Berjamu: Empat Telur vs Pocari Sweat

Alfamart, Pocari Sweat dan Telur Ayam Akmpung (Junaidi Khab)

Alfamart, Pocari Sweat dan Telur Ayam Akmpung (Junaidi Khab)

Sudah tiga hari sejak Ahad 29 September 2013 diri ini ingin menikmati jamu telur ayam kampung. Namun apalah daya, tak ada kesempatan untuk membeli telur ayam kampung. Sempat pada hari Senin malam Selasa 30 September 2013 ke Alfamart untuk membeli telur ayam kampung, tapi tidak ada. Stoknya habis untuk telur ayam kampung. Sedikit kecewa merasuk dalam jiwaku. Ingin rasanya ke Indomaret waktu itu. Tapi sudah agak malam. Juga ingin ke Alfamart yang lain untuk mencari telur ayam kampung. Namun kugagalkan pula melihat situasi yang tidak memungkinkan pada saat itu. Selain badan ini sudah berlabuh dengan rasa kantuk yang tak mampu lagi kubendung.

Keinginan berjamu telur ayam kampung itu aku terinspirasi dari seorang teman yang sakit lumpuh sampai sekitar satu tahun. Sulaiman anak Bangkalan. Dia ketika sedikit sembuh dari lumpuhnya disarankan untuk makan telur mentah setiap dua jam untuk memulihkan tenaganya. Selain itu pula untuk memulihkan sel-sel yang rapuh seperti kurus. Alhamdulillah, dengan rutinitas makan telur ayam kampung mentah dalam tiap dua jam dia kembali pulih. Sungguh banyak vitamin kandungan protein dalam telur ayam kampung. Maka tak heran jika orang rumahku sering berjamu telur ayam kampung dicampur dengan kopi pahit. Selain itu pula, bukan hanya orang rumahku saja. Namun para binaragawan juga mengkonsumsi telur ayam. Tapi yang dituturkan oleh Mahmudi temanku yang pernah ikut fitness di Kalimantan Timur sambil bekerja mengatakan bahwa binaragawan untuk mengembangkan otot-otot dan sel-sel organ tubuhnya mengkonsumsi putih telur rebus saja.

Akan tetapi, aku lebih yakin dari inspirasi temanku, Sulaiman. Itu lebih meyakinkan untuk kuamalkan. Maka dari itu, aku berusaha mencari untuk membeli telur ayam kampung di Alfamart di dekat tempatku tinggal di Surabaya. Setelah usahaku gagal dalam beberapa kesempatan karena sedikit padat dengan aktivitas yang menurut nalar dangkal tidak berguna, aku diajak temanku (01-10-2013), Ahmad Maskur untuk mengantarkan bingkisan ke mbak Nurhayati dan cak Nafis. Di tengah perjalan di daerah Ngagel Surabaya, Maskur mengajakku berhenti untuk salat Dzuhur karena dia belum solat dzuhur tadi sementara aku sudah di tempatku sendiri. Aku ikuta saja dengan alasan Maskur mau salat sambil isi bensin di SPBU.

Hal yang tidak kusangka. Detik-detik pertemuanku dengan telur ayam kampung mulai dekat yang sebenarnya aku tidak menyangka. Sebenarnya aku diajak salat di SPBU oleh Maskur sedikit jengkel karena dia tadi bilang akan salat di masjid. Meski aku jengkel, aku nurut saja. Dia memarkir motor di depan Alfamart dekat SPBU Ngagel sambil mengiming-imingiku untuk santai dan beli minuman di Alfamart. Dengan jengkel aku langsung menyuruh Maskur untu salat dzuhur dengan segera dan aku mau beli minuman di Alfamart lalu rileks. Hal yang tidak kusangka. Saat aku masuk Alfamart, aku langsung menoleh ke tempat di mana telur-telur di tempatku. Termasuk telur kastroli dan telur-telur yang lainnya seperti telur yang inginkan selama ini, telur ayam kampung.

Sekali lirik pada telur ayam kampung yang kucari, aku cuek saja dulu. Tapi hatiku senang dan berbunga pada saat itu. ingin buru-buru mengambil dan membayarnya. Aku cepat-cepat memilih minuman dalam kulkas untuk aku minum nanti saat melempar telur ke dalam mulutku. Nah, pada saat itu aku berpikir untuk memungut Pocari Sweat ukuran botol mini di kulkas sebelah timur. Lalu aku balik ke tempat di mana telur ayam kampung itu tertidur pulas dalam ruangan ber-AC.

Aku tidak begitu lama antre di kasir pembayaran. Dua orang pembeli yang kutunggu dengan barang belanjaan sangat minim sehingga aku cepat pembayarannya. Kebetulan yang melayaniku saat itu cowok.

“Ini mas yang saya beli. Ini (aku menunjuk ke Pocari Sweat) dan ini (aku menunjuk ke telur ayam kampung yang berjumlah empat butir di dekat komputer kasir)”.

“Rp. 6800.00 mas, uangnya Rp. 10.000.00”.

“Lho, berapa ini mas?”.

Aku menunjuk dengan nada heran ke Pocari Sweat dan telur ayam kampung yang akan kubeli. Itu karena aku tak yakin sejak tadi harga empat telur ayam kampung dan satu Pocari Sweat sekitar Rp. 6800.00. Aku kira pelayannya menyebutkan angka uang yang kubayarkan Rp.10.000.00 itu kurang sementara aku kasih uang sebesar itu.

“Rp.10.000.00 mas…”. Dengan santai pelayan itu menjawab pertanyaanku.

Aku hanya manggut-manggut. Aku tidak banyak tanya dan komentar lagi. Aku takut nanti pelayannya mengubah harga yang menurutku tidak pantas untuk empat butir telur ayam kampung dan satu Pocari Sweat botol ukuran mini itu. Dan tidak lupa kau menanyakan masa berlaku telur ayam kampung itu. Karena jika kadaluwarsa, telur-telur itu akan segera berbuah dan menjadi darah. Pelayan itu menunjuk ke label yang tertera di bungkusan telur tersebut aku mengikuti arah jarinya dan membaca dengan cermat. Lalu aku menterawang ke arah sinar matahari untuk sok tahu dan memastikan apa ada darahnya atau tidak.

Aku pun membayarnya ke kasir. Lalu aku keluar mencari tempat duduk untuk bersantai ria. Mondar-mandir ke musolla tempat salat, temanku, Maskur tidak ada. Mau santai di tempat salat, khawatir ada orang yang akan salat. Kemudian aku melihat kursi di depan Alfamart. Aku duduk santai di sana dengan maksud melempar telur itu ke mulutku. Setelah aku duduk, aku melihat orang-orang di sekitarku untuk memastikan ada orang yang memerhatikanku apa tidak. Ini kulakukan karena aku sedikit malu kalau makan telur mentah di tempat umum dan dilihat orang-orang. Ternyata sepi di tempat itu. Meski ada orang, namun mereka tidak melihatku saat meretas satu butir telur dan menyisakan tiga butir telur untuk aku makan nanti. Sebenarnya waktu itu aku mau makan dua butir telur. Tapi kuurungkan karena merasa tidak enak dengan orang di sekitarku yang akan menganggapku rakus. Dengan santai aku melahapnya. Kukunyah dengan pelan putih dan kuningnya. Terasa sedikit anyir. Lalu kususul dengan Pocari Sweat yang kusiapkan sejak tadi sebagai penghilang bau anyirnya.

Tak lama setelah aku memakan satu butir telur dan Pocari Sweat, Maskur menghampiriku. Dia juga membeli minuman dan roti di Alfamart. Kemudian aku berangkat menuju tempat tujuan untuk mengantar bingkisan itu. Di tengah perjalanan dia mengomel dengan gayanya padaku.

“Jun, kamu ini masih muda. Jangan sering berjamu (minum jamu). Lagian kamu ini tidak punya istri. Nanti kalau kamu terlalu kelebihan libido, mau disalurkan kemana?”.

“Kamu ini. Ini bentuk usaha sebelum kita sakit. Kalau sakit baru mau minum jamu. Itu sia-sia belaka. Minum jamu jauh hari sebelum kita sakit itu lebih bagus daripada minum jamu berharap kesembuhan ketika kita sakit”.

Dia hanya terbahak-bahak dan senyum menerima begitu saja apa yang kubicarakan untuk membantah argumennya. Waktu terus berlalu. Jalanan sudah mulai penuh sesak dengan kendaraan beroda dua dan empat. Mobil dan sepeda motor berkejaran. Saling mendahului satu sama lain. Aku pun hanya mengikuti arus perjalanan lorong waktu yang terus mengejarku menempuh tujuanku.

Waktu yang tidak kusangka untuk mendapatkan yang kuinginkan ternyata tanpa kusangka datang dengan sendirinya. Terima kasih Tuhanku yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Kuasa atas segalanya. Aku mendapat apa yang kuinginkan. Semoga pengalamanku bisa menjadi inspirasi bagi kalian. Hidup sehat meski dengan minum jamu yang sederhana, namun kaya khasiat di balik itu semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: