Kebaikan Bisa Membahagiakan dan Menghilangkan Stres

Berbuat Baik

Berbuat Baik

Suatu keinginan yang sangat besar, sudah tentu dimiliki oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini, yaitu ingin berbuat baik dalam berbagai aktivitas kehidupan. Sebagaimana suatu ungkapan yang menyatakan bahwa “paling baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat bagi manusia”. Itu sudah disadari oleh tiap-tiap manusia yang berakal. Dengan kekuatan ekonomi manusia bisa membantu, dengan kekuatan otot manusia bisa membantu, dengan kekuatan lisan manusia bisa membantu, dan dengan kekuatan otak manusia bisa membantu. Namun tak selamanya membantu itu bermanfaat. Itu tak lain jika membantu dalam hal negatif. Menguntungkan memang menguntungkan, namun hanya sepihak saja.

Memberikan manfaat bagi manusia lain merupakan perilaku mulia. Jika kita melakukan suatu kebaikan, maka kita akan mendapat ganjaran yang sewajarnya. Selain mendapat ganjaran yang dijanjikan oleh Tuhan dalam tiap-tiap agama juga ada sebuah ganjaran yang langsung didapat setelah berbuat baik dan memberikan manfaat bagi manusia. Yaitu suatu kebahagiaan yang meliputi jiwa dan perasaan setelah usai melakukan kebaikan. Ganjaran dan nikmat semacam ini, yang masih kurang kita sadari dalam tiap langkah roda kehidupan ini berjalan di atas berbagai macam jalan di dunia ini.

Aku sering merasakan kenikmatan itu. Pada saat ini aku ingin mengungkapkan dalam tulisan ini sebagai inspirasiku untuk terus berbuat baik bagi sesama. Berbuat baik sebenarnya hal mudah yang disulitkan oleh keserakahan yang kita miliki. Berbuat baik sangatlah mudah. Namun kita saat akan melakukan suatu kebaikan yang manfaatnya secara kasat mata hanya dirasakan oleh orang lain, kita harus berpikir seribu kali mengenai perihal tersebut. Kita terkadang lebih condong memikirkan bahwa jika melakukan suatu kebaikan kita harus mendapat keuntungan dari apa yang kita lakukan. Jika secara kasat mata kebaikan yang kita lakukan tidak memberikan apa-apa, maka kita akan enggan untuk melakukannya. Di sini godaan nafsu mulai kita rasakan. Berbuat baik hakikatnya tidak merugikan bagi kita sendiri. Selain bisa membantu dan meringankan beban orang lain, sebenarnya kita juga terbantu. Ini perlu disadari oleh kita semua dengan belajar berpikir dan merenungi segala hal yang kita anggap tidak bermanfaat bagi kita, hakikatnya sangat bermanfaat dan menguntungkan bagi jiwa yang sedang diterpa keraguan akibat nafsu yang membelenggu.

Aku menyadari bahwa ketika seseorang termasuk aku sendiri berbuat baik, maka dalam jiwa ini ada perasaan puas dan bahagia yang datang begitu saja tanpa harus dipanggil. Semakin banyak kita melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi manusia (orang lain), maka semakin banyak pula kepuasan dan kebahagiaan yang akan kita peroleh dari kebaikan yang kita lakukan. Apa saja hal yang menjadi beban pikiran lambat laun akan hilang dengan aliran arus kebaikan yang kita lakukan. Sehingga meskipun kita dalam keadaan sedih, resah, atau pun galau, perasaan yang semacam itu akan segera larut dengan kebaikan yang kita berikan pada orang lain. Maka dari itu, kita perlu kesadaran untuk berbuat baik kepada sesama. Selain kita mendapat ganjaran kelak ketika meninggal dunia, di dunia ini kita sebenarnya sudah merasakan bagian dari ganjaran akhirat tersebut yang diberikan oleh Yang Maha Pemberi Nikmat melalui perasaan senang dan bahagia di dunia.

Coba rasakan saja ketika kita baru selesai melakukan suatu kebaikan. Tentu kebahagiaan dan perasaan senang itu akan menemani hati kita. Namun perlu diingat juga, di saat senang itu menyelimuti batin kita, nafsu alias budak setan di dalam jiwa ini akan berontak. Nafsu ingin mendapatkan hal yang lebih dari sekedar kebahagiaan dari perbuatan baik yang kita lakukan. Biasanya perbuatan baik kita ingin diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini timbul perasaan ingin pamer (riya’). Ini sebenarnya yang menjadi penyakit dan penghalang ganjaran di akhirat kelak. Atau terkadang kita merasa kuasa setelah melakukan suatu kebaikan, bahwa kebaikan yang kita lakukan merupakan kehendak kita dan kemampuan kiat sendiri (‘ujub). Ini yang tidak kita sadari. Sehingga, akibat perasaan semacam ini bisa menggugurkan pahala akhirat meskipun pahala dunia yang berupa perasaan senang kita peroleh.

Maka dari itu, dalam berbuat baik kita harus rela dengan kebaikan yang kita perbuat. Tidak mengharap pujian dari orang lain dan tidak merasa diri ini yang paling mampu di antara mereka yang kita bantu. Sejatinya kita sama dengan mereka yang kelak kemungkinan besar kita akan merasakan bantuan dari orang lain yang berupa kebaikan. Hindarilah riya’ dan ‘ujub di kala kita melakukan suatu kebaikan agar pahala dunia yang diterjemahkan dalam perasaan dan ganjaran di akhirat sama-sama bisa dirasakan dan didapat pada waktunya. Mari berbuat baik agar hidup ini tidak sengsara!

Surabaya, 2-3 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: