Menjunjung Tinggi Nilai Toleransi dalam Beragama

Harian Bhirawa: Jumat, 4 Oktober 2013

Cover Kun Fayakun Kun La Takun Menyegarkan Kembali Gagasan Islam (Junaidi Khab)

Cover Kun Fayakun Kun La Takun Menyegarkan Kembali Gagasan Islam (Junaidi Khab)

Judul               : Kun Fayakun Kun La Takun Menyegarkan Kembali Gagasan Islam

Penulis             : Irfan L. Sarhindi

Penerbit           : bunyan

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : xiv + 198 hlm.; 20,5 cm.

ISBN               : 978-602-7888-45-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Toleransi merupakan salah satu sifat yang mesti dimiliki oleh tiap-tiap individu, dari individu terus digulirkan pada agama, ras, etnis, politik, paham, dan berbagai kelompok untuk terus menjunjung tinggi nilai toleransi. Tujuannya tak lain agar kita bisa hidup dengan damai, tenteram, aman, dan sejahtera. Toleransi patut diterapkan di bumi yang penduduknya majemuk. Di sana terkadang sering ditemukan bentuk intoleransi antarsesama karena perbedaan yang dimilikinya. Maka dari itu, nilai toleransi perlu diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia guna menjaga kerukunan antarsesama umat manusia.

Buku ini mengajak untuk berpikir lebih dalam, kritis, dan penuh introspeksi diri dalam menjalani kehidupan yang penuh perbedaan ini. Kita sebagai umat manusia sejatinya bersaudara yang terlahir dari Adam dan Hawa. Namun karena perbedaan, maka kita seakan bukan saudara di bawah keturunan Adam dan Hawa. Sebuah perbedaan dalam berbagai hal semestinya tidak menjadi awal dari perpecahan. Utamanya dalam jiwa umat Islam sendiri yang saling tuduh-menuduh terkait suatu hukum yang tidak sepaham dengan yang lainnya.

Hakikatnya, perpecahan karena perbedaan ini disebabkan oleh; merasa diri kita sebagai yang paling benar, kita terlalu mudah menghakimi seseorang atau suatu golongan sebagai sesat, dan militansi yang buta. Sikap diri yang merasa paling benar rentan menjadi buta terhadap dosa dan kesalahan sendiri. Tetapi sangat jeli dan keras terhadap dosa dan kesalahan orang lain. Dosa besar akan dianggap sebagai hal kecil yang manusiawi. Sedangkan dosa kecil orang lain mendorong untuk memantaskan bagi mereka hukuman “rajam”. Dia sesungguhnya tuli atas masukan yang disampaikan orang lain dan buta terhadap kebenaran (Hal. 85-86).

Sebuah bentuk ulasan yang cukup menghipnotis para pembaca hingga menyadari bahwa perpecahan hanya karena perbedaan itu tidak boleh. Namun, “berbeda” dalam segala hal itu sah-sah saja asal perbedaan itu tidak dipaksakan pada orang lain. Terserah orang lain mau mengikuti yang beda itu atau tidak. Jika ada yang berbeda, kita tidak harus memusuhi dan menghasut orang lain agar juga ikut memusuhi. Misalkan konflik yang mengatasnamakan gologan Syi’ah dan Sunni di sampang. Tidak elok sesama Islam bertengkar, sekali lagi Islam tidak melarang perbedaan. Namun jika bentuknya memaksa, dan melakukan vonis terhadap suatu golongan atau individu, maka ini perlu dipikirulang.

Sedangkan yang menjadi penyebab konflik keyakinan dalam tubuh umat Islam tak lain perbedaan pendapat baik atas suatu kandungan al-Quran, dan al-Hadits maupun kehidupan sehari-hari yang tidak ada di dalam keduanya dan mengikuti ijma’ ulama’ berdasarkan ijtihadnya. Hal yang menjadi pemicu konflik juga yaitu perbedaan yang dipaksakan pada orang lain yang tidak sama dengan dirinya. Dengan kata lain, hak untuk bebas dalam tataran memilah dan memilih sudah mulai dirampas.

Misalkan sabda nabi Muhammad Saw. yang sering diterjemahkan dalam arti memukul/menghancurkan yaitu; “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Kita jangan dengan mudah menarik makna “mengubah dengan tangan” seperti yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) di Indonesia ketika bulan Ramadhan. Sederhana saja, antara “mengubah dan menghancurkan” sangat jauh berbeda. Ketika FPI bertindak yang kata mereka ingin mengubah, namun kenyataannya merusak. Sehingga masyarakat merasa dirugikan oleh ulah FPI yang militan itu. Padahal setelah FPI melakukan tindakan, tidak ada perubahan bagi mereka. Bahkan mereka malah membenci cara mereka membela Islam.

Jika dengan cara yang salah, Islam tidak usah dibela. Cara kekerasan hanya menimbulkan kebencian. Lihat sejarah penyebaran Islam di Eropa. Di sana tidak berhasil metode ekspansinya dengan jalan peperangan (kekerasan). Namun di Indonesia yang diprakarsai oleh para Wali Songo Islam menjadi dominan. Itu tak lain karena metode yang digunakan untuk menyebarkan Islam sangat halus dan fleksibel. Sehingga ajaran (agama) Islam mudah diterima oleh penduduk pribumi. Tidak heran jika Islam di Indonesia menjadi mayoritas. Memahami al-Hadist atau al-Quran jangan serta-merta hanya melihat secara tekstualnya saja. Namun secara mendalam dan lebih luas agar kita tidak terjebak dalam persepsi yang dangkal (Hal. 119).

Kehadiran buku ini tidak serta-merta menyalahkan golongan tertentu. Namun, ulasan di dalamnya merupakan upaya kajian mendalam agar kita sesama umat manusia, utamanya umat yang beragama dengan pemahaman yang berbeda tidak terperangkap dalam penafsiran yang dangkal. Dalam kemajemukan seperti di Indonesia ini kita perlu menjunjung kesamaan hak dan kewajiban, serta nilai toleransi yang tinggi. Silakan berbeda asal tidak memaksa orang lain. Apa yang kita pahami tidak harus menjadi pemahaman orang lain. Karena belum tentu pemahaman (yang beda) kita benar, dan belum tentu pemahaman orang lain salah. Mari utamakan hidup toleran demi menjaga keutuhan hidup umat manusia.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Tulisan tersebut juga bisa dibaca di: HARIAN BHIRAWA PUSTAKA Jumat, 4 Oktober 2013 Menjunjung Tinggi Nilai Toleransi dalam Beragama. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: