Pesantren dan Paham Konservatif

Duta Masyarakat: Senin, 21 Oktober 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

“Mungkin akan cukup jelas jika golongan sekularisme melihat langsung kiprah agama dan pesantren dalam memantik moral bangsa ini. Seperti yang diejawantahkan oleh Gus Dur (dalam Martin Van Bruinessen, 2012:xiii) bahwa berbagai peneliti dalam melihat arus perjalanan agama dan pesantren mengacu pada peranan Wali Songo yang merintis keberadaan agama Islam dan pesantren di nusantara ini. Jika melihat konsep Gus Dur ini tentu paham sekularisme dan stigma pesantren yang dianggap sebagai lembaga konservatif akan menemukan jalan buntu dan tanpa referensi yang benar. Karena awal mula kehidupan bermoral baik juga dipelopori oleh Wali Songo yang berangkat dari pesantren melalui jalur agama Islam. Tidak mungkin bangsa ini tanpa peran Wali Songo melalui pengaplikasian pendidikan dalam dunia pesantren dan kekuatan beragama akan menemukan kemajuan”.

Mengutip ungkapan Abd. Halim Soebahar (2013:1) mengatakan bahwa sebagian pengamat menilai bahwa angin transformasi sengaja dihembuskan oleh pemerintah terhadap pesantren karena dua pertimbangan. Pertama, pesantren sebagai lembaga tradisional yang terbelakang dan kurang partisipatif, namun memiliki potensi besar dalam hal memobilisasi sumber daya lokal, sumber tenaga kerja potensial, dan sumber dukungan politik. Bahkan, lebih jauh, pesantren bisa saja menjadi lembaga kekuatan tandingan (counter vailing power) yang potensial. Kedua, pesantren dapat dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan, seperti sosialisasi gagasan, mobilisasi sumber daya pembangunan, dan lain sebagainya. Selain itu, pesantren dapat dijadikan instrumen untuk memekarkan dan melestarikan dunia politik.

Fazlur Rahman (dalam Abdou Filali-Ansary, 2009:218) juga tidak mengakui konsep berakhirnya “peradaban-peradaban” tradisional dan dominasi peradaban dunia yang tunggal. Kenyataan bahwa  kaum Muslim belum maju, menurutnya dapat dijelaskan dengan kelemahan pemikiran teoritis dan intelektualisme filosofis.

Penemuan Islam pada zaman modern telah terjadi melalui prisma nasionalisme. Meskipun ada potensi konflik di antara nasionalisme dan agama, keduanya tidak dapat dipisahkan. Harus dikatakan bahwa pada awalnya gerakan-gerakan pembaruan menangani dua “front”, front pembaruan dari dalam dan front pertentangan dengan orang dari budaya lain. Dibandingkan dengan gerakan-gerakan pasca-kemerdekaan, yang perhatiannya disita oleh rekonstruksi dan pembaruan politik, gerakan-gerakan itu diwarnai, bahkan dibentuk oleh tantangan ganda ini.

Sejenak terbesit dalam benak kita bahwa dunia pesantren hanya manjadi kambing hitam para elit politik untuk menanamkan pengaruhnya melalui kecaman keterbelakangan. Secara tegas dan jelas, Soebahar ingin mengatakan bahwa pesantren sebenarnya tidak ketinggalan zaman. Namun hanya tertutupi kain politik yang berada di sekitarnya, sehingga peran dan kiprah pesantren dalam memajukan umat manusia tidak tampak dengan jelas. Padahal di balik itu semua, pesantren memiliki andil besar dalam mentransformasi masyarakat menuju dunia yang modern yang penuh dengan alat-alat canggih pada saat ini.

Sehingga dengan kepentingan politik itu, dunia pesantren mendapat sorotan miris menjadi lembaga kolot tanpa peradaban yang maju. Sebenarnya, bidikan pesantren dalam memantik menjadi manusia berperadaban sangat ulung. Berbagai literatur kehidupan hingga sejarah para pemikir pada zaman dahulu kala menjadi tuntutan tersendiri bagi para santrinya dalam menghadapi kehidupan kelak setelah keluar dari pesantren. Lihat saja asal usul yang membawa perubahan dalam skala nasional. Mereka mayoritas dari kalangan pesantren yang dianggap lembaga konservatif oleh publik.

Membunuh Sekularisme

Pandangan sinis pada agama, khusunya dunia pesantren sering terdengar. Misalkan ungkapan bahwa dalam memperbaiki moral bangsa ini tidak harus mengacu pada (keyakinan) agama. Sehingga hal semacam ini membuka wacana baru dan polemik dalam media massa, para pemikir dan agamawan. Jika kita lebih jeli dan kritis lagi melihat fenomena semacam ini, tentu kita akan menemukan dalang dan kepentingan ungkapan di balik itu semua. Dan jika kita kaji melalui analisa ranah politik dan komunis, tentu ungkapan semacam itu ingin membunuh eksistensi agama dan utamanya kiprah pesantren yang mengayomi masyarakat untuk terus maju dan berkembang melalui perbaikan moral, dan cara pandang mereka masing-masing.

Stigma semacam todongan pesantren merupakan lembaga konservatif dan perbaikan moral bukan lagi urusan agama, maka secara jelas pesantren mendapat stereotip negatif guna melengserkan keberadaan agama dan pesantren yang memiliki kiprah besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Aliran sekularisme terhadap agama dan pesantren dengan taktiknya telah memberikan pandangan stereotip. Karena secara serta merta, stereotip itu membangun asumsi publik sehingga tidak boleh tidak yang mendapat pandangan stereotip tersebut kerdil dan harus seperti yang diasumsikan oleh publik (A. Dardiri Zubairi, 2013:121).

Keberadaan sekularisme dan stigma konservatif pada dunia pesantren harus mampu dihalau oleh agama dan pesantren itu sendiri dengan metodenya masing-masing. Selain sekularisme dan stigma konservatif dunia pesantren menjadi ancaman kematian agama dan pesantren di era globalisasi ini, setidaknya publik juga menjadikan acuan utama bahwa agama dan pesantren merupakan hal yang perlu menjadi pijakan dalam memajukan kehidupan berbangsa-bernegara dan untuk memperbaiki moral bangsa ini. Dengan demikian, stereotip itu akan terbangun pada arah yang lebih mendidik serta menjadikan agama dan pesantren lebih baik dalam memberikan layanan publik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungkin akan cukup jelas jika golongan sekularisme melihat langsung kiprah agama dan pesantren dalam memantik moral bangsa ini. Seperti yang diejawantahkan oleh Gus Dur (dalam Martin Van Bruinessen, 2012:xiii) bahwa berbagai peneliti dalam melihat arus perjalanan agama dan pesantren mengacu pada peranan Wali Songo yang merintis keberadaan agama Islam dan pesantren di nusantara ini. Jika melihat konsep Gus Dur ini tentu paham sekularisme dan stigma pesantren yang dianggap sebagai lembaga konservatif akan menemukan jalan buntu dan tanpa referensi yang benar. Karena awal mula kehidupan bermoral baik juga dipelopori oleh Wali Songo yang berangkat dari pesantren melalui jalur agama Islam. Tidak mungkin bangsa ini tanpa peran Wali Songo melalui pengaplikasian pendidikan dalam dunia pesantren dan kekuatan beragama akan menemukan kemajuan.

Setidaknya menurut Martin Van Bruinessen (dalam Abd. Halim Soebahar, 2013:140) menyebutkan pula bahwa pesantren yang berada di bawah naungan agama Islam selain mempelajari ilmu tata sosial (fiqh) juga mempelajari filasafat yang merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan. Pesantren dan agama tidak dapat dipisahkan melihat dari sisi keilmuan yang dikembangkan melalui visi dan misinya yang bertujuan untuk menciptakan manusia seutuhnya dari keterbelakangan untuk menghadapi kemajuan.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Lebih lanjut tulisan ini bisa dibaca di: http://dutaonline.com/20/10/2013/pesantren-dan-paham-konservatif/ . Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: