Nasi untuk Presiden

METRO RIAU: MINGGU, 4 Agustus 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Nasi untuk Presiden (Junaidi Khab)

Nasi untuk Presiden (Junaidi Khab)

Bukan karena Mu’en nakal dan tidak rajin bekerja hidupnya melarat. Dalam hidup kesehariaannya dia selalu memeras keringat dan membanting tulang demi menghidupi keluarganya. Bapak yang memiliki tiga anak dari seorang istri yang setia menemani perjalanan hidupnya, Sutiyah. Anak sulungnya kini masih berada di Sekolah Dasar di desanya yang terpencil dan jauh dari jangkauan kebijakan pemerintah. Adnan yang memiliki penampilan jauh berbeda dengan anak-anak yang lainnya, badan ramping, baju pas-pasan dan apa adanya, namun anaknya cerdas dan jenius dalam berbagai pelajaran.

Dua anak Mu’en yang masih baru belajar berjalan, Amin dan Aminah dua anak kembar adik dari Adnan. Aminah dan Amin lebih tua Aminah umurnya sehingga yang lebih cepat bisa melangkahkan kakinya Aminah sebagai kakak perempuan Amin. Meskipun mereka berada dalam keluarga di bawah garis kemiskinan dan serba kekurangan namun tetap  semangat bermain dan bercanda ria demi menghilangkan beban penderitaan yang tidak kunjung reda meskipun ayahnya bersusah payah mencarikan nafkah untuk mereka.

Hari-hari yang menyelimuti kehidupannya penuh kenangan pahit yang tak terlupakan saat teman-teman Adnan berkunjung ke rumahnya. Sindiran atas keadaan hidupnya selalu diungkapkan dengan sinis meski tidak secara langsung. Setiap kali teman-temannya yang berkunjung ke rumah Adnan selalu berbisik-bisik penuh kecurigaan dan tidak mengenakkan bagi keluarga Adnan. Karena memang apa yang disuguhkan oleh orang tua Adnan apa adanya seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan hasil memetik dari sawahnya, itu pun tidak begitu bermutu pertumbuhan dan kualitasnya.

Keadaan rumah yang dihuninya memberikan sebuah kesan sangat nista. Reot tak karuan dimakan rayap. Namun mujurnya tidak roboh menimpa penghuninya di dalam. Tiang-tiangnya terbuat dari bahan kayu tua peninggalan nenek moyangnya pada masa penjajahan Belanda. Itu salah satu warisan yang selalu menjadi lirikan mata masyarakat yang ingin memilikinya karena tiang kuno itu merupakan bahan antik, jika dijual sangat mahal harganya. Namun demi menjaga pesan nenek moyangnya, keluarga Mu’en tidak berani menjualnya. Konon katanya, tiang itu akan memperkokoh bangunan sebuah rumah jika digunakan dan dipasang pada Rabu kliwon, ternyata itu benar, rumah Mu’en tak kunjung roboh meskipun reot digerogoti rayap.

Mu’en sejenak menghampiri istrinya menyapa sebagaimana bisanya seorang suami. Seketika itu pula ia menghindar duduk termangu di atas kursi goyang sambil mengarungi nasibnya dengan ditemani sebatang rokok kulit jagung dan kopi yang getir sebagai penahan matanya di saat mulai terkantuk.

Malam sudah meraba dinginnya embun. Namun Mu’en masih duduk termangu dikepuli asap rokok yang sesekali mati dinyalakan lagi. Sutiyah hanya memandanginya dari kejauhan di tepian pintu. Melihat suaminya yang hanya termangu ia menggelengkan kepalanya pertanda tak mengerti dengan sikap suaminya itu. Lalu ia berbalik ke kamar tidurnya yang hanya berupa ranjang beralaskan tikar dari anyaman daun siwalan.

***

            Sekian lama setelah beberapa malam hingga satu bulan sering duduk termangu kini ia tidak lagi terlihat oleh Sutiyah di atas kursi goyangnya. Kini Sutiyah merasa heran tak melihat suaminya di tempat sebagaimana bisaanya. Ia melihat ke sana ke mari ternyata tak ada kepulan asap yang menandakan suaminya berada. Lalu ia masuk kamar dan tidur dengan diselimuti dinginnya malam yang menusuk tulang pada musim panas itu.

Keesokan harinya ia masih belum melihat batang hidung suaminya. Ia mulai mencemaskannya karena sudah semaleman tidak melihatnya hingga pagi hari.

“Adnan, kamu tidak melihat bapakmu toh?”. Tanya Sutiyah pada Adnan yang baru saja selesai solat subuh.

“Tidak mak, kenapa mak?”.

“Dari tadi malam bapakmu tidak kelihatan”.

“Nan, coba kamu tanya pada tetangga sebelah mungkin dia ketiduran saat bertamu”.

Tanpa banyak Tanya Adnan lari langsung menghampiri teman dekat bapaknya, Herun. Namun sayang, juga tidak ada di sana.

“Tidak ada Bu…”.

Sudah seharian Adnan bersama Ibunya mencari sang bapak yang tidak tahu kemana perginya sejak malam itu. Gelisah dan bingung menyelimuti hati Sutiyah setelah mengingat sejenak kelakuan suaminya yang sering termangu setiap malam dalam satu bulan belakangan ini. Kegelisahannya membuat dirinya lupa makan sehingga pipinya kini mulai mengempis daging yang semula menunjukkan raut wajah anak muda belia kini bagaikan tua rentah hanya dalam dua hari sejak suaminya tidak kelihatan di tempat bisanya.

***

Empat hari sudah sejak melenyapnya Mu’en dari lekuk bola mata keluargnya. Kerisauan yang sejak malam melanda keluarga Sutiyah kini menjadi isak tangis yang tak terkira. Amin anak bungsungnya menunjukkan ayahnya yang sedang tergantung di atas pohon jambu mente di sebelah rumahnya. Itu kelihatan saat Amin bermain dengan teman sebayanya yang mau menembak burung dengan katapelnya, lalu dikejutkan dengan sang bapaknya yang putih tak berdarah.

Adnan hanya terdiam kaku memeluk Aminah kakak kembar Amin. Air mata terus mengucur dari tepi matanya meratapi nasib di masa depannya. Tanpa seorang ayah yang akan menafkahi biaya hidup dan pendidikannya. Kini Adnan harus meninggalkan dunia pendidikan karena tidak ada biaya yang cukup untuk membayarnya setelah kematian ayahnya.

Sebenarnya Mu’en bunuh diri bukan hanya karena nasibnya miskin. Akan tetapi ia juga memikirkan nasib dirinya yang terkena penyakit diabetes yang tak kunjung sembuh. Ia bersikeras mengakhiri hidupnya karena takut menyusahkan keluargnya untuk berobat ke mana-mana hingga banyak menghabiskan uang sehingga ia memilih untuk bunuh diri.

***

Hari pertama dan ketiga dari sejak ditemukan kematian Mu’en kini tiba pada hari ketujuh yang mana hari terakhir diselamati dan dimohonkan doa bersama tetangganya. Para tamu dan tetangganya hilir mudik sibuk-sibuk mempersiapkan jamuan apa adanya di dapur Sutiyah yang cukup begitu sederhana. Sutiyah menangis mengingat nasib ketiga anaknya, termasuk Adnan yang menemani ibunya menangis sambil menghiburnya dengan tangisan pula.

Tidak ada tetangga yang peduli atas kematian Mu’en. Mereka iri tidak bisa mendapatkan barang antik itu. Setiap tetangga yang mau membelinya selalu gagal. Kini mereka tinggal mencuekinya dan sinis serta dengan omelan yang menyengat hati keluarga Mu’en.

Nasi hidangan tamu hari ketujuh selamatan Mu’en masih banyak tersisa. Tetangga banyak yang enggan memakan nasi dari olahan keluarga yang meninggal. Konon bisa menyebabkan penyakit yang sulit sembuh. Dari cerita penduduk desa itu dipercayai bahwa saat nasi diambil dari periuk lalu didinginkan di atas ranjang, mayat yang meninggal mondar-mondir di atasnya menyiramkan berbagai macam penyakit yang bisa diderita manusia dan sulit penyembuhannya. Apalagi kalau memang sudah diserang semacam penyakit, itu malah akan menyebabkan kematian dan tidak ada obatnya.

Seperti tetangga sebelah Mu’en. Darun yang meninggal gara-gara makan nasi hasil melayat ke salah satu tetangga seberang desa. Dan memang sebelumnya Darun dikena penyakit luka terkena bakar. Sebenarnya sudah hampir sembuh dengan diolesi berbagai macam obat. Namun setelah makan nasi hasil melayat itu luka yang tinggal keropengnya itu memerah sedikit demi sedikit hingga luka itu memenuhi sekujur tubuhnya. Kemudian diulati hingga tak ada sedikitpun dari anggota tubuhnya yang selamat dari gerogotan ulat. Begitulah nasib Darun yang malang.

***

Nasi yang tersisa itu diawetkan oleh Sutiyah. Eman buat oleh-oleh ketika berkunjung ke rumah bapak presiden. Karena sejak dahulu mempunyai keinginan dan nadzar selama hidupnya harus menemui presiden negaranya sendiri. Sutiyah menyimpan nasi itu karena hanya itu nasi beras yang dimilikinya sehingga malu jika menyuguhi nasi selain nasi beras. Berbagai macam ramuan khas daerah itu diracik oleh Sutiyah demi mengawetkannya. Sungguh tidak sia-sia usaha yang dilakukannya. Nasi itu awet dan masih steril.

Pada dini hari saat tetangganya masih menikmati gelapnya malam yang dingin, Sutiyah bangun untuk bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta menemui bapak presiden. Syal yang diwarisi mertuanya itu dipakai sebagai tanda kehormatan kepada mertuanya dan tak lupa membawa nasi untuk dipersembahkan untuk bapak presiden.

“Mau kemana Bu?”. Tanya Adnan penasaran dengan tingkah ibunya yang tidak seperti bisanya bersolek.

“Mau ke Jakarta”.

“Mau apa Bu?”.

“Berkunjung ke rumah Presiden, jaga adikmu baik-baik”. Jawab Sutiyah singkat dan sejenak menghilang di kesunyian pagi. Adnan tidak berkutik lagi dan harus patuh pada pesan ibunya.

Perjalanan yang biasanya ditempuh enam hari dengan sepeda gunung kini bisa ditempuh dua hari berjalan kaki. Itu berkat keajaiban syal yang diwarisi mertuanya bisa mempercepat laju perjalanan dan menghilangkan rasa capek. Syal itu memiliki banyak kekuatan ajaib yang tidak pernah diketahui tetangganya, hanya Sutiyah dan Mu’en yang tahu mengenai rahasia syal yang dimilikinya.

Setiba di Jakarta Sutiyah bertanya-tanya mengenai kediaman presiden kepada orang yang dijumpainya. Pada akhirnya ia tahu tempat kediaman presiden yang ingin ditemui selama hidupnya. Tidak ada maksud apa-apa kunjungannya itu melainkan menepati nadzarnya. Ia mulai menghelakan dan mengumbar-ngumbarkan syalnya sebelum menemui bapak presiden untuk mendatangkan keajaiban dari syal itu. Sehingga ia mudah menemui sang presiden. Karena ia tahu bahwa bisanya sangat sulit untuk bertemu sang presiden kecuali orang-orang terkenal saja.

Ternyata usahanya tidak sia-sia datang ke Jakarta. Ia berhasil menemui presiden dengan tenang dan nyaman di kediamannya.

“Assalamu ‘alaikum”.

“Wa ‘alaikum salam”. Jawaban dari dalam rumah dengan nada kaku dan parau.

“Siapa? Silahkan masuk”.

“Saya salah satu rakyat bapak yang memiliki keinginan untuk menjumpai presiden selama hidup saya, ternyata sekarang sudah terpenuhi”. Sahut Sutiyah sambil menuju kursi ukiran sisa ala kerajaan Majapahit.

Perbincangan mereka sangat hangat pada waktu itu. Presiden bilang bahwa dirinya terkena penyakit diabetes dan sulit untuk sembuh. Padahal sudah berobat ke berbagai negara dan berobat dengan berbagai macam ramuan. Namun tetap tidak membawakan hasil. Wajah sedih menyelimuti Sutiyah setelah mendengar curhatan presiden tadi. Sutiyah tidak memberikan saran apapun karena dia memang tidak tahu apa-apa tentang dunia medis.

Berselang beberapa waktu dari perbincangannya. Sutiyah pamit pulang ke desanya. Ia tak lupa menyuguhkan nasi yang dibawa untuk sang presiden lalu ia pamit dengan senyuman ramah dari presiden. Karena lapar belum makan seharian bapak presiden itu langsung melahap nasi pemberian Sutiyah tanpa banyak kecurigaan.

Sesampai di rumah, Sutiyah mendengar berita bahwa penyakit presiden bertambah parah dan sudah sakarat. Tubuhnya penuh dengan luka yang terus menjalar akibat diabetes yang dideritanya. Tanpa disadari dia makan nasi dari hasil olahan keluarga yang meninggal dunia. Hingga sang presiden mengakhiri hayatnya akibat penyakit yang dideritanya.

Sutiyah hanya terdiam mendengar kematian sang presiden. Ia merasa bersalah kepadanya. Namun, tidak ada maksud jahat dengan memberikan nasi itu. Kemudian, setelah kematian sang presiden ia mempelopori untuk menghilangkan adat dan kepercayaan masyarakat bahwa nasi yang demikian tidak mendatangkan petaka dan penyakit. Itu hanya sekedar keyakinan, jika tidak diyakini tidaklah akan mendatangkan marabahaya bagi kehidupan. Sejak itulah nasi hasil melayat tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit yang diderita oleh masyarakat jika dimakan.

Surabaya, 09 Maret 2012

* Cerpenis Tinggal di Surabaya dan Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: