Cermin Kesuksesan dan Cinta Prematur

KORAN MADURA: JUM`AT, 2 AGUSTUS 2013 NO. 0173 | TAHUN II

Cover Rantau 1 Muara (Junaidi Khab)

Cover Rantau 1 Muara (Junaidi Khab)

Judul               : Rantau 1 Muara

Penulis             : A. Fuadi

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : II, Juni 2013

Tebal               : 407 halaman

ISBN               : 978-979-22-9473-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Trilogi negeri lima menara telah berhasil menerbitkan buku ketiga yang tak kalah memukau, yaitu Rantau 1 Muara yang mengisahkan kehidupan seorang tokoh dengan semangat kesuksesan dalam hidupnya yang begitu terang benderang. Terkadang hidup ini tampak begitu buram, berselimut kabut, dan berbagai rimbunan kemelut hingga dalam menjalaninya menumbuhkan sifat-sifat pesimis yang begitu mendalam sehingga kesuksesan itu tampak seakan-akan memang jauh dari hadapan kita. Namun, novel ketiga dari trilogi negeri lima menara ini mencoba memberikan pandangan yang cukup memotivasi dengan sifat-sifat yang mampu membangun keoptimisan hidup dan memandang masa depan yang lebih cerah.

Jika dilihat secara lebih dalam, Rantau 1 Muara ini memiliki kemiripan cita-cita dengan novel karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Namun, Rantau 1 Muara ini mendiskripsikan sosok Alif Fikri yang lebih dewasa dalam pemikirannya. Berbeda dengan novel Laskar Pelangi yang lebih condong jauh mengisahkan dunia anak-anak yang memiliki cita-cita tinggi untuk kuliah ke Paris. Begitu pula dam Rantau 1 Muara ini kisah harapan dan cita-cita sang bintang untuk kuliah ke Amerika Serikat. Metode kerjanya juga sama antara Laskar Pelangi dan Rantau 1 Muara. Dua karya ini mengantarkan sanga tokoh ke tujuannya dengan beasiswa.

Dua perbedaan yang cukup menjadi pemisah antara kemiripan dua novel ini terletak pada latar penceritaan dan karakter tokohnya. Dalam Laskara Pelangi yang diunggulkan karakter penokohannya merupakan sosok anak kecil dengan semangat belajar yang tinggi dari pedesaan yang tak maju. Dalam Rantau 1 Muara tak lain sosok Alif Fikri lulusan pesantren ternama – Pondok Madani – yang berada di Jawa Timur.

Dengan bekal ilmu dari Pondok Madani itulah Alif Fikri memiliki tiga senjata ampuh untuk menjalani kehidupannya. Satu di antara dari ketiganya ungkapan man jadda wajada, –siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan sukses– yang terus berdengung dalam tiap langkah kegelisahannya (Hal. 3). Dengan semangat mantra itulah ia menjalani hidupnya berkarir sebagai penulis hingga melamar jadi seorang wartawan di majalah Derap (Hal. 43). Dari sanalah stimulasi tujuannya ke Amerika dimulai dengan menjari lowongan beasiswa ke Amerika. Dan mantranya yang lain yaitu man shabaro zhafiro dan man saara ala darbi washala  yang tak kalah ampuhnya ketika jiwanya berada dalam kegoncangan (Hal. 185).

Namun, di balik pengisahan keromantisan cinta yang tidak terasa oleh Alif Fikri itu menampakkan sebuah kisah cinta yang prematur. Penceritaan kisah cintanya terlihat begitu tergesah-gesah oleh Fuadi. Bagaimana tidak, di saat sibuk kerja, keromantisan itu datang lalu pergi dengan metode monolog oleh seorang Alif. Cara pengutaraan cintanya pun dadakan, kurang memberikan nilai keromantisan yang begitu memukau. Tiba-tiba hanya beberapa kali kenal dan saling pandang, Alif dijodohkan oleh Fuadi dari jarak jauh. Di sini, nilai keromantisannya sedikit memudar, alias percintaan menuju kehidupannya terbilang buru-buru, prematur (Hal. 197) hingga pada akhirnya alif fikri juga menyatakan cintanya dari jarak jauh (Hal. 229-240).

Kisah cinta dalam novel ini seakan benar-benar memang hanya sebagai pelengkap saja untuk memberikan sensasi dan nilai sebuah perasaan pada para pembaca. Yang lebih menonjol dalam novel ini identik dengan dunia kerja yang diselipi kisah asmara seorang Alif Fikri dan Dinara dalam menggapai tujuan hidup. Itu dapat kita pada ulasan Fuadi yang memrioritaskan dunia kerja untuk mencapai kesuksesan dan cita-cita hidup Alif Fikri dan Dinara yang memiliki tujuan negara beda.

Meskipun demikian yang dikisahkan dalam novel ini, namun nilai optimis dalam memandang masa depan kehidupan akan tetap terasa di balik semangat yang disandarkan pada sosok Alif Fikri walau ia berangkat hanya bermodal doa dan keberanian  untuk merantau ke Jakarta hingga sampai ke tujuannya, Amerika Serikat. Bahkan bukan hanya Amerika Serikat saja yang ia kunjungi, tapi juga Jerman dan Inggris. Secara garis besar novel ini memberi tiga senjata ampuh untuk menggapai kesuksesan hidup, yaitu: man jadda wa jada, man shabaro zhafiro dan man saara ala darbi washala. Segala keinginan dalam hidup ini akan tercapai jika tiga mantra ajaib ini kita amalkan.

 

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) dan Sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Untuk membaca koran epaper dalam bentuk PDF aslinya, silakan klik: KORAN MADURA, 02-08-2013 Cermin Kesuksesan dan Cinta Prematur. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: