Fina Lanahdiana

Radar Seni: Sabtu, 28 September 2013

LUBANG

aku adalah seperangkat keinginan

yang lekas-lekas engkau lupakan sebagai jadwal percakapan setiap malam

di kotak pesan tanganku memanjang,

merangkul apa dan bagaimana segala kabar aku taklukkan

di luar sana, suara engkau lingkarkan di telinga;

memutar kejenuhan yang engkau rapalkan

menjadi panas matahari yang mendekat beberapa senti

jendela ini, apakah?

pintu ini sudahkah?

kita sama-sama membiarkannya selebar dada kita

saling mendebar

tapi tiba-tiba kau banting setiap yang pernah menjadi lembaran mata kita

yang terbuka oleh rupa-rupa cahaya

lantas kita semakin mengeras sebab terkuras

oleh jarak yang semakin padat lalu lintas—

membiarkan angin mengikis cadas batu-batu yang menepi di sepanjang tubuh kita

untuk tidak membangun lubang-lubang

yang di dalamnya kita umpamakan sebagai kenangan

Juli 2013

PADA SUATU MUSIM HUJAN

udara masih dingin

kabut tebal tumbuh pada derajat celcius yang semakin subuh

aku bangun dari malam yang jaga;

beginilah, jam tidur sering menyala sia-sia

“lerailah rindu, mataku yang tiba-tiba menjadi kamu”

Januari 2013

VIRUS

ia serupa perasaan tak enak badan yang begitu cepat mengalir

memasuki setiap gang tak berpalang

semakin kita melawan

maka ia akan semakin menang

Januari 2013

PERJANJIAN JARI MANIS

tersebab pertemuan menjadi semacam ikrar

pada masing-masing kita untuk tidak membesarkan ingkar

jari manis ini lonceng jam bagi bunyi;

yang dengannya jarak akan tunduk pada rindu yang berlabuh

seperti halnya perahu yang menepi untuk menunggu matahari

kembali meninggi esok hari

kemudian deretan panjang alasan yang dibuat-buat oleh angin

adalah rumah teduh bagi hujan yang dingin

Januari 2013

TELEVISI

i

setiap hari tidak ada lagi anak-anak memenuhi seisi halaman rumah; bermain kelereng, congklak, ataupun panggalan. tidak juga ada mereka yang berkumpul pada suatu pagi kecuali  hari minggu yang tanggal merah; mencatat acara televisi pada pasrah nilai rupiah. semakin lurus saja tayangan-tayangan itu—haus pada pintu ajaib dan baling-baling bambu.

ii

selepas pulang sekolah, mereka melepas buku pelajaran pada permainan di komputer yang katanya bisa membikin mereka pandai tanpa mesti mengabdi pada catatan-catatan.  di dalam tas hanya ada alasan-alasan yang mereka buat untuk meletakkan tas punggung yang berat sebelah, juga sepatu tanpa kaos kaki yang tidak dicuci berhari-hari.

iii

aku memegang kepala televisi. barangkali ia sedang mengidap sakit demam dan tak pernah mandi meski sekedar mengusir kecemasan gerah di sepanjang kaki-kaki lengan.

iv

malam harinya, televisi kembali menjadi air mata yang penuh dengan rekayasa membanting pintu lalu pergi tanpa menyisakan apa-apa. ibu berlari meninggalkan bumbu dapur dan kompor yang masih menyala. sementara adik asik menukar pastel warna dengan bunyi kring sebuah ponsel. wajah siapa di luar jendela membunyikan irama cinta?. ini semacam teka-teki yang diciptakan tanpa bisa dituntaskan.

Februari 2013

Fina lanahdiana, lahir di Kendal 19 Februari 1992. Menulis puisi dan cerpen, saat ini sebagai mahasiswa di FIB Undip Semarang. Beberapa tulisan terangkum di dalam beberapa antologi bersama dan blog pribadi www.filadina.blogspot.com. Dapat dihubungi via twitter @filadina.

Sumber: http://radarseni.com/2013/09/28/fina-lanahdiana/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: