Meraih Kehidupan yang Lebih Baik

Madura Channel: Selasa, 16 Juli 2013 09:48

Cover Rumah Seribu Cermin (Junaidi Khab)

Cover Rumah Seribu Cermin (Junaidi Khab)

Judul               : Rumah Seribu Cermin

Penulis             : John Rinaldi

Penerbit           : DIVA Press

Cetakan           : I, Juni 2013

Tebal               : 226 Halaman

ISBN               : 978-602-255-146-1

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kebaikan merupakan perintah Tuhan Yang Maha Bijaksana, begitu pun sebaliknya, perbuatan buruk merupakan larangan-Nya. Dan juga telah dijanjikan bagi mereka yang berbuat baik ganjaran/balasan yang lebih baik perbuatannya dari Tuhan. Begitu pula bagi mereka yang berbuat buruk, balasan/ganjaran akan diberikan yang lebih buruk dari pekerjaan buruknya itu. Tak ada paksaan bagi mereka yang mau melakukan perbuatan buruk atau baik. Namun, hakikatnya manusia ingin berbuat baik, tetapi akibat rasa ego dan mementingkan dirinya sendiri, perbuatan baik itu sulit untuk dilakukan.

Kiranya tamparan dalam buku ini akan menjadi jendela baru dalam menatap masa depan agar selalu berlatar belakang kebaikan. Selain menjadi tamparan bagi kita yang selalu egois dengan kepentingan pribadi, buku ini secara eksplisit memberikan sebuah nasehat agar kita sadar untuk selalu berbuat baik antar sesama dalam upaya menatap masa depan yang gemilang. Ibroh dalam buku ini akan menginspirasi dan menyadarkan kita untuk terus berbuat baik dan berbuat yang lebih bijak serta membuang sifat ego yang akan menjauhkan kita dari berbuat baik yang akan menjadi buah kehidupan di masa mendatang.

Misalkan dalam kisah di buku ini seorang yang sudah putus asa ketika menjadi pengangguran. Ia menemukan sebuah koin kuno. Ia bingung mau diapakan. Kemudian bertemu dengan seseorang, ia disuruh ke kolektor. Ia mendapat uang 30 dollar. Kemudian ia membeli kayu untuk membuat lemari seharga 30 dollar. Ketika di jalan kayu itu ada yang menawar 300 dollar kayu tersebut. Ia tak mau, kemudia ditukar dengan sebuah mecel. Ia membawa mebel mewah dari sana. Di jalan lagi, mebel itu dilihat seseorang, lalu dibeli dengan harga 250 dollar. Setelah mendapat uang 25 dollar ia dirampok dan habislah uangnya. Tinggal cerita pada istri di rumahnya (Hal. 13).

Sudah tampak jelas bahwa kita ini hidup tidak membawa dan tidak memiliki apda-apa. Segalanya adalah titipan. Segalanya hanya milik Tuhan Yang Maha Kaya yang suatu saat akan diambil dari kehidupan ini. Tanpa sadar dan penuh egois kadang kita hanya karena harta benda yang kita miliki hilang lalu menyalahkan siapa saja yang ada di hadapan. Padahal apa yang kita milikinya bukan milik kita sejatinya. Namun milik Tuhan yang hanya dititip kepada kita.

Dari kisah itu sebuah buku untuk menuju arah agar menjadi manusia penuh kesadaran untuk menjalani kehidupan ini perlu dihayati. Kita tidak perlu risau dengan apa yang kita miliki selama ini ketika sudah sirna hal-hal yang kita banggakan. Menjadi manusia menuju kehidupan yang lebih lagi harus mampu melihat situasi dan kondisi yang kita hadapi saat ini. Tanpa sadar kadang kita berada dalam apa yang kita carai dalam kehidupan ini. Itu akibat rasa ego dan lemah serta ketidaktahuan kita.

Jangan seperti ikan kecil yang tidak tahu tentang ari dan mencari tahu tentang air itu seperti apa. Saat itu ia mendengar perbincangan seorang anak dan ayahnya di tepi sungai yang menyatakan air itu penting bagi kehidupan. Ikan kecil itu pergi ke hulu hingga ke hilir tak mendapat apa yang ia cari. Ia bertanya pada seekor ikan besar air itu seperti apa bentuknya. Namun, usahanya gagal. Ikan besar itu tidak tahu seperti apakah air itu yang sebenarnya. Setelah bertemu dengan ikan yang berpengalaman, bari ia tahu bahwa air itu, yaitu yang ada di sekelilingnya (Hal. 60).

Begitu kiranya kehidupan manusia ketika berada dalam keadaan bimbang dan ketakutan. Sama dengan ikan kecil yang tak tahu apa-apa. Yang menyelimuti pikiran hanya tergesah-gesah dalam menyikapi suatu keadaan hingga merasa diri kita berada dari tempat yang jauh dari hal-hal yang kita butuhkan yang sebenarnya berada di sekitar kita masing-masing. Membangun kesadaran untuk hidup yang lebih sangat diperlukan agar tidak sesat di jalan ketika menempuh rintangan yang kita hadapi secara bertahap dalam kehidupan ini.

Kisah-kisah dalam buku ini tak lain sebagai penggugah jiwa agar selalu berada dalam kesadaran atas kelemahan supaya mampu mensyukuri nikmat yang kita peroleh di dunia ini. Karena tidak secara mudah kita menyadari segala hal tanpa ada yang menginspirasi sebelumnya. Di balik kisah-kisah yang disajikan di dalam buku ini disertai pesan-pesan inspiratif yang mudah dipahami makna dan arti penting dari kisah itu sebagai ibroh bagi kehidupan kita ini.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: