Upaya Menyelamatkan KPK

Surabaya Pagi: Jumat Pon, 2 Agustus 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Upaya Menyelamatkan KPK (Junaidi Khab)

Upaya Menyelamatkan KPK (Junaidi Khab)

Reformasi politik tahun 1998 membawa harapan baru terhadap bangsa ini termasuk pemberantasan korupsi. Untuk memberantas korupsi yang sudah berurat berakar, dibuatlah undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi yang beberapa kali disempurnakan. Untuk melaksanakan undang-undang tersebut dibuat lembaga baru bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bisa ditafsiri sebagai upaya melengkapi lembaga-lembaga penegak hukum yang sudah ada (kepolisian dan kejaksaan). Tetapi juga bisa diartikan sebagai ketidakpercayaan pada lembaga-lembaga hukum yang sudah ada. Karena justru pada lembaga-lembaga penegak hukum yang sudah ada itulah praktik korupsi tumbuh subur.

Maka untuk itulah KPK tidak akan pernah menjadi berita yang basi di berbagai media massa. Dengan dipimpin Abraham Samad KPK sudah naik daun dalam renggang waktu kurang lebih sekitar enam belas bulan. Atas kepemimpinan Abraham bisa diacungi jempol. Itu tak lain dipicu oleh semangat hidup dan jiwa antikorupsi dari Abraham untuk memberantas korupsi di negeri ini. Komitmennya sangat begitu kuat. Ia bagaikan seekor singa jantan negara dalam pemberantasan korupsi. Jika memang bersalah dan korup, maka mereka akan menjadi santapannya.

Terbukti belakangan tahun ini para koruptor tidak bisa bersembunyi di balik rerimbunan parpol, instansi negara, dan tabir agama. Mereka semua hanya mendesah dan melenguh saja melihat sepak terjang singa negeri ini. Kasus pengadaan al-Quran, century, simulator SIM, Hambalang, impor sapi, dan beberapa kasus yang lainnya sudah berhasil diringkus oleh lembaga otonom tersebut.

Lembaga KPK tak lain merupakan lembaga yang independen. Lembaga tersebut tidak berdasarkan kepentingan politik. Namun sebagai lembaga yang memang untuk menangani kasus korupsi di negeri ini hingga tuntas. Dalam artian lain KPK merupakan lembaga penegak hukum setelah kepolisian dan kejaksaan.

Menurut Hadi Supeno (2009:3) menyebutkan bahwa keberadaan KPK sering disebut sebagai lembaga super body karena kewenangannya yang bisa melakukan apa saja telah membawa banyak korban. Dari mantan menteri, gubernur, anggota DPR, wali kota, dan para pengusaha besar berhasil dijebloskan ke dalam penjara karena kasus korupsi. Sesuatu yang sebelumnya sangat tidak mungkin terjadi. Sebuah suprise bagi sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia-kalaulah bukan sejarah peradaban-untuk pertamakalinya besan Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Aulia Pohan masuk penjara karena kasus korupsi saat ia menjabat sebagai salah satu deputi di Bank Indonesia. Melengkapi sekitar 500 pejabat publik Indonesia yang masuk penjara Reformasi.

Menyingkirkan Sandungan

Istilah sandungan tidak akan lepas dari kehidupan kita. Apalagi bagi lembaga otonom seperti KPK yang tidak akan pernah luput dari sandungan itu sendiri. Kali ini di balik kesuksesan Abraham Samad memimpin KPK ada sandungan yang harus ia hadapi. Pernah suatu ketika pada tahun 2012 lalu ada sebuah demonstrasi kecil-kecilan oleh beberapa orang di Solo menolak keberadaan KPK. Para demonstran tersebut tidak menampakkan dirinya dengan menggunakan topeng. Mungkin agar mereka tidak diketahui sebagai penolak KPK.

Tentu dari reaksi semacam ini menjadi ancaman bagi badan otonom KPK yang berjalan setengah jadi. Namun disadari atau tidak, demonstran tersebut merupakan orang-orang salah dan cuma ingin mengernyitkan keberadaan KPK. Jika memang mereka benar, maka dengan terang-terangan akan menolak KPK pada saat itu.

Kali ini secara jelas ketua umum KPK Abraham Samad mendapat tudingan kasus pelanggaran kode etik karena pembocoran dokumen draf sprindik Anas di gedung KPK Jakarta (03/04/2-13). Namun hal itu disanggahnya karena dirinya tidak pernah melakukan hal tersebut. Berlanjut pada pengakuan Wiwin Suwandi bahwa pembocoran dokumen tersebut merupakan inisiatif dirinya bukan dari Abraham Samad. Kendatipun demikian, Abraham mendapat surat teguran dan Adnan Pandu mendapat teguran secara lisan. Namun meski dirinya dan lembaga KPK secara umum tersandung kasus pelanggaran kode etik ia tidak akan pernah mundur dalam memberantas kasus korupsi. Teguran itu akan menjadi nasehat untuk memantapkan kiprahnya agar tetap solid sebagai badan otonom negara.

Persoalan semacam ini sedikit menyita perhatian bagi badan otonom KPK dan publik dan termasuk kendala dalam proses pemberantasan korupsi. Padahal jika berbicara mengenai pelanggaran kode etik sudah banyak menteri dan kebinet negara yang melanggar kode etik, namun tidak ditanggapi dengan serius. Namun ketika dari pihak KPK sedikit ada kejanggalan menjadi berita panas untuk menuai persoalan baru. Yang penulis kira persoalan demikian tidak akan menyelesaikan kasus korupsi di negeri ini. Istilahnya kata Abraham itu tidak adil karena ada pejabat lain yang melanggar kode etik tidak ditindaklanjuti.

Mempersoalkan hal sepele juga sangat penting. Namun kita harus lebih melihat akibat dari persoalan tersebut. Andaikan KPK yang terlibat pelanggaran kode etik tersebut ada maksud ingin menghambat peranan dan tugas KPK, maka secara otomatis itu merupakan modus untuk mengurangi kinerja KPK dalam memberantas kasus korupsi di negeri ini. Hal ini sangat disayangkan oleh figur negara yang memiliki peran besar lalu hanya karena kasus kecil ia dikucilkan oleh yang lain.

Melihat pada berbagai rintangan, kendala, dan sandungan yang dihadapi oleh KPK, maka kita sebagai masyarakat yang hidup di negara demokrasi yang hampir mati ini karena korupsi. Setidaknya kita sebisa mungkin menyingkirkan berbagai sandungan dan kendala yang dihadapi oleh badan otonom KPK. Bukan malah menambah persoalan dan memperumit kinerja KPK dengan menuai dan mengorek-ngorek celah kesalahan KPK. Maka dari itu, kita harus berusaha dengan hati yang tulus untuk membantu dan mendukung memperlancar kinerja KPK dalam memberantas kasus korupsi di negeri ini.

* Penulis adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: