Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara: Sebuah Solusi Mengembalikan Indonesia pada Jati Dirinya

Harian Analisa: Rabu, 18 September 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Secara umum, Indonesia memiliki empat pilar penting dalam membangun negara majemuk ini. Empat pilar ini dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia merupakan tonggak terpenting yang perlu kita jaga dan lestarikan dalam gerusan globalisasi dan menyeruakknya kalangan yang ingin merobohkannya. Founding fathers yang menemukan pilar-pilar tersebut cukup memberikan sumbangsih atas terwujudnya negara demokrasi ini. Yaitu pemerintahan yang bersistem dari rakyat diambil pendapatan yang berupa pajak, oleh rakyat itu semua dikelola dan untuk rakyat segala hasil yang telah berhasil diatur oleh pemerintah Indonesia.

Negara Indonesia adalah negara yang besar. Sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para pendiri negara menyadari bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa daerah, serta agama yang berbeda-beda. Dengan keanekaragaman tersebut, mengharuskan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa untuk membela dan memperthankan tanah air Indonesia. Jiwa nasionalise harus benar-benar mumpuni dan mengalir dalam tiap darah anak bangsa ini.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), sesuai dengan tugas yang diamanatkan oleh Undang-Undang nomor 27 tahun 2009, telah melaksanakan agenda pemantapan kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sosialisasi empat pilar. Yaitu: Pancasila, Undang-Undanga Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Empat pilar itu masih kurang relevan dan kurang mumpuni dalam mempertahankan NKRI. Tapi itu masih membutuhkan satu pilar lagi sebagai pilar yang kelima. Menurutnya, yang yang patut menjadi pilar kelima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu adanya pengaplikasian dari empat pilar tersebut oleh para petinggi negara sebagai contoh bagi bangsa. Begitulah kiranya makna sebuah empat pilar akan menjadi fondasi negara Indonesia.

Namun, kesempatan sosialisasi itu terbantah oleh salah satu audiens yang menyatakan bahwa sosialisasi itu bertempat yang salah. Semestinya sosialisasi itu diberikan bagi mereka yang berada dalam garis keras penantang negara demokrasi. Atau stidaknya mendatangkan perwakilan kalangan garis keras penentang negara demokrsi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kendati pun demikian, acara sosialisasi empat pilar ini berjalan cukup khidmat terkait juga banyak di antara mereka yang masih rendah kualiatas nasionalismenya dalam menjujung tinggi empat pilar tersebut.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara harus menjadi landasan pokok dan ladansan fundamental bagi penyelenggara negara Indonesia.

Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia tahun 1945 adalah konstitusi negar sebagai landasan konstitusional bangsa Indonesia yang menjadi hukum dasar dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bentuk negara yang dipilih oleh bangsa Indonesia yang lahir dari pengorbanan jutaan jiwa dan raga para pejuang bangsa sebagai komitmen bersama mempertahankan keutuhan bangsa.

Bhinneka Tunggal Ika yang dapat diartikan walaupun bangsa Indonesia mempunyai latar belakang suku, agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda, tetapi tetap satu sebagai bangsa Indonesia.

Sosialisasi nilai-nilai empat pilar tersebut merupakan untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali komitmen seluruh komponen bangsa agar pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka mewujudkan Negara Kesatuan republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dalam memperkokoh nasionalisme.

Perombakan ideologi radikal yang bertentangan dengan negara demokrasi seperti gerakan khilafah HTI merupakan pembunuhan karakter sejati yang dimiliki bangsa Indonesia. Dan dikaitkan dengan apa yang diucapkan oleh Bung Karno, maka dengan ideologi HTI yang menginginkan negara demokrasi menjadi negara Islam akan menemukan kemerosotan yang jelas. Karena sejatinya karakter bangsa Indonesia bukanlah karakter orang Arab yang tak dapat diplintir sedemikian rupa dan bebas membabibuta.

Ir. Soekarno, Presiden RI pertama mengemukakan pentingnya membangun jati diri bangsa dan jati diri bangsa dibangun melalui pembangunan karakter bangsa atau apa yang disebut Bung Karno sebagai national and character building. Para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia bersepakat bahwa membangun jati diri atau membangun karakter bangsa mesti dilaksanakan secara berkesinambungan dari kemajemukan masyarakat Indonesia.

Indonesia sebagai bangsa tidak lahir dalam bentuk langsung jadi, tetapi melalui proses sejarah yang cukup panjang. Para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia menetapkan empat pilar pondasi sebagai jati diri bangsa: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui empat pilar pondasi bangsa itu bangsa Indonesia membangun jati diri dan karakter bangsa Indonesia.

Al-Quran memang diturunkan dalam  bahasa Arab. Bukan karena apa-apa, melainkan karena rasul yang dipilih Allah adalah dari belahan bumi yang berbahasa Arab. Jadi, syariat Islam juga berbahasa Arab. Dan lebih lanjut, tentunya ada dialektika antara ajaran Islam dengan budaya Arab. Nabi Muhammad dalam kerasulannya tidak membabat habis tradisi Arab, tetapi memberi spirit dengan ajaran Islam. Jika budaya Arab tersebut bertentangan dengan Islam, maka nabi Muhammad memberikan cara baru. Cara berpakaian orang Islam Arab adalah kebudayaan orang Arab yang ditradisikan oleh Islam di Arab. Tatacara berpakaian itu tentunya terkait dengan tradisi, iklim, dan suasana psikologis yang memang relevan dengan orang Arab (Dr. Nur Syam 2007:210-211).

Acuan budaya dan tradisi Arab tidak harus diambil alih oleh masyarakat luar Arab yang menganut ajaran Islam (termasuk Indonesia misalnya). Akhir-akhir ini memang ada kecenderungan untuk menyamakan Islam dengan Arab. Menjadi Islan itu artinya menjadi Arab. Kehidupan bermasyarakat didasarkan atas tafsiran kelompok ini. Apakah ini ada kaitannya dengan tokoh-tokoh Islam belakangan yang dilabel dengan “Islam fundamental” memang berasal dari keturunan Arab?. Dan seperti diketahui, hampir semua tokoh atau pemimpin organisasi Islam ini adalah keturunan Arab dan memiliki geneologi dengan gerakan salafi di Timur Tengah, seperti Habieb Rizieq Syihab (FPI), dan Hafidz Abdurrahman (HTI).

Selain itu, Ali Maschan Moesa (2011) menyatakan bahwa jika kita ingin mengkonversi Negara Pancasila dengan Negara Islam, maka umat yang beragama lain juga akan berbuat sama sehingga yang terjadi justru konflik yang mengarah pada pertumpahan darah, sehingga nasionalisme itu akan hilang. Hal yang sangat penting adalah kesejahteraan rakyat dan umat beragama mempunyai kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

Adapun tentang hubungan antara agama dan Negara, para kiai memilih model Negara yang tidak harus formal menggunakan simbol Islam. Hal itu terbukti sejak awal kemerdekaan, para kiai tidak menamakan Indonesia dengan Negara Islam, sebab yang penting adalah kemampuan Negara untuk menyejahterahkan rakyatnya. Apalagi keinginan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam secara formal bukanlah pendapat dan keinginan mayoritas umat Islam.

Begitu kiranya, negara Indonesia akan memiliki nasionalisme yang kuat jika jati dirinya masih tetap utuh meski dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan ini yang makin hari makin membunuh nasionalisme itu sendiri. Salah satunya dengan memegang tegu dan mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar tersebut. Melalui empat pilar itu bangsa Indonesia diharapkan untuk mampu mempertahankan nasionalisme. Begitu pula dengan pemerintah harus lebih barada di garda terdepan dalam mempertahankan nasionalisme.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

http://www.analisadaily.com/news/47923/sebuah-solusi-mengembalikan-indonesia-pada-jati-dirinya

Silakan klik Harian Analisa 18 September 2013 Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara Sebuah Solusi Mengembalikan Indonesia pada Jati Dirinya untuk membaca dalam bentuk file PDF. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: