Menghindari Kesalahan Berbahasa

Tanggapan untuk Junaidi Khab

SOLO POS: Selasa Pon, 27 Agustus 2013

Oleh: Tri Hariyanti*

Tri HariyantiJ. S. Badudu salah satu pakar linguistik yang pernah mengikuti Studi Pascasarjana Linguistik di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda (1971-1973) dan meraih gelar Doktor di Universitas Indonesia (1975) mendasarkan ejaan pada konvensi semata-mata. Ejaan lahir dari persetujuan para pemakai bahasa yang bersangkutan. Ejaan itu disusun oleh seorang ahli bahasa atau suatu panitia yang terdiri atas beberapa orang ahli bahasa, kemudian disahkan dan diresmikan pemerintah. EYD yang kita pakai dewasa ini telah disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Masyarakat pemakai bahasa pun harus mematuhi apa yang telah ditetapkan itu.

Selasa lalu Mimbar Mahasiswa SOLOPOS (20/8) memuat artikel menarik yang ditulis oleh Junaidi Khab yang berjudul Merendahkan Martabat Bahasa. Ia mengutarakan pengalaman (kritik)  serta rasa tidak puas ketika membaca sebuah buku yang terdapat banyak kesalahan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Memang betul, sebagai seorang pembaca kita mesti cermat dalam ‘mengonsumsi’ sebuah buku apalagi kesalahan bahasa yang ada, sebab hal tersebut sangat penting sebagai catatan untuk  perbaikan cetakan buku selanjutnya. Namun, perlu diperhatikan kembali selain kesalahan ejaan, kita juga harus memperhatikan aspek lain yang melatarbelakangi adanya kesalahan bahasa. Dan, ini harus dipahami betul oleh masing-masing penulis supaya kelak tak ada lagi kesan ketidaknyamanan ketika membaca sebuah buku.

Pengalaman saya ketika menempuh-praktik mata kuliah profesi penyuntingan (mengedit buku) di sebuah penerbit juga menunjukkan hal itu. Kesalahan ejaan, kata mubazir, kalimat ambigu, maupun penggunaan diksi yang tidak tepat memang seringkali terjadi bahkan banyak sekali saya temukan kata-kata tidak santun dalam percakapan maupun isi teks buku yang ditujukan pada anak Sekolah Dasar. Pemakaian huruf kapital-kecil, miring, tebal seringkali terbalik. Atau, penulisan kata dasar, bentuk ulang, kata depan, partikel, angka bilangan, maupun kata ganti yang tidak tepat. Selain itu, kesalahan pemakaian tanda baca titik, koma, tanya, seru, elipsis, petik, apostrof dan sebagainya, terlebih mengenai penulisan unsur serapan yang salah padahal kesalahan-kesalahan tersebut dilakukan oleh seorang penulis yang sudah kondang dan sudah beberapa kali menulis buku ajar. Ironis!

Penuh Ketelitian

Rohmadi (2011) mengategorikan penulis menjadi beberapa macam. Pertama, penulis profesional (PP). Penulis kategori ini biasanya sudah berpengalaman menulis naskah. Kejanggalan atau kesalahan sudah jarang ditemukan dalam tulisannya. Kedua, penulis semiprofesional  (PSP). Penulis ini lebih sedikit pengalamannya dibandingkan penulis profesional sehingga sering ditemukan kesalahan. Terakhir, penulis amatir (PA) atau yang sering disebut sebagai penulis pemula ini memiliki tingkat kemampuan paling rendah dibandingkan penulis profesional dan semi profesional. Akibatnya, tingkat kesalahan dan kekurangannya tergolong berat.

Penulis haruslah menjadi orang pertama yang harus mengecek dan menyadari jika tulisannya terdapat kesalahaan bahasa, bukan editor, bukan pembaca! Seorang editor (penyunting) memang memiliki tanggung jawab terhadap naskah yang disuntingnya tetapi,  apabila terjadi kesalahan fatal, buku yang telah ditulis oleh penulis dan telah diedit oleh editor lalu telah terbit menjadi buku, kemudian dibaca khalayak dan mendapat banyak respon kesalahan bahasa, saya rasa itu bukan semata-mata kesalahan kerja editor. Kerja penulis sendiri harus lebih ditingkatkan untuk tulisan selanjutnya ataupun kesempatan menulis yang akan datang.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong manusia dan insan cendikia untuk mengonsumsi berbagai buku untuk memperkaya ilmu. Untuk itulah, buku yang disusun dan diterbitkan haruslah berusaha ‘setulus hati’ mewujudkan cita-cita mulia pembaca itu. Buku haruslah seminimal mungkin memiliki kekurangan yang membuat pembaca nyaman. Kesalahan demi kesalahan (bahasa) yang ada harusnya dapat diminimalisir sekecil mungkin mengingat keberadaan buku dewasa ini sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembaca yang haus ilmu pengetahuan.

Cermat, penuh ketelitian, serta memiliki rasa tanggung jawab yang melekat pada seorang editor maupun pembaca yang kritis seharusnya dimiliki juga oleh seorang penulis. Sehingga, apabila kelak di kemudian hari muncul pertanyaan maupun masukan terhadap suatu karya yang memiliki banyak kesalahan bahasa, tak ada lagi jawaban yang bernada ‘kurang tahu’ dari penulis sendiri. Selain itu, tak ada salahnya mempelajari kembali ihwal penggunaan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai upaya untuk menghindari kesalahan bahasa.

Baik penulis maupun editor tak boleh melupakan ini dan mengabaikannya. Terakhir yang tidak kalah penting, pemilihan kata, pembentukan kalimat yang koheren, serasi, serta kalimat yang tak mengandung banyak tafsir juga harus diperhatikan agar tulisan (karya) yang dihasilkan tak memuat banyak kesalahan.

*Tri Hariyanti, Mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: