Metafor Seekor Tikus untuk Koruptor

KORAN MADURA: KAMIS 3 OKTOBER 2013 NO. 0212  TAHUN II

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Masyarakat umum tentu sudah tahu apa itu tikus dan perilakunya seperti apa ketika menjalani kehidupannya. Tikus merupakan sosok hewan kecil yang jorok, kikir dan penuh kelicikan serta kelihaian saat menggerogoti lumbung padi dan lain sebagainya. Dalam ajaran agama Islam, tikus termasuk hewan yang merugikan dan termasuk salah satu hewan yang dianjurkan untuk dibunuh oleh nabi Muhammad Saw. Tidak ada jalan lain dalam mengantisipasi kerugian yang disebabkan oleh tikus lumbung padi kecuali membunuh tikus itu sendiri.

Berangkat dari pengalaman ketika saya hidup di desa kemudian saya hidup di kota, ada titik perbedaan antara tikus desa dengan tikus yang ada di perkotaan. Ketika saya hidup di desa, tidak kaget melihat seekor tikus yang begitu kecil dan lihai dalam menggerogoti lumbung padi. Dengan mudah, perangkap dan racun tikus dijadikan penjebak agar tikus itu tertangkap atau mati. Usaha berjalan dengan mulus. Tikus-tikus itu ada yang tertangkap sampai mati. Ada pula yang belum mati. Tetapi oleh anak-anak disirami minyak tanah dalam keadaan hidup kemudian di bakar. Tikus pun berlarian karena kepanasan hingga tubuhnya gosong.

Lain dengan kehidupan ketika saya berada di perkotaan. Tikus-tikus begitu banyaknya di selokan-selokan jalan dan lebih menjijikkan lagi di tempat sampah yang berlalu-lalang ke kamar tidur. Badannya besar lebih besar dari kucing. Sehingga tidak ada kucing yang berani untuk menangkap sebagai mangsa dan makanannya. Mereka dibiarkan hidup oleh masyarakat hingga bisa berkeliaran di selokan-selokan dan tempat-tempat sampah. Sesuai dengan hukum alam, tikus-tikus itu mati karena kecelakaan ditabrak mobil di jalan-jalan dan ada yang ditabrak oleh motor. Mereka mati karena ditabrak dan dibunuh ketika secara kebetulan berada di dekat orang kemudian dipukul atau dilempari dengan batu.

Sungguh sangat berbeda antara tikus-tikus yang ada di pedesaan dan tikus-tikus yang ada di perkotaan. Tikus di pedesaan sudah bertubuh kecil nasibnya juga sangat nista di hadapan masyarakat. Mereka mati secara keracunan, terjebak, atau dibakar hidup-hidup dijadikan permainan api oleh anak-anak. Namun tikus perkotaan dibiarkan begitu bebas oleh masyarakat hingga tubuhnya gemuk dan rakus makan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Tikus hanya tikus yang tidak memiliki perasaan sehingga dengan senang hati memakan makanan punya masyarakat yang tidak terkontrol.

Sepanjang pengalaman hidup, saya tidak pernah menemui seekor tikus terserang penyakit meski pun hidup di tempat yang sangat kotor seperti tempat sampah. Jarang pula menemukan tikus mati karena terserang suatu penyakit layaknya hewan dan binatang-binatang lainnya yang mati karena sakit yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Namun, sering kita jumpai bahwa seekor tikus menemui ajalnya karena ditabrak kendaraan. Ada pula yang terkena pukulan masyarakat ketika lengah saat mencuri makanan. Ada pula yang mati karena keracunan yang memang disengaja oleh masyarakat dari saking sulitnya untuk ditangkap dan dibunuh, maka tikus perlu untuk diracun.

Perlu ditekankan kembali bahwa tidak ada seekor tikus yang sakit-sakitan karena suatu penyakit yang normal. Ada pula yang sakit, kulitnya lecet. Itu karena dipukul dan dicederai oleh manusia yang kebetulan tertangkap basah saat beraksi menggerogoti makanan. Itulah kenyataan dari seekor tikus yang tidak akan pernah mati kecuali memang manusia yang ada keinginan untuk membunuhnya melalui berbagai cara dan perangkap serta penjebak. Dengan demikian tikus-tikus itu akan musnah. Tikus ibarat setan yang umurnya dikekalkan oleh tuhan.

Begitu pula bagi para koruptor, mereka mendapat julukan sebagai seekor tikus negara. Itu karena kelihaiannya dalam menggerus uang negara yang berasal dari rakyat. Mereka hidup dalam satu rumah dengan pemilik kekayaan, namun di balik kehidupannya itu mereka dengan diam-diam membuat rumah di dalam rumah pemilik kekayaan itu. Tujuan itu hanya untuk menggerogoti harta yang ada di rumah itu.

Pemberantasan Korupsi

Banyak para pejabat negara yang ingin menjadi bagian dari rumah itu dan akan membangun rumah di dalam rumah itu sendiri. Karena dengan mudah mereka akan menggerogoti harta yang ada di rumah tersebut. Mereka tidak usah bersusah payah karena jarak mereka dengan sasaran sangat berdekatan. Mereka sangat sulit untuk diberantas karena kenyataannya mereka sudah diibaratkan dengan tikus yang tidak akan pernah mati kecuali jika ditabrak kendaraan, dipukul, atau diracun dengan cara disengaja oleh manusia dan masyarakat luas.

Jika tidak demikian, maka tikus-tikus itu akan semakin kuat dan semakin beranak pinak. Tikus akan mati jika dibakar atau dijebak dengan jebakan yang mematikan. Jika dijebak masih belum mati, maka harus dikeluarkan kemudian dibakar hidup-hidup. Jadi, hukuman bagi para koruptor yang diibaratkan dengan seekor tikus harus diberantas dengan cara yang keras dan penuh keseriusan, layaknya seekor tikus pula. Karena jika seekor tikus diberi kesempatan hidup dan bertobat, itu akan sia-sia belaka. Suatu hari tikus-tikus itu akan melakukan hal yang sama karena kebiasaan yang dijalaninya bertahun-tahun dan memang karakter tikus yang selalu mengambil hak orang lain dengan cara diam-diam.

Dengan cara apa lagi memberantas para koruptor yang diibaratkan dengan tikus, jika tidak menyamakan cara pemberantasan tikus-tikus desa dan kota itu sendiri. Memberikan kesempatan dan remisi pembebasan penjara agar bertobat merupakan cara yang tidak efektif dalam memberantas para koruptor. Apalagi karena seorang pejabat tinggi negara, jerujinya dimewahkan dengan fasilitas seakan di rumah sendiri. Sungguh sama saja mereka yang memenjara dengan yang dipenjara.

Maka dari itu, perlu keseriusan untuk memberantas korupsi. Hukuman yang pantas bagi koruptor harus dijalankan, bahkan jika memang diibaratkan dengan tikus, para koruptor itu pemberantasannya pun harus disamakan dengan tikus. Jika membunuh koruptor dianggap tidak memiliki perikemanusiaan dan tidak menjunjung HAM, lalu apakah mereka juga berperikemanusiaan dan menjunjung HAM dengan perilakunya yang korup?

* Penulis Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Tulisan tersebut bisa dicek dan dibaca di KORAN MADURA OPINI KAMIS 3 OKTOBER 2013 NO. 0212 TAHUN II Metafor Seekor Tikus untuk Koruptor . Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

3 Responses to Metafor Seekor Tikus untuk Koruptor

  1. Suka Bahasa Indonesia says:

    “…dan tikus hanyalah tikus. Tidak memiliki perasaan; sehingga dengan kesenangan hatinya ia pun menjadi makhluk yang begitu tega-setega-tega hatinya memakan makanan masyarakat, tidak terkontrol.”
    Istilah tikus; hanyalah sebuah bentuk ‘iconisitas’, yang merupakan suatu pengilhaman atas ‘sesuatu’ yang dianggap riil. Dan, ‘sesuatu’ yang riil itulah yang pada akhirnya dianggap ‘lebih’ riil lagi dari pada realitas. Merdeka !
    Habis nulis tikus, ganti nulis semut, gajah, buaya, dan hewan-hewan lainnya, Mas.
    Josss !

    Like

  2. junaidikhab says:

    Mantap! Terima kasih. Nantikan berikutnya tentang hukum. Maaf belum sempat menyelesaikan Sumpah Pemuda.

    Like

  3. junaidikhab says:

    mau nulis tentang ular, banyak kata-kata yang kurang hurufnya… he, maap.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: