Tanah Kota Tua

Wawasan News: Sabtu, 28 September 2013
Oleh: Dodi Saputra

Hari ini genap enam puluh delapan tahun usia tanah ini. Jika ia seorang manusia, barangkali sudah tinggal menghitung hari saja.

Hei, ada apa ini? mengapa kalian begitu layu tak berseri? Bukankah mereka telah mengakrabimu dengan kerendahan hati?

Tanah tetap saja berdiam seribu bahasa. Murung. Ia semakin panas dan bertambah-tambah. Sedari lahir, ternyata ia telah disapih oleh mata air. Sebab, air kini telah menguning, berbau anyir, terkandung cairan darah dari rahim manusia di atas sana. Tak jarang pula bercampur lumuran kotoran sampah dari kota.

Pinggiran kota kali ini memang tidak begitu asri. Tak sesegar aroma pucuk-pucuk ranum masa lalu. Dulu, hanya tegak rumah kami bertiga yang ada. Sekeliling kami terhampar pohon-pohon hijau, ladang-ladang jagung, berpuluh hektar sawah, kebun-kebun pengisi pagi hingga senja hari. Perlahan mulai menggerah di siangnya, terlampau dingin untuk malam musim hujan. Apalagi, hanya berdiri tiga rumah seadanya. Tanpa pagar, tiada keangkuhan sedikit pun di luar atau di dalamnya. Keseharian dilalui begitu saja. Terlihat masih berusaha menghijau merekah oleh lima belas penghuni dalam tiga rumah. Mereka bercocok tanam, berkebun sayur-sayuran, palawija. Ternak ayam di pekarangan belakang rumah terus menuai hasil lebih dari lainnya. Ayam petelur dan ayam potong yang kerap mendatangkan suatu keniscayaan untuk menghidupi istri dan anak-anak mereka. Sedikit memang. Hanya tiga kepala keluarga dengan istri dan anak-anaknya.

Dahulunya terhampar sawah yang berundak-undak. Dihidupkan dengan beternak. Kakek dan nenek mengajarkan kami bertahan hidup. Sayang, itu tak bertahan lama. Sejak nenek telah mangkat, Ibulah tempat kami bersanding, berlindung dari pahitnya hari-hari, dan getirnya perjalanan nanti. Sama saja, hanya bertahan sebentar saja. Manusia harus menemui kodratnya. Takdir yang telah menggariskan catatan perjalanan hidup dan kapan mengakhirinya telah ada di batang pohon yang daunnya tidak ada yang tahu kapan masanya akan gugur. Tiba jua masa itu. Sungguh pilu.

Kini, anaknya harus mengurus rumah-rumah dan sisa kebun yang hanya tinggal sepetak sawah di belakang rumah. Itulah aku dan separuh napasku. Halaman depan rumah telah terhampar aspal, berasap ketika siang menjelang, membayang wajah-wajah kakek, nenek, juga ibu di kepulannya. Mereka hendak menggapaiku, aku turut menyertai memagut mereka. Percuma. Tetap saja tak bisa. Tenanglah kau di alam sana, biarkan anak-anakmu ini yang menghadang zaman penuh mesin itu. Kami tiada gentar demi tanah kita. Tanah nenek moyang dahulu yang bersusah-susah mengurus restu dan telah mendapat keterangan untuk hidup sepanjang umur di sana dari gubernur.

Tiga masa lelah berlalu sudah. Kami meniti setiap larik palawija, menyiangi rerumput yang menjalar riang sesamanya, memetik beberapa buah untuk direbus nanti siang. Juga persediaan malam yang terkadang harus mengepulkan dapur-dapur kami di musim penghujan. Sebab, itulah penawar dingin yang merasuk, demikianlah aroma dapur dari buah-buah yang kami dapati siang ini. Suatu pemandangan yang baru-baru ini kami temui. Ayam-ayam kami mulai gelisah melihat sejawatnya yang mati mendadak. Bukan hanya satu, tapi berantai satu demi satu bergelimpangan setiap harinya. Penyakit apa ini? aku tak mengerti. Inikah kutukan dari tangan-tangan tanah ini kepada kami yang lupa diri. Tapi, apa yang telah aku lakukan pada ayam-ayam itu? Setiap hari kami beri mereka makan dan minum, kubebaskan mereka mencari makan di kebun. Senja hari mereka pulang berjamaah. Akur. Juga pada ternak kambing kami yang sakit-sakitan. Ah, semakin sempit saja tanah ini. Hanya tinggal beberapa meter saja tanah bebas di sini. Selebihnya semen-semen dan aspal pemusnah rerumputan yang menghijau semasa kecil dulu. Bertubi-tubi masalah timbul di generasi ketiga ini. Kami merindukanmu ibu, ayah, kakek dan nenek tanpa keluh. Sungguh.

***

Terlintas olehku cerita malam itu, saat Ibu menidurkan kami. Ia bercerita tentang masa kecilnya. Tahun seribu sembilan ratusan, gubernur menandatangani surat keterangan kepemilikan tanah ini. Pertama kali diterima surat itu baik-baik oleh Nenek. Ia begitu baik pada penduduk tanah ini. Satu bulan sekali ia mendatangi rumah-rumah dan menyalami tangan-tangan kasar para petani. Bukan hanya itu, banyak karung-karung beras dan lauk pauk yang beliau bawa dari ibukota. Itu semua dibagikan di setiap rumah. Ditanyakan kabar kami semua. Jika ada yang sakit, langsung diberikan obat penawarnya. Jika ada rumah warga yang bocor, ia berikan beberapa lembar uang untuk membeli atap. Jika ada yang tidak punya baju ganti, ia kumpulkan baju-baju dari tengah kota dan diberikan kepada kami. Ia juga tak malu berjalan di pematang sawah, menilik kemuning padi, memakan pemberian kami. Ya, buah-buah yang kami rawat dari hasil perasan keringat itu, kami persembahkan untuknya. Ia memakan begitu saja layaknya manusia biasa tanpa ada gengsi atau tinggi hati. Oh, sungguh mulia hatinya. Berbahagialah hingga akhir hayatnya. Begitulah, banyak warga yang mendoakannya. Sayang, ia tak berumur panjang.

Berlanjut pula waktu pada Ibu. Waktu itu enam tahun usiaku. Kalimat yang digaungkan saat itu adalah yang disebut pesta rakyat. Pemilihan umum para pejabat tanah ini, berjejeran foto-foto dengan senyum manis dan wajahnya yang bersih. Bukan seperti wajah kami yang susah mengukir senyum, apalagi sebersih di foto yang terpajang di depan rumah kami. Kata-katanya sungguh indah, semua mengajak untuk memajukan kesejahteraan tanah ini, membangun rencana besar, merubah tanah ini menjadi tanah yang lebih baik. Demikianlah lebih kurang tertera  jelas melekat di sebelah nama mereka yang berpangkat-pangkat. Aku ikut Ibu menuju kotak suara hingga menanti pengumuman hasil perolehan suara. Terpilihlah pasangan yang ternyata gambar wajahnya ada di baliho besar depan rumah kami. Kami mulai bahagia mendengar hal itu. Siapapun pemenangnya, yang penting bisa membawa perubahan lebih baik bagi tanah ini. Demikian kalimat dari mulut Ibu yang masih kuingat sampai kini. Ibu tidak sempat melihat alamku setelah itu, sebab Ibu telah mendahului kami. Melebur dengan tanah. Menyubur dan menanti buah-buah yang merekah.

***

Masa mengabarkan bahwa akulah manusia terakhir pewaris tanah ini. Lain generasi lain pula kompetisi. Akulah manusia zaman ini. Tinggal bersama istri dan ketiga anaku. Juga dua rumah berhuni sepuluh kepala di sebelah kami. Ada-ada saja ketidaknyamanan padaku. Apalagi menerima selembar surat dari pejabat itu. Rumah kami minggu depan akan digusur. Begitu ujarnya. Mengguntur di kepalaku. Membentur di benakku. Berdebur dalam dadaku. Sepanjang satu kilometer pejalan kaki sepertiku berlalu lalang menyaksikan papan plang yang bertuliskan “tanah ini milik kota tua”.

Sebenarnya bukan itu yang kami takutkan, melainkan surat peringatan yang telah terlayang satu pekan lalu. Berita penggusuran. Pemimpin kota tua itu meminta tiga keluarga angkat kaki. Ada apa ini? Bukankah tanah ini telah bersurat dari gubernur masa nenek dulu? Ataukah pejabat baru tanah ini yang tidak tahu nasib kami? Oh, Tuhan,  sungguh tak mungkin aku bertanya pada ibu atau nenek. Aku hanya bisa berharap. Tolong tunjukkan hitam dan putih tanah ini. Terlalu indah kami berpisah dengan tanah ini. Terlalu cepat dibanding kepergian nenek dan ibu kami. Semoga mereka merestui.

***

Pagi ini aku menuntaskan mengambil ketela dan pucuk singkong di kebun belakang rumah hingga fajar menyingsing. Satu ikat daun ubi, tiga ketela pohon telah kudapat dan satu karung sayuran untuk kujual nanti sore. Dan tanah yang telah kusiangi dari rumput-rumput liar. Berjalanlah aku dengan topi sawah di kepalaku. Siang ini sungguh terik, terpaksa kukerutkan sedikit kening dan menekan sedikit alis menahan sinaran penguasa siang. Mengucur jualah keringat dari kening, turun setibanya di rambut-rambut alis dan jatuh setibanya di pipi kanan dan kiri. Ah, tak seperti biasanya keringatku sebanyak ini. Ada yang tidak beres dengan hari ini. Aku mulai tidak nyaman. Sebotol air dan bekal dari rumah tadi setidaknya bisa mengganjal dahaga dan perut ini. Setengah hari telah berlalu, itu mengisyaratkan padaku untuk segera pulang ke rumah. Ya, seperti hari-hari biasa, kami menggelar sajadah dan berjamaah.

***

Tiga puluhan meter mendekati rumah, alangkah terperanjatnya aku. Di sana, tepat di halaman rumah kami kulihat ibu-ibu yang menggendong anaknya. Mereka menghadang ratusan aparat yang siap membobol rumah. Sejenak kukenali salah satunya adalah istriku yang membawa balok-balok kayu. Mudah saja menandainya. Ia yang berjilbab sedikit panjang hingga ke bawah dada, berkaos kaki, dan bersarung tangan. Sementara anakku menangis ketakutan dan memegang erat selendang yang terikat di dadanya. Zahid kecil hanya bisa menangis dan terus menyembunyikan wajah di balik jilbab istriku.

“Aarrrggghhh.” Suara jerit berhasil kuciptakan. Aku mulai geram. Berlari sekencang yang aku bisa. Melompati bandar-bandar dan putri malu yang durinya tak terasa lagi olehku. Melindungi istri dan anakku. Sungguh istriku ini, wanita yang tangguh, gagah berani menghadang pasukan itu. Tanpa mau menggangguku sedikitpun mencari nafkah di ladang gerah. Entah berapa lama ia dan tetangga kami berdiri di hari yang terik ini. Aku yakin, tadi ia sudah menyiapkan air untuk mandiku, menyiapkan sarung dan kopiah serta sajadah kecil buat si Zahid yang lucu dan menggemaskan. Semua itu tertahan sudah oleh siang yang menegangkan urat sarafku. Ada benarnya juga keringat yang jatuh di pipi tadi. Di hadapan kami telah terpajang lima ratus kepala pemusnah, menghadang dan mendekat bersama dua buldozer dan eskavator yang meraung-raung dan mengepul. Siap meratakan bangunan dengan tanah. Padahal hanya lima belas orang saja yang akan mereka hadapi. Ya, lima laki-laki paruh baya, lima ibu-ibu menyusui, dan lima anak-anak yang beranjak remaja. Hanya itu.

Ketiga kepala keluarga, termasuk aku mencoba mempertahankan rumah dari kekuatan mereka, buldozer dan eskavator. Mendorong dengan sisa-sisa tenaga siang ini. Peluh yang tadi mengering, kembali berlumuran bersama wajah, kulit yang memerah, dan otot-otot penat yang mengurat. Usaha ini tak berbuah hasil. Aku mengambil ban dari sudut rumah dan membakarnya. Sengaja kubuat agar mereka tak mendekat. Baru saja hidup api, puluhan rentak sepatu berdatangan. Mereka menerjang, memukuli ban itu dan langsung memukulku hingga berdarah. Darah mengucur dari kepala dan mengalir di kelopak mata. Pandanganku mulai buyar, tak seimbang. Tapi masih tampak orang-orang yang berdiri di sana. Syukur telingaku yang masih berfungsi normal.

“Hahaha… rasakan pukulan kami. Mau angkat kaki atau berdarah-darah oleh kami, ha?” Salah seorang ketua rombongan itu dengan santai menertawai kami.

Datanglah satu orang mencoba melerai, Fatah ternyata. Suami Siti. Apalah daya. Pasukan perata tanah terlalu kekar baginya. Terlalu tinggi kalau hanya sekedar memukul kepalanya. Terlalu berat jika hanya ingin mendorongnya. Sekepal tinju mendarat sudah di hidungnya. Darah tak diminta pun meleleh dengan sendirinya. Hantaman pentungan-pentungan mendarat di kepalanya hingga bocor. Basahlah rambut hitamnya dengan cucuran darah dari kulit kepala yang tercabik. Ia terduduk mengaduh kesakitan. Luka memar pun bertambah saat tendangan menerjang dahinya. Ia tersungkur  mundur. Tendangan dari kaki bersepatu super keras melesat di dada mudanya. Tumbang dan terbuang bersama pagar yang menjulang. Rebah dan tiada daya. Hanya mata yang setengah redup, setengah menyala menahan lintasan darah dari keningnya sambil menggapai-gapai bersama lima jari tangannya. Terlalu banyak darah yang mengucur di dahi, menamatkan riwayat suami Siti.

Kaki yang sedari tadi mencoba menopang raga itu, akhirnya menyerah jua dan tumbang untuk kedua kalinya. Kini, aku meronta dalam dada menyaksikan rumah dan kandang ternak digusur, dibakar di hadapan kami, diberi garis kuning pembatas pertanda api lilin kehidupan telah ditutup erat oleh setangkup gelas putih tapi mematikan setiap kehidupan di dalamnya. Bahkan binatang-binatang kecil pun menyertai kematian nurani peminum kekuasaan di tanah itu.

“Kamu tahu tidak? Ini perintah pimpinan, harus dilaksanakan!”

“Ya, kami tahu itu perintah pimpinan, tapi lihatlah mereka yang di sana, mereka menangis, mengiba, hanya bisa memohon pada Tuhannya. Tanpa tahu kapan dan di mana akan berteduh dari muntahan penguasa siang dan hembusan angin malam yang menusuk tulang mereka setiap hari. Apa kalian merasakan hal itu, hah?” Emosiku meledak sesaat.

Seharusnya aku mengucap berkali-kali agar setan tidak menguasai pikiranku. Terus aku menggeleng. Demi perintah atasan, mereka rela diperintah. Mau saja menuruti kemauan tuannya. Perintah Tuhannya bagaimana? Manusia telah jauh ditakuti daripada perintah tuhannya sendiri. Bukankah Tuhan mengajarkan kepada makhluknya untuk saling berkasih sayang. Sekarang, dimana kasih sayang itu? Malahan yang ada hanya perpecahan silih berganti. Kami yang selalu membasuh telapak tangan hingga kaki, rutin lima kali sehari, juga membaca kalam-kalam yang tersurat dari pendahulu kami. Akur sesama kami. Kini kami, tiga keluarga menanti keadilan di tenda pembaringan. Baiklah, boleh jadi di pengadilan dunia kami kalah, tapi nanti lihatlah pengadilan yang sesungguhnya. Lihatlah!

***

Ayam pun bermenung melihat sesamanya, bulu-bulunya kisut, tampak kulit-kulit kemerahan di sela bulunya. Melihat kandangnya hancur di lalap jago merah. Aku dan keluargaku, kami yang ada di tenda ini harus banyak-banyak belajar bersabar. Sadar dengan hidup yang hanya sebentar lagi. Sisa umur juga tidak ada yang pasti. Tidak ada yang tahu kapan ajal menjelang. Tua, muda, kecil, dewasa, laki-laki, wanita semua pasti menemui. Akankah mereka tetap menutup mata dan terus tertawa di atas ratapan orang-orang kecil? Tanah ini juga masih mau menerima kehadirannya. Untung saja tanah ini masih berbaik hati, sebab jika tidak, tanah ini tidak segan-segan meluapkan kemarahannya, menggoncang sekuat-kuatnya, menyemburkan api yang menyala-nyala dari dalam perutnya, ia buka mulutnya lebar-lebar dan langsung dengan mudah menelan setiap yang memijaknya. Oh, sungguh mengerikan suasana kala itu nanti.

Bisa saja detik ini mereka berjaya dengan deruan mesin-mesin di tangannya. Sesuka hati memeras keringat tanpa tahu berucap terima kasih pada leluhur mereka. Bukan mengharap imbalan atau apa pun namanya, melainkan mulut mereka yang telah disumpali gemerlap tanah ini. Aku menguatkan kaki, menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Terasa aliran air mengguyur wajah hingga telapak kaki. Barangkali sedang mengeja hari-hari para peladang yang terbuang oleh hentakan mesin-mesin ilusi masa ini.

Aku menghilang bersama mereka dan tak akan kembali di dunia penuh sesak ini. Tanah kota tua yang kami pijaki selama ini akan berpindah dan tampak indah. Suatu saat nanti, di tanah yang berbeda di masa yang berbeda, kita akan temukan tanah-tanah lapang. Di sana kita bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya, memetik buah dari hasil panen kita, meminum mata air yang memancar dari bukit-bukit, membuat rumah-rumah. Rumah yang kekal selama-lamanya. (Padang, 2013)

 ______________________________
Dodi Saputra. Lahir di Mahakarya, 25  September 1990, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Mahasiswa Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Menulis cerpen, cerber, opini, puisi, essai, berita, resensi dan novel. Tulisannya  dimuat di Harian Umum Independen Singgalang, Harian Umum Rakyat Sumbar, Harian Umum Haluan, Lampung Post, Riau Pos, dan Radar Bromo. Kini bergiat di Forum Lingkar Pena Sumatera Barat dan Sanggar Menulis Rumahkayu Padang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: