Sepucuk Surat

METRO RIAU: MINGGU, 06 Oktober 2013

Oleh: Junaidi Khab*

METRO RIAU Ahad 06 Oktober 2013 Sepucuk Surat (Junaidi Khab)

METRO RIAU Ahad 06 Oktober 2013 Sepucuk Surat (Junaidi Khab)

Langsung aja! Jujur sampai saat ini aku ga’ kenal siapa itu Firman, dan sampai sekarang pun dia ga’ nyapa aku. Maksudnya nganggap teman aja ga’ and kalo’ kamu nanya’ apa perasaan kamu sama dengan aku, aku ga’ bisa jawab tapi aku berharap semoga saja surat ini cukup untuk menjawab semua pertanyaan kamu. Aku”.

Firman cukup terlapuk hatinya setelah mendapat oretan sepucuk surat dari seorang gadis yang pertama kali singgah di hatinya. Awalnya Firman sedikit memiliki rasa tidak pẻdẻ untuk mengutarakan isi hatinya dengan terang-terangan. Namun dengan seringnya digojlok dan didukung kuat oleh teman akrabnya, Ija. Firman jadi tambah berani untuk mengutarakan apa yang menjadi duri dalam hatinya yang menusuk-nusuk begitu kuat namun begitu indah dan nikmat. Ibarat gatal yang dirasakan oleh kulit, digaruk malah tambah mengasyikkan dan nikmat akan tetapi luka akibat garukan itu akan terasa panas dan sakit setelah rasa gatal itu sirna.

Cinta itu ibarat kulit gatal yang digaruk. Sekali merasakan garukan, maka rasa nikmat dan kurang digaruk yang ingin untuk dilakukan. Begitulah mungkin kiranya cinta yang sering bersemi pada remaja seusia Firman. Firman mengalaminya. Saat cintanya dibiarkan saja ya biasa-biasa saja. Namun setelah cinta itu mulai dipermainkan maka rasa ingin terus bercinta dengan orang yang dicintai akan terus berlarut hingga tak ada batasnya.

Sayang sekali cintanya pertama kali ini berbuih pada seorang yang pernah bermain dengan gatal itu. Sedangkan Firman belum sama sekali. Firman tidak tahu gatal itu harus dibagaimanakan. Lebih-lebih ketika Firman ditanya oleh Ija.

“Kamu dah punya cewek ga’?” Pertanyaan yang cukup sulit untuk Firman jawab. Karena apabila dijawab, Firman akan mendapat nilai nol, jawabannya salah.

Cinta pertama Firman cintanya gagal. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Balasan surat yang diharapkan yang bisa sesuai dengan keinginannnya ternyata di luar dugaannya. Setelah Firman menerima balasan surat yang ditulis pada kertas sobekan yang sederhana dan agak menghina, Firman sedikit murung. Hari-harinya dipenuhi oleh perasaan sedih. Biasanya Firman dengan Ija sering bercanda. Kini dia hanya diam saja. Karena Ija merasa gagal dengan kata-katanya bahwa perempuan yang dimaksud tidak ada rasa cinta yang dirasakan olehnya.

Firman hanya bisa menerima dan berdiam diri menjauh dari teman-teman SMA-nya. Betapa sangat sial nasibnya mengutarakan perasaannya pada orang yang tak mencintainya. Hatinya berusaha dengan sekuat mungkin menahan rasa sedih akibat cintanya yang salah alamat. Memang dalam pandangannya, dengannya tidak ada kecocokan dari beberapa kelebihannya.

***

Berselang beberapa hari dari kekelaman pengalamannya. Kini Firman mulai dihadapkan pada sosok gadis biasa. Hari-harinya kini penuh dengan canda tawa lagi dengan Ija. Namun kali ini Ija tidak tahu dan sengaja tidak dikasih tau oleh Firman kalau dia sudah menemukan pasangan yang dianggap cocok.

Sebenarnya Firman tidaklah menyadari bahwa gadis yang mulai disukainya itu merupakan hanya pelampiasan rasa cintanya saja. Cintanya hanya bertumpu pada Lilik namun tidak mendapat respon yang baik darinya. Hingga ia perlu melampiaskan pada gadis lain. Sebenarnya gadis itu juga menyimpan rasa cinta pada Firman sudah sejak lama. Sejak ia melihatnya di salah satu kegiatan ekstra sekolah.

Gedung sekolah yang rusak sedikit itu menjadi tempat Firman dalam menatap sosok gadis yang menjadi pelampiasannya. Firman dan dia tidak merasa kalau dalam hati Firman itu bukanlah cinta. Tetapi gejolak yang pernah membakar hatinya. Firman tidak berani mengungkap isi hatinya yang begitu menggeliat ingin keluar.

***

“Im, kamu punya nomor Meri ya”. Firman mulai memberanikan diri meminta nomor Hp Meri pada teman dekatnya yang setiap harinya selalu bersamanya melewati ruas-ruas jalan menuju sekolah.

“Buat apa?” Tanya Ima sedikit cuek karena sudah berjanji tidak akan mengobral nomor teman akrabnya itu.

“Ya buat kusimpan, siapa tahu aku ada perlu sama dia”.

“Bentar ya”.

Firman hanya mengangguk dan melihat Ima penuh keyakinan akan dikasih dan Ima berbalik menoleh ke sana-sini mencarikan sobekan kertas buat nulis nomor yang diminta oleh Firman.

“Ini”.

Ima menyodorkan secarik kertas yang berisi nomor ponsel Meri lalu pergi begitu saja karena kelas sudah masuk dan Ima memang sedikit malu jika bertemu dengan cowok-cowok kebanyakan.

“Ima, makasih ya…”.

Firman lari kecil masuk ke kelasnya karena dia juga telah terlambat masuk kelas dan kebetulan kelasnya bersebelahan dengan kelas Ima dan Meri sehingga dia mudah mengucapkan terima kasih pada Ima. Namun Ima hanya mengangguk pertanda setuju tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya yang selalu diam.

Hari-hari Firman kini diliputi oleh sobekan kertas yang berisi nomor ponsel Ima. Ia tidak tahu harus ngomong apa saat menghubunginya karena jelas Firman tidak kenal dan tidak pernah menyapa gadis yang belum ia kenal. Layaknya Lilik yang tak pernah ia sapa. Lilik yang selama ini menjadi tabir kesehariannya sedikit sirna dan sobek oleh deraian-deraian nomor ponsel yang ada di depan matanya. Tidak ada yang tahu tentang perasaannya itu meskipun Ija sebagai teman akrab sekaligus teman curhatnya.

Sebelum Firman memiliki nomor ponsel Meri. Sebenarnya Meri telah lebih dahulu memiliki nomor ponsel Firman dari salah satu daftar hadir yang juga dihadiri olehnya saat itu. Diam-diam Meri mencatat nomornya pelan-pelan dalam ingatannya. Ini semua lakukan karena memang Meri memiliki rasa yang ganjal pada dirinya. Saat meri melihat Firman hatinya merasakan sesuatu yang bergejolak. Rasa bahagia yang tidak pernah dirasakan selama hidupnya.

Dengan ponsel di tangannya, Firman mencoba melihat-lihat nomor yang baru saja disimpannya. Karena memang sengaja belum disimpan sejak dikasih oleh Ima di halaman sekolah minggu yang lalu. Ternyata ponselnya berdering ada nomor baru yang memanggilnya.

“Halo, siapa ini?” Sapa Firman dengan nada sopan dan agak ragu.

Namun dari suara ponselnyatidak terdengar suara sedikitpun, sepertinya ada suara televise di belakangnya. Dengan begitu Firman diam pula sampai ada jawaban dari penelpon tadi.

“Ya, halo juga, ini benar nomor Firman ya?” Suara lembut menyapanya dari dalam mikropon ponselnya.

“Ya benar, ini dengan siapa?”

“Aku Fir, Meri”.

Sesaat Firman terperanjak mendengar suara yang menyebut nama Meri. Firman tidak menyangka sebelumnya kalau Meri akan lebih berani untuk menghubunginya. Karena memang dia tidak pernah memberi nomor ponselnya pada Meri. Hatinya berbunga-bunga hingga dia bingung mau nomong apa selanjutnya pada Meri, gadis yang selam ini menjadi penghias hari-harinya setelah mendapat sayatan surat dari Lilik, cinta pertamanya.

“O, Meri, kukira siapa. Tapi nomor kamu kok beda?” Tanya Firman keceplosan kalau dia diam-diam menyimpan nomor Meri.

“Ya, ini nomor pamanku. Aku tidak punya pulsa Fir”.

“O, begitu ya?”

Tak lama kemudian dari belakang Meri terdengar suara memanggilnya meminta ponsel yang dipake menelpon Firman. Lalu terputus saluran ponselnya. Semenjak itulah Firman menyatakan cinta pada Meri dan mendapat tanggapan baik darinya. Sudah beberapa tahun mereka menjalani hidup berpacaran sebagaimana layaknya anak remaja. Namun juga diam-diam mereka menjalin hubungan. Karena takut diketahui banyak orang lebih-lebih oleh Ija teman akrabnya.

***

Namun sayang setelah beberapa lama hubungan mereka tidak lagi berjalan dengan baik. Karena Firman mendengar desas-desus kalau Lilik sebenarnya mencintainya. Namun dulu itu saat akan mengutarakannya masih malu dan ragu. Paling tidak kalau surat yang diberikan pada Firman melalui Ija itu akan dibaca oleh Ija tanpa sepengetahuan Firman. Namun Lilik tahu kalau surat itu akan dibaca oleh Ija. Dengan alasan itu Lilik tidak berani mengutarakan isi hatinya pada Firman yang selama ini sebenarnya menjadi pujaannya.

Tak berselang beberapa hari Firman mengatakan putus pada Meri. Pada saat itu pula Meri tahu bahwa dirinya hanya pelampiasan cinta Firman. Sedangkan Meri menanamkan cinta padanya merupakan cinta pertama yang telah lama ia pendam. Kini Meri ada dalam kesendiriannya menjalani hari-hari tanpa Firman. Seakan-akan tidak ada kata maaf bagi orang yang telah menghianatinya meskipun Firman beberapa kali minta maaf pada dirinya. Namun Firman mendapat jawaban yang juga menyakitkan.

Apa boleh buat, Firman yang sebenarnya sejak dulu tidak lepas dari bayang-bayang sosok Lilik yang begitu menawan dan merona dengan bumbu cintanya yang diracik dengan berbagai macam perasaannya.

Firman  tahu itu semua dari Ija teman akrabnya yang selalu bersama dengan Lilik. Ketika di rumah Lilik dan di saat ada acara-acara penting di sekolahnya. Ija sering bertanya-tanya pada Lilik tentang penolakan isi surat Firman dulu. Lalu dengan jelas Lilik mengatakan pada Ija kalau dulu Ia hanya takut dan malu saja pada Ija sendiri dan lebih-lebih pada Firman. Karena Firman itu bukanlah cintanya yang pertama kali bagi Lilik. Sedangkan Firman mengutarakan rasa cintanya itu kali pertama dan tak ada gadis yang pernah singgah di hatinya keculai Lilik. Karena memang pantas, Firman orangnya juga pendiam dan dulu jauh dengan teman-teman perempuannya, kecuali Ija.

Saat itulah Firman menemui Ija dan meminta nomor ponsel Lilik untuk dihubungi dan menyatakan cinta padanya. Namun Ija sedikit menggojloknya karena dulu sempat menjauh dan sok tak kenal sama sekali pada Lilik. Kini Firman kembali lagi merajut cinta pertamanya dengan Lilik meskipun harus melapukkan hati Meri yang menyimpan sejuta makna cinta pertama.

Sumenep – Surabaya, 7 – 8 Januari 2012

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

File dalam bentuk koran PDF bisa anda baca di: METRO RIAU Ahad 06 Oktober 2013 Sepucuk Surat . Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: