagai kaleng-kaleng minuman ringan yang baru habis diteguk dan dilemparkan begitu saja di tengah terik yang menyiksa tanpa rasa bersalah karena telah merusak lingkungan. Suara-suaranya hanya bergemuruh tanpa isi bermakna.

‘’Ananda tahu, ini marwah kita. Akankah marwah ini kita injak atau kita biarkan begitu saja hilang dicuri. Atau hilang oleh kebodohan sendiri. Sungguh kita akan menjadi warga yang tak mengenang sejarah. Ananda semua inilah yang harus mempertahankan  Indonesia Raya. Sekarang, ke mana akan kita cari kehilangan ini?’’ Cikgu Ramlah terus menceramahi siswanya seperti berbicara dengan tembok. Hanya gema merembes di beberapa sisi tempat para siswa itu berdiri.

‘’Siapa yang salah atas kehilangan ini, Bu?’’ salah seorang siswa ingin tahu.

‘’Tak perlu kita mencari kambing hitamnya. Yang terpenting, kita cari siapa  pencurinya dan kita dapatkan kembali jiwa itu,’’ Cikgu Ramlah memberikan pengertian yang belum tentu dimengerti siswanya.

‘’Tapi bagaimana caranya,’’ tanya siswa lain pula. ‘’Bukankah  beberapa waktu lalu upaya itu sudah dilakukan. Hasilnya belum dapt juga,’’ lanjutnya.

Kali ini, waktu bagai pedang laksana menebas-nebas leher warga. Nyaris sepuluh tahun ini warga tak peduli lagi dengan  Indonesia Raya. Semuanya nyaris cuek. Nyaris semuanya putus  asa. Padahal, mereka paham bahwa berputus asa  itu dilarang Allah, yang menyayangi setiap usaha kebaikan hamba-Nya. Namun, kehilangan marwah ini bak ditelan sesuatu yang gaib. Rasa bingung melengkung di cakrawala perkampungan ini. Kampung yang selalu bersemangat ini seperti telah kehilangan geliga sakti, kekuatannya.  Karena itu, warga berunding lagi malam kemarin untuk melakukan pencarian.

Ini entah upaya pencarian yang ke berapa ratus kali. Warga bergentayangan seperti tiada harapan. Langkah lunglai terus menerobos semak belukar, bahkan hutan. Sementara itu, beberapa kampung di seberang sana, terus saja berselisih paham, berbunuhan, bermusuhan, dan berperang. Darah tumpah. Air mata tergenang. Duka mengalir. Kesengsaraan tertawa. Para  setan tersenyum riang.

‘’Jika kehilangan ini tak kita temukan, darah akan terus tumpah, air mata akan terus menggenang, duka mengalir terus, dan para setan semakin senang karena merasa menang,’’ rasa iba menggantung di muka Jabar yang mulai keriput. ‘’Apa yang akan terjadi dengan kampung kita ini nanti?’’

‘’Itu artinya, kampung kita juga akan menjadi seperti kampung di seberang itu, Pak?’’ seorang pemuda terperangah.

‘’Aku tidak berharap begitu. Semoga aja tidak.’’

‘’Kalau Indonesia Raya ditemukan apakah akan aman?’’

‘’Ya, setidaknya kita masih punya harapan jika ditemukan.’’

Warga kampung saling pandang. Semuanya memikirkan kemungkinan, apakah bisa ditemukan atau tidak. Apakah kampung ini akan mengalami kehancuran atau tidak? Bayang-bayang mengerikan itu terus saja menggantung di cakrawala kampung. Semuanya kian cemas jika dalam waktu dekat belum juga ditemukan.

‘’Aku tak percaya itu. Mana mungkin karena kehilangan Indonesia Raya kita akan menuai kehancuran,’’ terdengar suara-suara berbisik ketika pencarian berlangsung. Mereka masih terus mencari dan melangkah dalam kelam.

Sudah sekian jauh warga melangkah. Mereka melapah semak dan melawan kelam hutan. Dalam sekebat harapan, warga terus saja melapah.

‘’Saudara, di depan ada cahaya. Mungkin di sana ada harapan. Mari kita bergegas,’’ Jabar menyemangati.

Semuanya semakin bersemangat. Mereka ingin dengan cepat tiba di titik cahaya itu. Semakin dekat, titik cahaya itu kian membesar. Harapan warga pun semakin kuat. Sambil bersuara menyemangati, mereka berlari. Titik cahaya itu kian menganga dan mereka tiba pada ujung pencarian. Semuanya terkejut. Semuanya geram.

‘’Hidup korupsi. Hidup kemiskinan, kemelaratan. Hidup adu domba. Hidup narkoba. Hidup pengkhianatan. Hidup anarki. Hidup kebodohan. Hidup ketidakjujuran. Matilah hukum. Matilah oranga miskin. Matilah akal sehat. Matilah kejujuran.’’

Tulisan-tulisan itu menggantung di setiap gedung megah seperti DPR, istana, lapas, sekolah, kementerian, pengadilan, dan terus merangkai-berjalin satu dalam satu siluet yang mengerikan. Tulisan di kain rentang itu berkibar dengan bangganya, berkilau-kilau memendarkan cahaya dan memantulkannya kembali hingga ke kampung-kampung.

Warga kampung lesu. Indonesia Raya entah ke mana. Dengan langkah gontai, mereka mundur. Kain rentang di gedung-gedung megah itu kian bercahaya, berkilau-kilau, dan berkibar bangga.

Indonesia Raya merdeka-merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.

Gelap.***

Musa Ismail
Adalah sastrawan Riau yang telah banyak menghasilkan karya sastra berupa sajak, cerpen dan esai. Saat ini tercatat sebagai guru SMAN 3 Bengkalis.

Sumber: http://www.riaupos.co/1417-spesial-indonesia-raya.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: