Kibar Setengah Tiang Bendera

Harian Analisa: Sabtu, 26 Oktober 2013

Oleh: D. Orlando

Hidup di zaman edan

gelap jiwa bingung pikiran

turut edan hati tak tahan

jika tidak turut

batin merana dan penasaran

tertindas dan kelaparan

tapi janji Tuhan sudah pasti

seuntung apa pun orang yang lupa daratan

lebih selamat orang yang menjaga kesadaran

(R. Ng. Ronggowarsito, 1802-1873)

Sejarah sebuah pemerintahan tampaknya tidak pernah banyak berubah. Buktinya, zaman edan yang mana negara mulai kehilangan wibawa, penguasa kehilangan etika, dan masyarakat kehilangan norma nyatanya berlangsung silih berganti. Kalau pada masa itu pujangga besar Ronggowarsito hanya dianggap sedang “meramalkan” datangnya perubahan zaman, kini buasnya kegilaan itu nyata tersaji tepat di depan hidung kita setiap harinya.

Ketidakjujuran: Peluang yang Jadi Budaya

Budaya ketidakjujuran di negeri ini telah sedemikian ganasnya. Ketidakjujuran telah menggerogoti sendi-sendi pemerintahan hingga bobrok. Tidak tanggung-tanggung, semua pelaku trias politica –legislatif, eksekutif, dan yudikatif di negeri ini juga terseret. Panggung terbarukannya adalah yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mokhtar.

Setiap orang pastilah terkejut dengan kasus tersebut. Apalagi pada persidangan kasus yang sudah-sudah selalu terekspos fakta-fakta spektakuler, penuh rekayasa, penuh intrik, dan kaya akan persengkongkolan busuk. Namun, nyatanya dahaga keterkejutan itu pada akhirnya kerap menguap dan menghadirkan kelupaan-kelupaan akan kasus sebelumnya yang tidak kunjung selesai. Rakyat pun geram dan hilang kesabaran.

Ketidakjujuran apapun bentuknya tentu meresahkan. Bagaimanakah proses seseorang atau sekelompok orang bisa “tergoda” berbuat curang dan lantas melemahkan integritas mereka? Seberapa banyak pula mereka akan mencuri? Apakah yang bisa dilakukan jika kutukan zaman edan ini datang? Marilah kita telaah bersama.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada baiknya disajikan hasil serangkaian percobaan uji kejujuran yang dilakukan oleh Prof. Dan Ariely di universitas-universitas ternama di Amerika dalam bukunya Irrational Consumer (2008). Tes berupa 20 pertanyaan umum yang harus dijawab selama waktu tertentu. Setiap jawaban benar lalu diberikan sejumlah uang. Bedanya, ada kelompok kedua yang diberi peluang untuk tidak jujur, yaitu tidak perlu mengumpulkan lembar jawaban, cukup menyebutkan skor benarnya, dan langsung diberikan hadiah. Modifikasi lainnya, kelompok ketiga melakukan hal yang serupa dengan kelompok kedua, tetapi tidak langsung diberikan uang. Kelompok ketiga diberikan kupon yang selanjutnya dapat ditukarkan dengan sejumlah uang.

Hasil percobaan ini benar-benar mencengangkan! Rata-rata penyelesaian soal benar adalah 3,5 soal pada kelompok pertama (kontrol). Pada kelompok kedua, jumlah soal yang diakui benar meningkat menjadi rata-rata 6,2 soal. Ini berarti 177 persen lebih tinggi! Terakhir, dalam hal ketidakjujuran tanpa malu-malu, kelompok ketiga menjadi pemenangnya. Kelompok ini mengaku menyelesaikan rata-rata 9,4 soal –5,9 lebih dari tinggi (269 persen) kelompok kontrol dan 3,2 soal lebih tinggi (152 persen) dari kelompok kedua.

Banyak informasi yang dapat dipetik dari hasil percobaan diatas. Pertama, ketika diberi peluang berbuat curang, terdapat kemungkinan sangat besar seseorang tergoda untuk melakukannya. Dengan kata lain, kejahatan memang hadir bukan cuma karena niat, tetapi juga adanya kesempatan. Kedua, pada peluang yang sama untuk berbuat curang dengan alat tukar nonmoneter (seperti kupon atau lainnya), ketidakjujuran justru meningkat lebih pesat. Pada titik ini, terlihatlah betapa berbeda kecurangan demi uang dan kecurangan demi sesuatu yang selangkah menjauhi uang tunai!

Alat nonmoneter bisa jadi merupakan tingkat pelepasan menyeluruh sehingga mendorong kecurangan sebanyak mungkin. Alat tukar nonmoneter ini juga kerap menyesatkan pelaku ketidakjujuran: menghindari nurani dan dengan bebas mengeksplorasi manfaat dari ketidak jujuran. Hasil tes diatas tentunya sangat relevan dengan kasus-kasus ketidakjujuran di negeri ini. Walaupun tidak bersentuhan langsung dengan uang tunai, seperti kasus Hambalang dan Pekan Olahraga Nasional, pengaturan kuota impor sapi, korupsi APBD atau APBN, penggelembungan harga simulator SIM, dan ketidakjujuran lainnya, tapi bila dibandingkan dengan perampokan bank atau toko emas secara langsung, nyatanya kasus-kasus itu melibatkan nominal uang yang fantastis!

Kini, jelas bukan lagi perkara dimana uang tunai berada, melainkan dimana uang itu dapat ditemukan dalam wujud apapun. Kebuasan ini tentu bertambah subur dengan hadirnya ruang kesempatan dan kekuatan untuk pengambilan keputusan final. Rekayasa kotor semacam inilah yang bisa jadi telah terabaikan lama yang kini kita lantas dipraktekkan secara teratur, masif, dan terorganisir. Pada akhirnya pula, kita pun latah menyebutnya sebagai budaya bangsa.

Setengah Tiang Bendera untuk Negeri

Apakah yang harus dilakukan jika kutukan zaman edan datang? Pertanyaan ini telah menjadi curious spot sejak zaman Ronggowarsito. Meskipun Ronggowarsito mampu “meramal” datangnya zaman, tetapi beliau tidak memberikan suatu jalan penyelesaian yang konklusif. Pujangga besar itu hanya mengajukan premis-premis dasar, yang tampaknya terlalu umum dan tidak operasional guna mengatasi persoalan yang diuraikannya sendiri secara sistematis dan rinci. Sang pujangga hanya menyarankan agar selalu eling (bijaksana), waspada, dan sabar (A. Norma, 1998).

Mungkin itulah tingkah laku para penguasa sekarang. Ditengah kemerosotan kewibawaan dan bergolaknya masyarakat, penguasa lebih nyaman berlindung di balik berbagai simbol dan slogan dari nilai-nilai luhur budaya bangsa yang menjadi idiom bersama masyarakat. Satu hal yang pasti, penyelesaian seperti ini, meskipun dapat sejenak meredam gejolak sosial, tidak akan mampu berbuat banyak. Rakyat sudah kenyang slogan, hanya butuh gebrakan aksi nyata.

Oase optimisme harus tetap terjaga. Mengutip tulisan salah satu tokoh nasional, Ahmad Syafii Maarif, kekuatan nurani dan akal sehat pasti dapat membantu kita menemukan jalan keluar terbaik bagi masa depan bangsa ini. Syaratnya pun hanya satu: fungsikan nurani dan akal sehat itu secara berani dan bangunan kolektif (Kompas, 11/10/13).

Senada dengan itu, menarik pula untuk menyajikan uji terakhir pada penelitian Prof. Dan Ariely, yang mencakup sisi moralitas. Tes yang dilakukan tidak berbeda (juga tidak perlu mengumpulkan surat jawaban), tapi kelompok baru ini hanya diminta menandatangani surat penyataan tentang menjaga kehormatan universitas atau mengingat perintah-perintah Allah. Efeknya luar biasa! Kelompok ini kembali kepada tingkat kejujuran seperti pada kelompok kontrol.

Dengan kata lain, bila kita dijauhkan dari tolok ukur pemikiran tentang etika, kita cenderung pada ketidakjujuran. Namun, bila kita diingatkan tentang moralitas pada saat kita tergoda, selanjutnya kemungkinan besar kita akan berlaku jujur. Disinilah ruang kolektif nurani dan akal sehat bekerja, begitu subjek mulai berpikir tentang kehormatan –sumpah profesi, sumpah jabatan, larangan-larangan kitab suci ataupun menandatangani surat pernyataan sederhana –mereka niscaya berpikir ulang untuk curang.

Kita perlu gerakan kontra-ketidakjujuran yang juga tidak kalah teratur, masif, dan terorganisir untuk terus mengingatkan integritas pelaku trias politica di negeri ini. Sebuah gerakan yang bertumbuh dari rakyat melalui simbol dan penyampaian yang tepat sasaran pula. Untuk itu, menurut hemat penulis, setiap ada kasus ketidakjujuran yang menimpa bangsa ini, kita perlu aksi nasional pengibaran setengah tiang bendera.

Pengibaran setengah tiang bendera ini tentu sebagai simbol berkabung atas matinya integritas, nurani, dan akal sehat. Juga sebagai pengingat kolektif bagi bangsa akan optimisme nasional. Langkah ini rasa-rasanya lebih elok dan tepat sasaran bila dibandingkan dengan demontrasi yang berujung anarkis atau harus memaksakan pejabat publik mengulang-ulang sumpah kesetiaan mereka.

Penutup

Keedanan selalu hadir di setiap zaman. Setiap orang mempunyai potensi yang sama pula untuk terjangkiti penyakit zaman edan ini, walau dengan derajat yang berbeda. Berangkat dari pemahaman ini, solusi dan aksi yang diajukan juga harus transhistori. Jika solusinya terlalu konkret dan operasional, maka hanya berlaku terbatas. Untuk itulah perlu lahir sebuah simbol prinsip yang masif guna menghadapi ketidakjujuran di negeri ini yang kian paripurna. Akhirnya, satu hal yang pasti pula, tentu bukan prestasi apabila negara yang mengatasnamakan rakyat pada akhirnya hanya memberikan mudarat; bukan manfaat. ***

Penulis adalah pemerhati masalah sosial; alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Email: jan_sparcow@yahoo.com

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/57771/kibar-setengah-tiang-bendera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: