Ia yang Menyimpan Api di Hatinya

KOMPAS: Minggu, 21 April 2013

Oleh: Yetti A.KA

MAURA membiarkan kancing bajunya tetap terbuka, meski ini bulan Agustus yang dingin. Angin badai berembus di luar. Beringas. Mematahkan beberapa cangkah dahan belimbing atau batang ubi kayu di belakang rumah. Terdengar suara seng yang seakan mau lepas. Meneror. Menusuk-nusuk pendengaran Maura yang terus waspada. Terus berpikir kemungkinan seseorang tengah mendekat ke arah rumah, menggedor pintu keras-keras sambil meneriakkan namanya dengan suara yang kasar.

“Kau tidak mungkin berani pulang. Tidak mungkin.” Maura memandang nyalang pada gorden yang bergerak-gerak tiap kali angin menembus celah kecil jendela, “Sebaiknya kau memang tidak pulang. Kau tidak tahu bagaimana aku menyimpan marah bertahun-tahun. Sesak. Kau tidak mengerti bagaimana cara aku melewatinya, dan berulang-ulang memaafkanmu. Sesak sekali. Sungguh, aku bisa saja mencekikmu jika saja kau ada di depanku sekarang.”

Angin badai terus saja berisik sepanjang malam. Maura merasa kedinginan. Tapi ia tetap bersikeras tidak akan menutup dadanya. Dada yang siang tadi diremas pemilik laundry tempat ia bekerja satu bulan ini—tempat kerja barunya setelah ia memilih berhenti di toko roti. Dada yang kemudian disulut rokok di beberapa bagian—tentu sesudah ia diperkosa secara brutal dan tubuhnya dibikin babak belur oleh suaminya yang memaksa ia menceritakan kejadian pelecehan yang membuat ia menangis pelan dan membuka semua kancing baju setiba di rumah sore tadi dengan sangat marah.

“Kau memalukan.”

“Dia lelaki keparat.”

“Kau menjijikkan.”

“Dia bajingan.”

“Kau murahan.”

“Dia binatang.”

Mata Maura bertatap sengit dengan suaminya. Mata teduh itu telah berubah merah. Ia bukan lagi Maura yang biasanya menangis diam-diam di atas tempat tidur setiap kali lelaki itu habis memukuli, menuduh, dan menghakiminya.

“Kau jalang!” umpat suaminya geram saat keluar pintu. Lelaki itu masih mengumpat-umpat sepanjang jalan. Ia ingin mengeluarkan semua serapah yang masih tersisa. Mau menunjukkan betapa ia lelaki yang terpukul karena ulah pemilik laundry itu, dan lupa kalau Maura justru yang paling terluka.

Sekarang sudah larut malam, lelaki brengsek itu tidak mungkin pulang di tengah serangan angin badai yang mungkin saja menumbangkan pohon-pohon di pinggir jalan. Badai yang membuat siapa pun tidak mungkin nekat berada di luar kecuali seorang pemabuk yang sedang teler dan ingin merayakan hidupnya sambil bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Lelaki itu bisa jadi sedang mabuk berat di kedai minuman. Namun ia bukan jenis orang yang suka merayakan hidup dengan cara seperti itu. Ia hanya akan berada di kedai. Bermain-main dengan gadis muda si pelayan kedai hingga akhirnya tertidur di atas bangku atau lantai.

Maura merasa lega saat ia mulai memikirkan lelaki itu tidak mungkin pulang. Ia kelelahan, lalu tidur dengan kancing baju yang tetap terbuka—sebab ia marah.

***

Dan dalam tidurnya itu Maura melihat dirinya berumur lima belas tahun menangis ketakutan di samping rumah dengan dinding-dinding lembab berlumut tipis. Ia sedang sembunyi dari kejaran ibu yang ingin memukulinya dengan tangkai sapu. Seluruh tubuh Maura gemetar, seolah-olah ia akan segera pecah berkeping-keping. Bola matanya berkeliling liar, mirip pencuri yang waswas tertangkap tangan. Tidak. Ibunya tidak mencarinya hingga keluar rumah. Maura menyandarkan badan di dinding dengan mata melihat ke langit sambil menyesali kenapa ia mesti memecahkan mangkuk kesayangan ibu. Ibu menyayangi semua perabot dapur melebihi apa atau siapa pun di rumah. Maura tahu itu cara ibu mengatasi ketidakbahagiaannya. Cara ibu menjalani hari-harinya agar ia tidak terus- menerus menyumpahi bapak yang sering bermalam di rumah pelacuran. Cara ibu mengalihkan cinta yang menghancurkan harga dirinya.

Cara ibu itu lalu membuat Maura sering gugup dalam situasi apa pun, di mana pun. Maura yang menjadi penakut. Maura yang terus-menerus merapatkan kedua tangan di dada sembari menundukkan muka dalam-dalam bahkan saat seharusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Maura yang setiap saat selalu merasa akan dipukuli ibu, dipukuli bapak, dipukuli kakak, dipukuli teman-teman kakak, dipukuli teman-temannya.

Maura yang kemudian begitu ketakutan pada teman kakak yang menciuminya ketika ia sendirian di rumah. Maura yang takut payudaranya dipegang kakak karena ia begitu tidak berdaya. Maura yang hampir diperkosa, entah oleh siapa, pada malam sepi di kamar mandi dekat dapur, dan itu membuatnya menggigil berhari-hari, dan ia tidak berani mengatakan apa pun pada ibu yang bila marah suka memorak-porandakan apa pun yang ada di dekatnya. Maura yang teramat pengecut—yang sesungguhnya sangat ingin ia lupakan!

Tidak. Tidak. Maura bukan sedang mengarang cerita. Tubuhnya memang sering digerayangi kakak bersama teman-temannya. Kakak yang tertawa-tawa. Teman-teman kakak yang terbahak mirip orang sinting. Bapak juga begitu bila mabuk dan pulang tengah malam, berteriak kasar memanggil nama ibu. Karena ibu sudah tertidur (atau pura-pura tidur?) Maura yang membukakan pintu. Di depan pintu itu bapak sering mendekap tubuh Maura. Maura meronta-ronta, membuat ibu terbangun. Ibu selalu mengira Maura mengalami mimpi buruk atau terserang penyakit yang membuat orang berjalan ketika tidur.

“Kau mulai gila,” tuduh ibu.

Maura menciut, ngeri.

“Semua orang di rumah ini mulai gila,” kembali ibu berkata. Maura makin tersudut.

“Seharusnya kau tidak membuat keributan malam-malam begini!” bentak ibu, gusar. “Kau tahu, kita sungguh-sungguh bisa mati dalam kegilaan,” ceracau ibu disambung dengan tangisan histeris yang lebih menyeramkan dari cerita hantu di kuburan. Kemudian cepat sekali ibu telah berlari ke dapur, mengambil sapu, dan memukuli Maura dengan tangkai sapu itu. Keributan itu berakhir ketika ibu kehabisan tenaga, terduduk lemas; menangis sepanjang sisa malam di sisi bapak yang sudah mendengkur di lantai yang, sekali atau dua kali, menyebut nama pelacur yang begitu ia cintai.

Dalam tidur yang gelisah itu, Maura terus melihat dirinya tumbuh membawa hati yang tidak sempurna. Hatinya yang terlanjur sumbing. Retak di mana-mana. Suatu kali ketika ia genap berumur delapan belas tahun, ia menjenguk ke dalam hatinya itu di kamar yang gelap, namun anehnya ia mampu melihat apa pun, maka ia terpekik menemukan bayi-bayi api berdesak-desakan di sana. Mereka sedang belajar mendesis. Lidah mereka yang kecil menjulur-julur, berkilat merah. Cepat-cepat Maura menutup rapat hatinya. Itu rahasia yang tidak bisa ia sampaikan pada siapa pun. Rahasia.

***

Maura terbangun dengan rasa tawar. Kulit tubuhnya dingin, sementara kepala terasa penuh dan berat. Bayi-bayi api masih berkelebatan di pikirannya. Ia melihat ke dadanya yang masih terbuka. Ia ingin sekali menjenguk ke dalam hatinya setelah sekian lama nyaris lupa kalau ia punya rahasia. Bisa jadi bayi-bayi api yang dulu itu sudah menjelma lidah api yang besar dan mengancam. Maura curiga api itulah yang membakar dirinya, sejak semalam.

Maura menyeringai, dan mengurungkan niatnya. Kesadaran membuat ia kembali merasakan seluruh tubuh yang nyeri. Ia meraba pipi, punggung, siku, kaki. Mulutnya mendesis tidak jelas. Semacam ekspresi sakit yang coba ia tahan. Ia lawan. Akh, betapa tidak mudah melawan sesuatu yang mendekam dalam diri. Ia mendengus geram, berkali-kali.

Sedikit tenang, ia mulai memandangi pintu, gorden jendela, meja, kursi, televisi. Tidak ada yang berubah. Diam dan kaku. Sesaat ia terpikir tentang halaman belakang yang pasti berantakan setelah serangan angin badai kemarin malam. Batang ubi dan cangkah belimbing yang berserakan. Sekali lagi ia menyeringai, “Angin badai yang ganas, dia benar-benar tidak pulang.”

Maura melihat jam di atas meja. Pukul delapan. Seharusnya pukul sembilan ia berangkat ke tempat laundry. Bersama rekan kerja mereka bergantian menjaga meja, menerima pakaian kotor yang diantar pelanggan, menimbang, mencatat, memberikan tanda bukti dan melepas kepergian orang itu dengan sedikit senyuman, memisah-misahkan jenis pakaian, memberi tanda tertentu pada berkeranjang-keranjang pakaian kotor, memasukkan cucian ke dalam mesin untuk kemudian dibilas, dijemur, disetrika.

Disetrika.

Maura mendadak berdiri. Ia hiraukan ngilu pada sekujur tubuh. Ia biarkan saja kancing bajunya tetap terbuka. Tergesa ia masuk ke kamar. Mengambil setrika dan sekeranjang baju. Dengan cekatan juga ia sambungkan setrika pada kontak listrik.

Setrika menyala. Api di dada Maura ikut menyala.

Ia ambil salah satu blus hitam kesayangannya. Ia mulai menyetrika, pelan-pelan. Sepelan ia mengingat kembali masa-masa buruk yang ia lalui; ketika ia dipukuli ibu, dipukuli bapak, digerayangi kakak yang terbahak-bahak bersama teman-temannya, dipukuli suaminya yang sering mabuk seperti bapak, dilecehkan pemilik laundry bertubuh tambun menjijikkan.

“Iblis,” desisnya geram.

Maura menekan setrika di atas blus dengan gerakan yang semakin berat. Seberat perasaan yang coba ia tahan bertahun-tahun, ia pendam bersama rahasia bayi-bayi api di Mauranya. Perasaan berat yang sekarang ingin ia lepaskan, dan karena itu ia berteriak keras-keras, “Kalian iblis!” Kalimat itu menggema, mengembang mirip bunga cahaya.

Diambilnya lagi pakaian dalam keranjang, kemeja lengan pendek motif garis vertikal milik suami. Saat menyetrika kemeja itu Maura membayangkan tengah menyetrika dada kakak dan teman-temannya yang kurang ajar, dada ibu yang sering memukulinya dan membuatnya ketakutan, dada bapak yang pemabuk dan lebih mencintai pelacur daripada ibu, dada suaminya yang pemalas juga keparat, dada pemilik laundry yang sungguh bajingan—yang membuat ia membiarkan kancing bajunya terus terbuka hingga kini karena ia terlalu marah. Begitu juga ketika ia menyetrika kaus oblong atau celana pendek. Ia terus membayangkan tengah menyetrika dada kakak dan teman-temannya, dada ibu, dada bapak, dada suaminya, dada pemilik laundry. Mata Maura merah. Semakin merah. Ia terus menyetrika dengan mata yang merah, dengan tubuh yang marah, hingga seseorang menggedor pintu keras-keras, meneriakkan namanya dengan suara teramat kasar pada pagi di pengujung Agustus sehabis diterjang angin badai. (*)

Sumber: http://lakonhidup.wordpress.com/2013/04/21/ia-yang-menyimpan-api-di-hatinya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: