Sepasang Cincin

Radar Seni: Jumat, 25 Oktober 2013

Oleh: Zainul Muttaqin

Perempuan itu bernama Lastri, sudah dua musim ia menanggalkan cintanya, kubiarkan saja ia pergi meninggalkanku sendiri. Setelah bertahun-tahun menghabiskan perjalanan panjang bersamaku. Aku masih ingat bagaimana ia tertawa sambil menepuk pundakku, atau saat ia menangis lalu kuusap air matanya. Semua itu telah menjadi masa lalu, meskipun begitu aku selalu berharap ia kembali padaku dengan cintanya yang dulu.

Di tepi sungai itu, tempat romantis untuk bercinta, masa lalu yang telah usang kembali muncul pada kepingan-kepingan kenangan menyakitkan. Dahulu, aku masih ingat, ditemani ikan-ikan berlarian kesana-kemari, dan pelepah nyiur yang teduh dibelai angin pegunungan. Di tempat itu ia melontarkan kalimat terakhir yang kudengar darinya, satu alasan yang tak dapat kubantah. Mungkin setiap perempuan selalu mengatakan pada pasangannya.

“Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini bersamamu” katanya ketika itu, raut mukanya serius. Kulepas tangannya yang semula kuremas-remas.

“Kenapa?” hanya itu yang bisa kutanyakan, nafasku mendadak seperti berhenti.

“Apa kau tak pernah sadar selama pacaran denganku?” justru ia balik bertanya. Aku masih tak mengerti.

“Memangnya kenapa?”.

“Pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu!” wajahnya telah berubah, cemberut.

“Sungguh aku tak paham dengan kata-katamu” aku bingung.

“Aku tahu kau mencintaiku, tapi apa pernah kau membuktikan cinta itu padaku?”

“Bukankah selama ini aku setia bersamamu, bukankah itu bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu” Kucoba memegang tangannya, ia menolak.

“Kau masih tak mengerti, aku ingin seperti perempuan-perempuan lain yang dibelikan cincin atau barang-barang yang kusukai, aku tak memintamu menuruti semua keinginanku, selama aku berpacaran denganmu sama sekali kau tak pernah memberiku hal itu” air matanya mengalir, sedih dan kecewa.

“Baiklah, aku akan membelikan apa yang kau minta”

“Terlambat, karena aku sudah bosan dengan hubungan ini. Kita putus!” ia pergi, kubiarkan ia berlari meningalkanku di tepi sungai itu.

Maka, sejak itulah aku tak pernah mendengar kabarnya, berkali-kali kucoba mencarinya, tetap tak pernah berhasil. Ia benar-benar meninggalkanku dengan alasan yang sangat menyakitkan, tapi mungkin juga ada alasan lain yang sengaja disembunyikan dariku, meski alasan itu benar adanya.

Ikan-ikan yang semula berlarian, kini berhenti, suasana sepi. Lastri memilih jalan hidupnya tanpa kehadiranku, dengan alasan yang selalu kuingat sampai kapanpun. Dan sejak itu pula tepi sungai itu tak lagi indah dan romantis, mendadak ia menjadi tempat menyedihkan, tempat hatiku terluka, tempat air matanya mengalir untuk terakhir kalinya yang kulihat.

***

Sampai waktu terus berputar, tanpa pernah bisa memutar kembali pada masa lalu. Aku masih ingat gerai rambutnya, senyumnya yang selalu merekah, dan semua tentangnya seperti tak bisa pergi dalam ingatanku. Yah, aku masih mencintainya, cintaku yang murni seperti saat pertama kali aku jatuh cinta padanya. Terkadang aku menyesal tidak pernah memberinya suatu barang berharga tanda bukti cinta, menurutku cukup aku setia dan bersamanya adalah bukti cinta terbesar yang kuberikan.

Tidak! semua itu tak seperti dalam bayanganku, Lastri meminta sebuah cincin atau barang berharga lainnya tanda pemberian dariku, itu tak pernah kulakukan padanya. Aku tak paham, apakah hanya Lastri yang seperti itu padaku? atau mungkin begitulah setiap perempuan. meminta barang berharga pada setiap pasangannya. Ah, semua telah berlalu. Lastri telah menjadi masa lalu yang tak mungkin datang menemuiku.

Malam itu, redup cahaya kamar, foto Lastri masih terpajang di atas dinding. Sengaja aku tak melepas foto itu agar aku selalu ingat bahwa perempuan itu pernah hadir dalam hidupku, meski terkadang memandangi foto itu kurasakan kesedihan yang mendalam. Terkadang pula sepanjang malam aku memandangi foto itu, seperti tersenyum padaku, namun tiba-tiba kadang seperti membenciku.

“Danang, kenapa masih kau simpan foto itu?” tanya Darma, seorang kawan karibku. Aku masih memandangi foto itu.

“Memangnya kenapa?, itu kan foto Lastri” kataku, semakin melekatkan pandangan.

“Ya, itu kan mantan kekasihmu, tak ada alasan kau menyimpan foto itu, dia bukan lagi kekasihmu, untuk apa kau menyimpan foto itu?” Darma mendekatiku.

“Aku tahu, tapi aku masih mencintainya, ia tetap hidup dalam hatiku”

“Tapi dirimu sudah mati dalam hatinya”

“Lalu, salah jika aku masih mencintainnya dan menyimpan foto ini?” jari telunjuk mengarah ke foto Lastri.

“Tidak baik kau seperti itu, kau selalu murung bahkan hampir seperti orang gila setiap kali kulihat kau memandangi foto itu” Nadanya tinggi, wajahnya serius

“Kau benar, aku gila karena dia pergi dariku, karena tak pernah kuinginkan kepergiannya” kesedihan itu menyergapku, kata-kataku lirih.

“Apapun yang kau katakan, tak akan merubah segalanya, Lastri telah menjadi masa lalu bagimu, ia tak akan pernah hadir kembali dalam hidupmu, sadarlah Nang, hidupmu masih panjang”

Benar, Lastri bukan lagi kekasihku,tapi bayangannya bermain-main dalam pikiranku, seperti tersenyum dengan bibirnya yang tipis, indah sekali. Aku juga tak mengerti, kenapa ia begitu menggoda,dan sulit kulenyapkan dalam pikiranku. Terlalu indah ia untuk kulupakan, sekalipun hanya bayangan belaka.Menurutku kecantikan Lastri melebihi Ratu Balqis seperti yang diceritakan dalam kitab-kitab.

***

Ternyata, Lastri memilki lelaki lain, tentunya lebih kaya dan tampan dariku. itulah alasan selanjutnya yang kuketahui beberapa bulan ini, awalnya aku kaget mendengar kabar itu. Tapi aku sadar, mungkin itulah kebahagiaannya, tak ada pilihan lain selain tersenyum mendengarnya.

Padahal dulu ia berjanji sehidup semati bersamaku, dalam suka dan duka. katanya bagaimanapun pahitnya hidup, selagi bersamaku akan selalu indah. Tak henti kalimat itu diucapkan, setelah itu bergelayut manja dalam pelukanku.

“Bagaimanapun pahitnya hidup, aku akan selalu bersamamu” katanya dahulu.

“Aku juga akan selalu setia bersamamu” kataku, kubelai rambutnya.

Begitulah kalimat yang terucap, dan ia mengingkari kalimatnya sendiri. Aku mengerti, sangat mengerti. Begitupun ketika ia memberikan alasan itu di tepi sungai. Karena aku sudah menduga yang sebenarnya.

Cahaya bulan menyelinap melalui celah jendela, aku bersandar pada dinding melihat bulat bulan purnama. Aku teringat satu hal, sebenarnya Lastri tidak pernah tahu bahwa pada suatu hari aku akan melamarnya, sepasang cincin sudah kubeli dari hasil keringat, sengaja kurahasiakan couple ring itu hingga tiba waktunya. Dan cincin itu tak bisa kupakaikan pada jari manisnya, ia bukan kekasihku lagi, bahkan kabarpun tak pernah kudengar.

Sepasang cincin bertuliskan namaku dan namanya masih tersimpan di lemari. Pada Malam purnama, kukeluarkan cincin itu, kulihat ukiran nama sepasang kekasih. Tepatnya mantan kekasih. Bayangannya mulai hadir, dalam bayangan itu, aku memakaikan cincin itu pada jari manisnya dan orang-orang bertepuk tangan, lalu kukecup keningnya, ia menatapku dengan mesra.

“Cincin siapa itu Nang?” suara Darma mengejutkan, ia mengambilnya dari tanganku

Couple Ring aku dan Lastri”

“Lagi-lagi Lastri, bosan aku mendengarnya, masih saja kau ingat perempuan penghianat itu!” ia tahu jika Lastri dahulu memilki lelaki lain selain diriku, sebagai kawan karib tak terima ia melihatku mengingat Lastri.

“Sekalipun ia begitu, Lastri pernah menjadi bagian dari hidupku, mengisi hari-hariku, dan sama sekali aku tak membencinya, mungkin itulah kebahagiaan baginya”

“Kau terlalu baik!”

“Sama sekali tidak, aku tahu Lastri, dia perempuan baik, tak ada gunanya bagiku membenci seseorang yang pernah mencintaiku”

“Tapi dia menyakitimu!”

“Tidak, justru dia menyadarkanku bahwa aku masih belum bisa membahagiakannya”

“Entah mantra apa yang sudah merasuk dalam dirimu, hingga Lastri selalu tampak sempurna bagimu, padahal ia tak lagi mencintaimu”

“Aku tahu, aku yakin itulah kebahagiaan bagi Lastri, mungkin dia merasa tidak nyaman lagi denganku, sehingga lelaki lain menjadi pilihannya, aku bahagia jika ia bahagia meski tidak bersamaku”

Damar keluar kamar, cahaya bulan mulai redup. Ya, Sekalipun Lastri begitu, aku tak membencinya, bahkan andai ia datang padaku memberikan undangan pernikahan, aku akan tersenyum untuk kebahagiaannya. Sampai kapanpun aku tak akan bisa membencinya, meski kata orang-orang kini ia adalah mantanku. Bagiku ia tetap perempuan baik, aku lebih tahu siapa Lastri.

Lalu sepasang cincin ini kusimpan sebagai kenangan bahwa aku pernah berniat melamarnya. Tapi gagal, cincin ini akan selalu mengingatkanku  tentang Lastri, tentang kenangan masa lalu, juga tepi sungai itu. Aku bahagia karena bisa membeli sepasang cincin untuk seorang kekasih, meskipun aku tak bisa memakaikan pada jari manisnya. Setidaknya aku akan selalu bahagia meskipun Lastri bukan lagi kekasihku. Dan kusimpan semua kenangan pada sepasang cincin itu. ***

Sumenep, Madura 09 Maret 2013

Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok, Batang-batang, Sumenep Madura. 18 November 1991. Karya-karyanya telah dibukukan dalam sejumlah antologi bersama, antara lain : Kaliopak Menari (Matapena Jogjakarta 2008), Wanita yang Membawa Kupu-Kupu (Dewan Kesenian Sumenep Juni 2008), Senja di Teluk Wondama (Tuas Media Kalimantan Selatan 2011). Bingkai Kata Sajak September (Februari 2012)

Karya-karyanya tersebar di beberapa Media, seperti: Majalah Kuntum Yogyakarta, Majalah Almadina Surabaya, Banjar Masin Post, Merapi, Joglo Semar, Radar Surabaya, Radar Madura, Kabar Madura. Radar Seni.

Sumber: http://radarseni.com/2013/10/25/sepasang-cincin/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: