Resah, Bingung dan Galau

Bingung, Resah dan Galau

Bingung, Resah dan Galau

Seringkali aku merasakan resah yang entah dari mana datangnya. Aku sering mengalami resah ketika bangun tidur kesiangan. Misalkan pada tangga 1 Oktober 2013 ini aku bangun tidur agak kesiangan. Sekitar pukul 05:21 Wib. Pikiran tak karuan, entah yang kupikirkan masih juga belum jelas. Namun aku tetap mencoba apa penyebab dari perasaan resah itu yang mengahantuiku di kala kesiangan bangun tidur. Hingga tulisan ini muncul, keresahanku masih saja tetap menemani tanpa kusuruh dan tanpa kuminta. Istilahnya ini yang disebut galau.

Mungkin teman-temanku juga merasakan hal yang serupa denganku. Terkadang memang sangat sulit untuk mengutarakannya pada orang lain atau pada teman-teman kita. Karena resah yang kita alami terkadang dianggap remeh. Padahal itu menjadi bomerang terhadap kehidupan sehari-hari. Bisa jadi dengan resah yang kita alami suatu pekerjaan atau aktivitas kita terhambat dan tidak mendapat hasil yang maksimal. Tentunya seperti yang akan terjadi omelan dari atasan, teman, dan orang terdekat. Lebih banyak berdiam diri dengan memikirkan diri sendiri tanpa banyak bicara dengan orang lain.

Sebenarnya aku ini menyadari. Resah itu benih penyakit pikiran yang akan merusak masa depan. Dengan resah itu terkadang kita depresi. Tidak bertenaga untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri lebih-lebih bagi orang lain. Yang jelas, aku harus lepas dan jauh dari perasaanku yang satu ini. Berbagai cara pun sering kulakukan. Namun kadang hanya membawa pikiranku malah lebih runyam dan tak karuan. Meski demikian, aku tetap mencari cara yang lain.

Salah satu cara yang kulakukan untuk menghilangkan resah yang kuhadapi pada saat itu, aku membuka buku yang berjudul “KAHLIL GIBRAN di Depan Mahligai Keindahan” penerbit Optimus 2012. Di sana aku membaca karya-karya terjemahan Kahlil Gibran yang menyentuh perasaanku. Di sana pula aku menemukan titik kesadaran hidup ini. Aku kira ini menjadi salah satu cara untuk menghilangkan resah yang terus menghantuiku.

Aku pikir-pikir lagi, resah itu sedikit memudar ketika aku membuka buku dan membacanya. Itu yang aku rasakan. Nah, di sini punya kesimpulan bahwa RESAHKU SIRNA DENGAN BERTEMAN BUKU YANG KUBACA. Buku menjadi pencerah jiwaku yang resah (galau) yang entah apa penyebabnya. Menarik sekali jika kita resah, langsung membuka buku sebagai teman curhatan bagi jiwa yang sedang tak karuan.

Semakin lama aku membuka buku itu, semakin senang dan tenang pikiranku. Apalagi ketika sampai pada halaman 174. Di sana ada bati puisi yang menurutku menarik. Aku jadi teringat film lebay “5cm.”. Puisi itu berjudul “Anak-anakmu”. Dalam puisi ini, aku teringat pada Zafran dalam film 5cm. yang membacakan puisi Kahlil Gibran di depan ibunya. “Ibu, anakmu bukanlah anakmu, mereka adalah putra sang fajar”. Lalu ibunya marah karena puisi itu secara tekstual mengatakan bahwa anakmu bukan anakmu. Zafran dianggap tak mau dengan ibunya. Sedikit berkaitan dengan bait itu yaitu:

Anak-anakmu

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Karena hidup kita berjalan mundur dan tidak pada berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan

Itu bait yang kubaca dengan perenungan yang menurutku benar. Perasaan sedikit menjadi tenang dan nyaman. Inspirasi mulai sedikit tumbuh dan semangat mulai sedikit membara lagi. Dengan perasaan penuh harap, di hadapanku terbentang etos yang begitu kuharapkan. Semangat lagi untuk membaca buku-buku yang kupunya. Aku ingin bersyair untuk menghilangkan resah itu setelah membaca buku prosa Kahlil Gibran. Selamat merenungi buku dan alam. Hilangkan perasaan resah (galau) dengan berbagi pada buku. Atau bercurhat pada teman-teman kita. Dari sana akan kita dapat motivasi dan semangat baru.

2 Responses to Resah, Bingung dan Galau

  1. Hidup Bahasa Indonesia says:

    SELALU meyakini; bahwa setiap yang berjiwa pasti pernah mengalami mati. Dan, resah, gelisah, atau sah sah sah yang lainnya itu pada dasarnya adalah benih dari munculnya ide kreativitas. Dan, resah itu, baik untuk pencernaan.

    Like

    • junaidikhab says:

      Benar sekali pak Hidup Bahasa Indonesia. Dengan kegalauan itu saya mencoba untuk merenung lebih banyak lagi tentang kehidupan ini. Kehidupan yang tak ada ujungnya. Kehidupan yang hanya kupinjam dari firman-Nya. Kehidupan yang tak tentu kapan akan diambil-alih oleh-Nya. Kehidupan hanya perjalanan menempuh yang lebih baru dan lebih bermanfaat dari yang sebelumnya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: