Pelacuran Politik dalam Demokrasi Modern

Harian Analisa: Jumat, 25 Oktober 2013

Oleh: Gamalielo

Rupanya potret politik kita menuju pemilu 2014 mulai ditaburi kerikil tajam. Baru-baru ini sebuah lembaga bernama Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Minggu (20/10) merilis probabilitas partai dan capres yang akan memuncaki pemilu legislatif dan Presiden pada 2014.

Dalam pemaparannya, peneliti LSI, Adjie Alfaraby mengungkapkan, jika pemilu digelar sekarang maka Partai Golkar bakal meraup suara terbanyak yakni 20,4 persen, disusul PDIP18,7 persen, dan Partai Demokrat 9,8 persen. Gerindra meraih 6,6 persen, PAN 5,2 persen, PPP 4,6 persen, PKB 4,6 persen, PKS 4,4 persen, Hanura 3,4 persen, Nasdem 2 persen, PBB 0,6 persen, dan PKPI 0,3 persen.

Yang belum menentukan pilihan sebanyak 19,4 persen. Adjie menambahkan, berdasarkan survei itu hanya ada tiga calon presiden (capres) riil,yakni Aburizal Bakrie (Golkar dan koalisinya), Megawati Soekarnoputri (PDIP dan koalisinya), serta pemenang konvensi Partai Demokrat. Sedangkan Jokowi (PDI-P) dan Prabowo (Gerindra) hanya dianggap sebagai capres wacana sehingga posisi kedua sosok tersebut ‘dihilangkan’ dalam survei tersebut.

Dalam survei tersebut LSI menggunakan tiga ukuran/indeks, pertama, capres dicalonkan tiga parpol teratas dalam perolehan suara pemilu. Kedua, capres merupakan pengurus struktural partai. Ketiga, capres dicalonkan secara resmi oleh parpol.

Tentu saja banyak pihak terkejut membaca hasil lembaga survei yang diketuai Denny JA tersebut. Tak sedikit pengamat mengatakan bahwa survei tersebut sangat tendensius karena mencoba merongrong opini publik ke arah konstruksi pemikiran lembaga survei.

Memang benar juga, setelah diserbu kritik oleh publik, Ketua DPP Partai Golkar, Ade Komarudin di Gedung DPR, mengakui bahwa LSI adalah salah satu lembaga survei yang sering dikontrak atau didanai untuk melakukan sebuah survei, baik survei partai politik maupun calon presiden  (22/10/2013).

Partai Golkar tak mau ambil pusing dengan banyaknya kritik terkait hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menguntungkan partai berlambang pohon beringin itu. Ade menambahkan, tidak sewajarnya mereka mengkritisi hasil survei tersebut. Pasalnya, masing-masing lembaga survei memiliki hak untuk melakukan riset dengan metodologinya masing-masing, tambahnya lagi.

Titik Krusial

Namun di sinilah titik krusial kelemahan pernyataan Ade tersebut. Pengakuan bahwa Denny JA adalah lembaga konsultan politik serta menghimbau agar publik tidak mempersoalkan hasil survei LSI karena tiap lembaga survei memiliki teknis metodologi tersendiri yang akan dipertanggungjawabkan sungguh sebuah pernyataan yang invalid.

Survei, kita tahu merupakan alat rekam persepsi yang digunukan untuk mengukur sejauhmana respons publik terhadap realitas yang ada dengan menggunakan standar metodologi yang obyektif dan akurat menurut kaidah saintifik.

Karena survei merupakan alat untuk merekam persepsi publik, maka hasilnya sedapat mungkin mencerminkan kebenaran umum dengan penjelasan skriptual yang bisa diterima oleh logika kebanyakan. Karena itu ketika simpulan survei menunjukkan kuantifikasi yang berbeda dari kecenderungan pengetahuan publik maka di sinilah kita bisa mempertanyakan sejauhmana independensi lembaga tersebut dalam mennyimpulkan hasil surveinya?

Formulasi capres riil dan wacana dalam format riset LSI langsung menunjukkan bahwa riset ini sejak awal sudah dikendalikan oleh logika partisan yang diwakili oleh konstruksi pertanyaan restriktif tanpa memberikan ruang yang luas bagi obyektifitas penilaian publik. Misalnya, asumsi bahwa Prabowo dan Jokowi hanya bakal menjadi capres wacana adalah asumsi prematur yang menciderai basis rasionalitas publik karena proses politik pada kenyataannya masih terus berjalan dan segala kemungkinan politik pun masih terbuka untuk hitungan beberapa bulan ke depan, apalagi politik memiliki resiliensi (kelenturan)-nya tersendiri. Artinya, peluang masih terbuka bagi capres yang berada di posisi buntut sekalipun untuk terus menggalang sosialisasi secara efektif.

Dalam kasus Jokowi, sekalipun ia belum dipastikan mendapat tiket oleh partainya sebagai capres, namun frekuensi dukungan publik yang bergema terhadapnya selama ini mestinya masuk dalam sensitifitas pertimbangan survei. Publik bahkan jajaran internal PDIP pun juga belum bisa memastikan apakah Megawati akan maju sebagai capres.

Demikian pun dengan Parobowo, meskipun elektabilitas partainya masih belum memadai untuk mencalonkannya sebagai capres namun bukan berarti langkahnya sudah tertutup. Fluktuasi dukungan politik yang berkembang sejauh ini tetap masih menyisakan peluang bagi partai Gerindra untuk mendongkrak elektabilitasnya. Kalaupun saat ini Prabowo belum mendeklarasikan secara resmi sebagai capres, hal tersebut hanyalah masalah pertimbangan taktis dan timing politik.

Rekayasa Murahan

Tak mengeherankan jika banyak ekspertis politik yang menduga hasil survei LSI hanyalah simulasi rekayasa murahan atas nama survei publik untuk menyederhanakan kompetisi politik yang mendukung klien tertentu. Perhitungannya tentu saja, dengan membaiat Megawati sebagai capres diharapkan kompetitor dari partai lain lebih mudah membangun strategi pemenangan politiknya ketimbang jika harus berhadapan dengan Prabowo atau Jokowi yang di survei-survei lain justeru menempatkan dua figur ini sebagai capres unggulan.

Kita tahu meskipun elektabilitas Partai Golkar masih berada di posisi tiga besar, namun dengan berbagai kasus-kasus hukum yang menimpa partai ini belakangan bukan tidak mungkin ia bisa terdegradasi dari level aman parliament treshold maupun president treshold.

Itu sebabnya partai ini akan berusaha menerapkan strategi khusus untuk melawan resistensi publik agar kepercayaan publik tetap bisa dipertahankan salah satunya dengan intens memanfaatkan sumbangan pikiran lembaga konsultan politik yang kini bertebaran bak cendawan di musim hujan.

Tidak ada yang salah dengan eksistensi konsultan politik apalagi di era demokrasi modern seperti saat ini. Namun masalahnya adalah ketika kepentingan partai dijadikan justifikasi untuk menggiring persepsi publik lewat sentuhan propaganda media maka prinsip saintifik politik akan tereduksi menjadi sebatas iklan politik kelompok pemesan yang tengah mencoba meraih keuntungan lewat effect band wagon untuk mengakali kecenderungan pemilih (Ian Wards dalam Politic of the Media, 1995).

Cara seperti inilah yang dibenci oleh Michael Faucault (1978) karena menempatkan pengetahuan dan bangunan keilmuan hanya sebagai komoditi kekuasaan belaka. Kita tahu hasil survei LSI yang mirip juga pernah dirilis di bulan Maret 2013, ketika LSI menyodorkan formasi Jokowi sebagai calon wakil presiden berpasangan dengan capres Aburizal Bakrie.

Formasi ini pun dinilai janggal dan tidak akurat karena dalam sejarah kohesifitas politik dalam pemilu dua partai ini memiliki histori kimiawi politik yang berbeda. Nampak, bahwa LSI berupaya mengontrol logika publik agar pilihan politik ke depan bisa menguntungkan partai/kelompok kepentingan tertentu.

Dengan politik survei seperti ini, pembangunan demokrasi bisa terancam mandek, karena ruang kontestasi politik diisi oleh kultur hegemoni politik kapital yang bersifat jangka pendek dan menyesatkan. Ini sebuah pelacuran intelektual dalam bingkai demokrasi yang tidak mendidik rakyat selain menjadikan rakyat sebagai boneka kepentingan para penguasa.

Rakyat tidak boleh berhenti untuk bersikap kritis karena itu diperlukan pula analisis tandingan dari pakar/ilmuwan politik independen untuk menerjemahkan setiap hasil-hasil survei yang ada sehingga bisa menyelamatkan logika publik. ***

Penulis adalah pemerhati sosial politik

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/57471/pelacuran-politik-dalam-demokrasi-modern

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: