Hari yang Aneh

Riau Pos: Ahad, 1 September 2013 – 08.42 WIB

Oleh: Adam Gottar Parra

Di bawah pohon algur, di depan Balaikota, lelaki berpakaian compang-camping itu duduk sendiri memandang awan berarak di atas runtuhan gedung berwarna kelabu. Sepasang burung elang yang seolah keluar dari gumpalan awan membuat hatinya terpesona. Sorot matanya yang jernih terus mengikuti gerakan burung itu, hingga lenyap tertelan pucuk bukit yang sebagian tersaput kabut tipis.

Memerhatikan penampilannya, yang tanpa alas kaki, tentu orang tak mengira kalau dia adalah penyair Warman Hendrawala, yang dulu dianggap sebagai musuh negara, karena sering mengritik pemerintah, sehingga diburu seperti anjing ke berbagai kota dan negara yang menjadi tujuan pelariannya. Tapi, sejak perang meletus empat tahun silam, seluruh warga kota mulai menyadari kebenaran ucapannya. Tetapi apalah artinya nasi yang sudah menjadi bubur. Kini kota telah hancur jadi puing-puing.

Sudah hampir dua jam ia duduk di situ, di antara buah-buah algur yang terserak di tanah dan menguarkan aroma stroberi. Namun tak sesosok bayangan pun yang ditemukannya melintas di jalan. Juga di rumah-rumah yang di masa sebelum perang selalu ramai oleh anak-anak dan remaja, kini terlihat sepi. Tak tampak manusia, bahkan anjing dan kucing, sehingga mengundang tanya, ‘’Ke mana gerangan penduduk kota ini?’’ Kendati setiap orang sudah tahu jawabannya: selain terbunuh, sebagian kini hidup dalam pengungsian.

Istirahnya Warman di prapatan Balaikota pada hari kepulangannya ke tanah kelahiran—setelah puluhan tahun mengembara dari kota ke kota, negeri ke negeri—itu, bukan tanpa alasan. Sebagai penyair, yang ke mana-mana selalu berjalan kaki, kecuali menyeberang laut, sebenarnya Warman tidak terlalu suka beristirahat, kalau tidak perlu-perlu. Tak peduli panas terik atau larut malam, ia akan terus berjalan selama masih bertenaga. Ia hanya akan beristirahat di emperan gedung atau bawah pohon bila matanya sudah mengantuk.

Ketidaksukaannya beristirahat itu tampak juga waktu melalui tembok Cina. Ketika menyusuri benteng peninggalan zaman dinasti Ching yang mengular sepanjang 6451 kilometer di atas pegunungan itu, ia beristirahat hanya untuk tidur, atau berhenti sejenak saat menyaksikan keindahan pemandangan di lembah. Sehingga kakinya yang penuh luka kerap meneteskan darah.

Begitu pun ketika ia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon algur di depan Balaikota, sama sekali bukan sebab letih, tapi karena tersihir oleh aroma buah algur ranum yang terserak di trotoar, yang serta-merta mengingatkan pada beberapa orang kawannya di masa kanak-kanak. Di matanya segera terbayang wajah Jufri, Malik, Sukir Jambul, Fahri, Norman, Ahim Cebol, Rizal, dan dirinya sendiri, saat berenang di bendungan, lalu makan buah algur.

Seperti biasa, saat pulang sekolah mereka akan selalu mampir di waduk peninggalan zaman VOC, untuk berenang hingga sore hari sampai kulitnya pucat dan mengeriput seperti kulit jagung. Tampak mereka menanggalkan pakaian seragam sekolah, lalu berdiri menghadap ke sungai sambil memegang pelir. Kemudian melompat terjun ke air bendungan, dan berenang sampai bosan. Bila berenang mereka suka lupa waktu. Dan baru akan berhenti saat orang tuanya datang.

Biasanya Emak Sarmah, ibu Warman, yang selalu datang ke waduk untuk menyuruh mereka pulang. Wanita paruh baya itu akan muncul di ujung lorong sambil menenteng batang lidi untuk menakut-nakuti Warman agar berhenti berenang.

‘’Naik! Kalau tidak, saya pecut!’’ gertak Emak Sarmah dari ujung tanggul, sambil mengacung-acungkan batang lidi, ‘’Pulang makan dulu, baru berenang lagi,’’ bujuknya.

Tetapi, Warman sudah mengerti betul maksud Emaknya, bahwa, setelah makan, langsung mandi dan berwudu, kemudian pergi ke maktab untuk belajar mengaji.

***

Seperti biasa, sehabis berenang, Sukir Jambul akan langsung memanjat pohon algur di pinggir bendungan, lalu menggoyang-goyang dahannya, hingga buahnya berjatuhan ke tanah. Karena lapar mereka pun akan memakan buah yang rasanya sepet itu, yang oleh kawan-kawannya secara berseloroh sering disebut sebagai buah ‘stroberi putih’, karena baik aroma maupun bentuknya memang mirip sekali dengan buah stroberi. Letak perbedaannya hanya pada soal rasa dan warna, serta ukurannya yang lebih kecil dari buah stroberi.

Mengenang kekonyolan di masa kanak-kanak bersama kawan-kawannya itu membuat Warman kerap tersenyum sendiri. Termasuk ketika melintas di depan pedagang buah di sebuah dusun di Hungaria Utara, aroma stroberi itu segera mengingatkannya pada buah algur di bendungan dan sahabat-sahabat kecilnya di masa lampau, yang kini tentu sudah jadi bapak-bapak.

Ia selalu ingat, setiap habis berenang, dalam keadaan telanjang Sukir Jambul akan langsung memanjat pohon algur di ujung tanggul. Sambil bertengger seperti monyet, Jambul akan menggoyang-goyang ujung dahan seperti kerasukan, hingga buah-buah algur yang masih muda pun ikut berguguran ke trotoar. ‘’Bul, sudah Bul, sisakan untuk monyet dan kelelawar!’’ teriak Warman seraya mendongak ke atas.

Karena di kawasan hutan lindung dekat waduk itu masih terdapat ratusan ekor monyet yang saban hari, jika suasana sedang sepi, akan datang bergerombol ke pohon algur, setelah berenang menyeberangi sungai.

‘’Alaaaah, mampus-mampuslah monyet-monyet itu!’’ teriak Jambul menimpali dari atas pohon, lalu kembali menggoyang-goyang dahan pohon algur itu sekuat tenaga, hingga buah-buah muda pun berserakan di tanah. Setelah itu Jambul akan kencing dari atas pohon, hingga membuat rekan-rekannya marah, lalu melempari Jambul dengan buah muda.

Pohon algur yang sarat buah di depan Balaikota itu mengingatkan Warman pada mereka. Menyaksikan pemandangan di kota kelahirannya yang kini tampak sunyi seperti kandang kosong, Warman yang baru kembali dari perjalanan mengelilingi dunia itu, terlihat sedih. Ia merenungi kembali hakekat perang dalam roman War and Peace karya Leo Tolstoy di tengah reruntuhan kotanya yang menguarkan bau busuk.

***

Sudah lebih dua jam penyair Warman Hendrawala duduk termangu di bawah pohon algur di pinggir trotoar. Matahari pun mulai doyong ke barat. Tapi tak seorang pun yang dilihatnya melintas di setiap ruas jalan.

Namun, di salah satu ujung jalan, tiba-tiba berkerdip sebuah titik cahaya yang kian membesar. Cahaya itu tampak bergerak mendekat. Ternyata sebuah mobil polisi, disusul dua mobil lainnya di belakang. Suara sirenenya pun mulai terdengar meraung-raung di udara. Tak ada kekhawatiran pada diri Warman, sehingga ia tak menggeser posisi duduknya di lengkungan akar algur.

Perkiraannya tepat. Mobil patroli itu berhenti di depannya. Pintu mobil pun segera terbuka. Dua anggota polisi keluar. Yang lainnya tetap tinggal di dalam. ‘’Selamat sore, Pak…’’ sapa polisi itu dengan nada curiga.

Tetapi, sebelum Warman membalas, ia dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil namanya dari mobil di belakang. Dia adalah seorang laki-laki gemuk berpakaian dinas Walikota, lengkap dengan petnya. Ia langsung keluar sembari mendorong pintu mobil ketika melihat Warman.

‘’War? Kamu Warman ‘kan?’’ katanya, tegang, lalu membuka kacamatanya, ‘’Kamu masih ingat saya? Saya Sukir Jambul!’’ tambahnya, lalu melompat ke trotoar, hingga berdiri persis di depan Warman yang kini tampak bengong seperti siput. ‘’Saya Jambul, ingat ‘kan?’’ ujarnya, lalu menarik lengan Warman, mengajaknya berdiri.

‘’Jambul! Kamu jadi Wali Kota?’’ tanya Warman heran sambil melihat emblim di dada Sukir Jambul, sahabatnya.

Keduanya pun berpelukan, akrab sekali. Hingga para anggota polisi dan sejumlah staf Walikota yang ikut rombongan patroli terheran-heran melihat Pak Walikota berpelukan dengan orang yang berpenampilan mirip gelandangan.

‘’Ke mana saja kamu selama ini, War?’’ tanya Jambul.

‘’Tak ke mana-mana,’’ jawab Warman.

‘’Waktu aku baru terpilih jadi Walikota, aku langsung cari kamu, untuk kuangkat jadi Kabag Humas, tapi kamu menghilang,’’ kata Jambul.

‘’Terima kasih, Bul, atas perhatianmu,’’ kata Warman, tersenyum, ‘’Oya, Bul, kamu masih ingat buah ini?’’ tanya Warman sambil tertunduk, memungut buah algur di tanah.

Melihat buah algur di tangan Warman, wajah Jambul langsung sumringah, ‘’Ingat. Ingat sekali, War!’’ kata Jambul sambil merebut buah algur di tangan Warman, lalu memasukkan ke mulut dan mengunyahnya.

Tindakan Pak Wali Kota membuat para stafnya seolah mau pingsan. Mereka berdiri terpaku di samping mobil. Dan mereka bertambah bingung ketika Jambul merangkul batang algur di depannya, lalu memanjatnya. Karena sejak kecil Jambul memang sudah terbiasa naik pohon, ia tak kesulitan memanjat pohon algur yang tingginya separuh bangunan menara Balaikota itu. Dalam waktu singkat Pak Walikota telah bertengger seperti monyet di cabang pohon, lalu menggoyang-goyang dahan sarat buah itu, hingga berjatuhan.

‘’Bul, sudah Bul! Sisakan untuk monyet dan kelelawar!’’ teriak Warman dari bawah.

‘’Alaaaaah, mampus-mampuslah monyet-monyet itu!’’ jawabnya sambil terus menggoyang dahan algur seperti kesurupan.

Tak terbayangkan rasa malu pada stafnya, menyaksikan Pak Walikota bertengger dengan pakaian dinas di atas pohon.

Setelah puas menggoyang cabang algur, Walikota tiba-tiba menarik resleting celananya, lalu kencing dari atas pohon. Pancuran berbau pesing itu menerpa wajah orang-orang di bawahnya, termasuk rambut Ina yang kini jatuh pingsan.***

Mataram, 2011-2013

Adam Gottar Parra
lahir di Praya, 12 September 1967. Cerpen-cerpennya dimuat di Harian Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Gottar tinggal di Lombok, NTB.

Sumber: http://www.riaupos.co/1437-spesial-hari-yang-aneh.html#.UmzlQ1Pabgk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: