MOS dan Kemasyarakatan

Republika: Rabu, 28-08-2013

Oleh: Junaidi Khab

Republika Rabu, 28-08-2013 MOS dan Kemasyarakatan oleh Junaidi Khab

Republika Rabu, 28-08-2013 MOS dan Kemasyarakatan oleh Junaidi Khab

Kebiasaan awal tahun ajaran tiap sekolah merupakan hal yang kadang menjadi momok bagi para siswa. Di sana terlihat kegeraman, meski pada hakikatnya bercanda. Namun itu memengaruhi kondisi psikologis siswa untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Masa Orientasi Siswa (MOS). Itu hantu menakutkan yang dijalankan oleh para siswa dengan cara terpaksa.

Di sana segala kegusaran kakak panitia ditampakkan. Upaya pematangan mental memang cukup dari MOS ini. Namun, tingkat kestresan siswa cukup besar. Jika dalam MOS lebih menunjukkan keberingasan untuk memupuk mental para siswa baru agar lebih tangguh dan dewasa, maka cara kegeraman dan kepekikan suara itu tak lain akan membentuk mental siswa untuk menjadi seorang pemberontak kelak.

Kiranya MOS yang bernada kekerasan dan pekikan suara itu akan lebih wajar dan lebih bermanfaat jika dilakukan dengan hal-hal yang lebih edukatif. Cara kekerasan dan pekikan suara jika kita mau mengingat itu seperti arogansi pada pemerintahan Jepang di Romusha. Sehingga jiwa pemberontak akibat kekerasan dan pekikan itu muncul ke permukaan. Jika hal ini terjadi kepada siswa, maka siswa jika sudah memberontak sulit untuk dikendalikan.

Saya pikir, segala bentuk kekerasan di sekolah seperti pencabulan, perkelahian, pembunuhan, tawuran yang mewarnai wajah pendidikan Indonesia dan seluruh dunia itu tak lain merupakan cerminan dari didikan yang tak jauh dari cara siswa melampiaskan hasrat dan kehendak dirinya. MOS yang identik dengan monster di sekolah tak lain menjadi sumber kemapanan mental para siswa yang tak akan mudah dikendalikan sehingga bernilai negatif. Lihat saja pada saat ini, sulit menemukan siswa yang lebih berkepala dingin.

Jika MOS di sekolah menjadi monster menakutkan yang ditakuti oleh tiap mahasiswa, maka setidaknya kita sebagai guru dan pendidik yang profesional harus mampu menjadikan MOS sebagai wahana mendidik mental siswa agar mampu memahami lingkungan dan masyarakat. Mereka sepantasnya diberi dedikasi yang lebih mencerahkan yang berupa tindakan nyata. Didikan versi Jepang itu harus segera dibenahi dengan menggunakan Orientasi ala Indonesia yang lebih humanisme dan bersosial.

Salah satu langkah yang tepat diterapkan dalam kegiatan MOS yaitu memanfaatkan dan mengajarkan siswa tentang arti penting reboisasi dan berbakti kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Langkah ini sangat tepat untuk mengajak paras siswa untuk bertindak secara realistis untuk melakukan penghijauan secara langsung dengan dipimpin oleh para guru dan panitia. Di sini para guru dan panitia bukan hanya memerintah, namun memberikan contoh secara langsung. Berbaur dengan mereka akan lebih memberikan arti penting sebuah kebersamaan, bukan membeda-bedakan antara guru dan panitia saat melakukan aksi kemasyarakatan.

Selain itu pula, MOS bisa diarahkan dengan menguji mental siswa terjun langsung kepada masyarakat. Melakukan bakti sosial yang sangat penting dilakukan. Karena terkadang mental siswa rapuh ketika dihadapkan dengan masyarakat. Acuh tak acuh dengan aktivitas merupakan ciri khas siswa. Lebih-lebih bagi siswa yang suka mengurung diri tanpa mau tahu kondisi masyarakatnya sendiri.

Melalui MOS ini, ajari mereka mental yang lebih realistis bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bukan hanya dengan menghardik-hardik tanpa sebab yang jelas hanya karena kecerobohan ukuran tahu lebih 1 cm. Sungguh didikan yang memalukan! Tak layak mereka dididik seperti kolonial Jepang yang pernah menyentuh bumi pertiwi ini. Ajari mereka mental yang lebih luwes dan beradab dan penuh makna untuk kehidupan bermasyarakat. Dedikasi yang lebih edukatif tentunya akan menjadikan jiwa mereka lebih terdidik dan bermental kuat menghadapi fenomena dalam masyarakat.

Coba bayangkan jika para guru dan panitia memberikan dorongan untuk menguji mental para siswanya dengan terjun sendiri pada lingkungan dan masyarakat. Tentu bumi Indonesia akan hijau dan mental untuk terus memperbaiki alam dengan cara tak merusak lingkungan akan terpenuhi. Jika anak didik ketika MOS diarahkan dengan hal-hal demikian, maka segala bentuk kekerasan, pencabulan, dan utamanya tawuran akan terkurangi mengingat mereka harus mencintai lingkungan dan masyarakat.

* Penulis adalah Guru Madrasah Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: