Merekonstruksi Kepemimpinan Dokter Indonesia

Duta Masyarakat: Jumat, 25 Oktober 2013

Oleh: Moh Adib Khumaidi *)

Kini dengan makin berkembangnya peradaban manusia, organisasi IDI pun dituntut untuk mengembangkan peran-peran strategisnya, selain peran yang selama ini berkaitan dengan pekerjaan yang banyak digeluti anggotanya, yaitu agent of treatment (mengobati orang yang sakit). Peran strategis yang akan dikembangkan di masa depan selain karena anggotanya adalah profesional kesehatan, ia juga dituntut untuk memerankan diri sebagai organisasi orang-orang terpelajar atau cendekiawan. Karena itu tentu IDI dan anggotanya sangat kompeten menjadi agent of change dan agent of development dalam pembangunan bangsa.

*Opini HUT IDI Ke-63 (24 Oktober 2013)

Dokter Indonesia memang telah mengukirkan sejarahnya dalam gerakan memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia . Siapa pun warga Negara Republik Indonesia pasti mengakui dan tidak mungkin menutup mata untuk tidak mengenal dr Wahidin Sudirohusodo, dr Soetomo, dr Cipto Mangunkusumo, dan yang lainnya. Mereka adalah dokter-dokter yang sadar akan hak dan kewajibannya serta perannya kepada umat manusia dan bangsanya .
Pada tahun 1902 di Amsterdam, editor majalah Bintang Hindia, dr Abdul Rivai, membuka edisi perdana dengan argumen yang menggetarkan. “Tak perloe memperpandjang perbintjangan kita mengenai bangsawan oesoel karena kemuntjulannja memang telah ditakdirkan. Djika nenek mojang kita terlahir sebagai bangsawan, kita poen bisa diseboet sebagai bangsawan bahkan meskipoen pengetahoean dan prestasi kita tak oebahnja seperti pepatah katak dalam tempoeroeng. Saat ini prestasi dan pengetahoeanlah jang akan menentoekan posisi seseorang. Inilah sitoeasi jang melahirkan munculnja bangsawan pikiran“.

Pada fajar era pergerakan nasional dengan memperkenalkan istilah “bangsawan pikiran”, Abdul Rivai menjadi wakil suara kaum terpelajar bumiputra yang memasuki era modern dengan memberikan penghormatan terhadap pengetahuan, prestasi, sekaligus menyerukan perlawanan terhadap feodalisme yang disimbolkan dengan istilah bangsawan oesoel.

Hal di atas merupakan fakta sejarah peran serta dokter pada proses pembentukan fondasi negara Indonesia pada awal abad kedua-puluh. Bagaimana keberadaan figur dokter pribumi sebagai pelopor semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Eratnya jalinan benang merah keberadaan dokter dengan lahirnya semangat tersebut tidak terlepas dari watak yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter.

Dokter adalah figur yang mengabdikan profesinya, tanpa terpengaruh pertimbangan-pertimbangan agama, kedudukan sosial, jenis kelamin, suku, dan politik kepartaian. Artinya, dalam pekerjaan keprofesiannya dokter sarat dengan nilai kesetaraan. Sebuah nilai yang dapat menumbuhkan rasa ketertindasan yang sama akibat proses penjajahan, yang akhirnya menimbulkan rasa nasionalisme.

Tidak mengherankan jika kelompok pertama yang menginisiasi semangat nasionalisme adalah dokter. Sebuah semangat, yang kemudian menjadi embrio kesadaran berbangsa dan pada gilirannya melahirkan semangat kebangkitan nasional. Sebuah momentum yang akhirnya mendorong proses menuju kemerdekaan bangsa. Dan, hasil dari proses tersebut membuktikan bahwa untuk merdeka dan menjadi bangsa yang terhormat harus dilandasi dengan kesadaran berbangsa serta rasa nasionalisme yang tinggi. Hari kebangkitan juga menjadi awal pergerakan nasional untuk menuju kemerdekaan bangsa. Sebuah pergerakan yang memiliki visi dan tujuan “Kedudukan Bangsa yang Terhormat”.

Peran kesejarahan dokter Indonesia berlanjut pada fase-fase memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Hal ini semakin menunjukkan bahwa komunitas dokter Indonesia termasuk dalam kelompok yang dalam situasi kritis, secara objektif akan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau golongannya. Keterpanggilan atas peran tersebut dimungkinkan karena sejalan dengan nilai-nilai luhur dan kultur profesi kedokteran yang sarat dengan nilai altruisme serta berhubungan langsung dengan nilai humanisme dan dijiwai oleh semangat sumpah dokternya.

Selama ini peran dokter lebih terlihat pada upaya penyehatan fisik. Proses reduksi peran yang tidak disadari dan telah berlangsung sekian lama, ternyata telah membuat fungsi dokter hanya menjadi agent of treatment. Para dokter telah terjebak pada rutinitas profesionalisme yang sempit. Banyak dokter yang akhirnya lebih concern bahwa ilmu kedokteran hanyalah mempelajari segala sesuatu tentang penyakit. Akibatnya kewajiban untuk menyehatkan rakyat hanya sekedar menganjurkan minum vitamin, mineral, tonik , dll, serta mengobati pasien yang sakit. Dokter lupa bahwa selain melakukan intervensi fisik, juga harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah masyarakat. Dokter dalam kiprahnya seyogianya menerapkan peran “PEMIMPIN-INTELEKTUAL-PROFESIONAL”, yang tugasnya antara lain sebagai agent of treatment, agent of change, dan agent of development. WHO baru tahun 1994 mengidentifikasikan kiprah ini dan menyebutnya sebagai “The five star doctors” yaitu community leader, communicator, manager, decision maker, dan care provider.

Pada dasarnya dokter adalah seorang intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala bidakannya. Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence). Dimanapun dokter ditempatkan seyogianya ia menjalankan peran intelektual profesional. Itulah yang dilakukan dokter Wahidin dan para sejawatnya lebih dari seabad yang lalu jauh sebelum adanya rekomendasi WHO.

Karena itu peran dokter saat ini harus dikembalikan kepada peran dokter yang dicontohkan oleh dr Wahidin. Dokter tidak hanya menjadi agent of treatment tapi juga harus menularkan nilai profesi dan kecendikiawanannya sehingga membuatnya menjadikan agent of mental-social change dan agent of development dalam pembangunan bangsa.

Sebagai agent of treatment dokter menciptakan manusia Indonesia yang sehat dan sejahtera serta produktif. Sebagai agent of change, dokter meningkatkan kemampuan diri serta turut memberikan edukasi pada masyarakat karena dengan masyarakat yang cerdas dapat memperkecil terjadinya masalah dan juga akan lebih mudah dalam mengatasi masalah. Sedangkan sebagai agent of development, dokter dapat terus berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Pertanyaannya sekarang untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat sebagaimana yang dicita-citakan untuk pertama kalinya oleh para dokter tersebut sebagai “leading profession” – apakah sudah tercapai? Apakah para dokter Indonesia saat ini dapat menjadi “Pemimpin Intelektual Profesional”? Kalaulah pencapaiannya belum optimal, peranan apa yang dapat dilanjutkan oleh para dokter yang hidup lebih dari seabad setelah era dr Wahidin tersebut? Pemahaman akan peranan dokter dalam pembangunan bangsa dan kesadaran akan pengaruh kesehatan terhadap kelangsungan Pembangunan Nasional dan Ketahanan Nasional inilah pada 63 tahun pengabdian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjadi momentum untuk reminding peran dan bakti para dokter kepada bangsanya.

Ketidakadilan distributif dalam pembangunan kesehatan baik antarwarga masyarakat maupun terhadap pelaksana pembangunan, ditambah pengaruh globalisasi, liberalisasi perdagangan, dan pelayanan melalui berbagai kesepakatan internasional, akan mempengaruhi kelancaran dan kemandirian penyelenggaraan upaya kesehatan dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap ketahanan nasional dan kedaulatan bangsa di masa mendatang.
Merujuk dari pernyataan Bung Hatta sebagai berikut: “ Kalau kita harapkan tabib dari luar , kita akan menunggu orang yang tidak akan datang; yang sangup mengobatinya banyak atau sedikit ialah rakyat kita sendiri. Dan pokok segala usaha ialah kemauan yang tetap. Kemauan itulah yang harus kita bangkitkan.

Itulah dasarnya self help yang senantiasa menjadi buah bibir kita. Rakyat kita sebagian besar adalah rakyat yang kena sugesti (pukau) ketidakmampuan. Pukul dan bunuh sugesti itu dengan propaganda dan contoh“ (Hatta, 1933) .
Kini dengan makin berkembangnya peradaban manusia, organisasi IDI pun dituntut untuk mengembangkan peran-peran strategisnya, selain peran yang selama ini berkaitan dengan pekerjaan yang banyak digeluti anggotanya, yaitu agent of treatment (mengobati orang yang sakit). Peran strategis yang akan dikembangkan di masa depan selain karena anggotanya adalah profesional kesehatan, ia juga dituntut untuk memerankan diri sebagai organisasi orang-orang terpelajar atau cendekiawan. Karena itu tentu IDI dan anggotanya sangat kompeten menjadi agent of change dan agent of development dalam pembangunan bangsa.

Peran di atas bukan hal yang mustahil bagi IDI, mengingat IDI beranggotakan orang-orang terdidik atau sarjana. Oleh karena itu yang diperlukan saat ini adalah bagaimana agar organisasi IDI dengan seluruh jajarannya dapat merevitalisasi peran pengabdianya. Di sektor kesehatan, IDI dan anggotanya diharapkan melebarkan lapangan pengabdiannya dengan berkontribusi seluas-luasnya dalam upaya menyehatkan bangsa secara komprehensif (fisik, mental, dan sosial).

Namun demikian, di luar lapangan kesehatan pun tidak tertutup bagi IDI dan anggotanya untuk melakukan Rekonstruksi Kepemimpinan Dokter Indonesia .Ke depan bukan sesuatu yang tidak mungkin, semakin banyak anggota IDI yang berkiprah di sektor pengambilan keputusan dalam makna yang lebih luas. Hal yang sama, juga semakin terbuka kemungkinan bagi dokter Indonesia untuk tampil menjadi pemimpin bangsa, baik secara formal maupun non formal, bahkan menjadi seorang negarawan sekalipun.

Peluang menjalankan peran tersebut tentu selalu ada bila IDI dan anggotanya berupaya untuk itu. Potensi untuk menjadi pemimpin bangsa dan menjadi negarawan, menjadi penyangga di tengah rakyat dan bangsanya juga dipunyai oleh dokter-dokter Indonesia. Dan tentunya pemimpin yang dilahirkan akan menyanggah pada peran-peran mewujudkan Indonesia Sehat yang berdaulat . Berdaulat dengan membangun kemandirian bangsa. Lebih dari itu, kemandirian adalah dasar dari kehormatan dan martabat bangsa.

*) Ketua Bidang Organisasi Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Sumber: http://dutaonline.com/25/10/2013/merekonstruksi-kepemimpinan-dokter-indonesia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: