Mengoptimalkan Budaya Baca

REPUBLIKA: Ahad, 14 Juli 2013

Oleh: Junaidi Khab*

REPUBLIKA Mengoptimalkan Budaya Baca (Junaidi Khab)

REPUBLIKA Mengoptimalkan Budaya Baca (Junaidi Khab)

Jika dilihat dari pandangan sekilas, mayoritas masyarakat dan para generasi bangsa ini tidak terlepas dari kegiatan membaca. Bahkan jika mereka ditanya tentang hobi, mereka tentu akan menjawab bahwa hobinya membaca dan menulis. Sungguh hal yang patut kita acungi jempol. Namun sayang, pada dasarnya mereka bukan hobi membaca buku yang bernilai dan memberikan manfaat. Kenyataannya mereka hanya membaca dan menulis pesan-pesan yang diterimanya dalam ponsel dan jejaring sosial (facebook). Sehingga mereka tidak mendapat sebuah pencerahan yang sejati, padahal jika mereka memanfaatkan waktunya untuk membaca beberapa buku dan literatur keilmuan akan memberikan manfaat yang sangat banyak dalam hidupnya.

Membaca yang baik sebenarnya itulah hal yang mereka butuhkan, namun tidak disadari sepenuhnya bahwa hal tersebut merupakan sebagai kebutuhan primer bagi psikologisnya untuk berkembang. Sehingga dengan berkurangnya minat baca terhadap buku-buku literatur yang ada dasarnya, maka mereka berada dalam kevakuman dalam berpikir dan merasionalkan pembicaraannya dengan orang lain. Setidaknya sebagai generasi bangsa, kita harus mampu membaca terhadap hal-hal yang bisa memberikan pencerahan dan motivasi kehidupan.

Mungkin itulah alasan Tuhan menurunkan ayat al-Qur’an pertama kali agar umat manusia membiasakan untuk membaca. Karena implikasi dari budaya membaca sangatlah berpengaruh bagi kemajuan kehidupan umat manusia. Selain itu pula dengan membaca kita bisa mengakselarasikan perkembangan hingga kemajuan yang diimpikan, yaitu keharmonisan, kemakmuran dan kesejahteraan hidup. Bahkan di samping itu, budaya baca akan mengurangi ketumpulan otak yang sering dikeluhkan oleh sebagian orang tua bahwa anaknya tidak cerdas.

Bagi mereka yang memiliki ketangkasan dalam menguasai suatu bacaan akan merasa senang untuk membaca. Namun bagi mereka yang memiliki aleksiakan susah juga untuk menumbuhkan semangat baca. Maka sangat penting menemukan solusi yang mampu untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya dengan belajar menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, aleksi yang dialami seseorang ketika membaca akan bisa diseimbangkan. Karena menulis juga melatih otak untuk terus bekerja mengingat dan menata kata-kata hingga menjadi sebuah kalimat yang utuh.

Pada hakikatnya menulis merupakan cerminan bahwa seseorang itu suka membaca. Sangat mustahil sekali orang yang mampu menghasilkan gagasan dalam bentuk tulisan kalau tidak membaca. Dengan membaca, maka otak akan terus aktif dan berfungsi. Pada saat itulah bermunculan gagasan-gagasan baru untuk merespon apa saja yang telah kita baca. Jadi, membaca bukan hanya menambah wawasan dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi di balik itu, membaca akan berujung pada pengabadian apa yang telah kita pahami dalam bentuk tulisan.

Kegiatan membaca akan menyenangkan dan memancing untuk menemukan ide yang kreatif dan kritis terhadap suatu persoalan. Hingga pada akhirnya akan menemukan suatu kemajuan melalu ide-ide yang diperoleh dari proses membaca. Agar ide cemerlang yang diperoleh bisa kekal keberadaannya, maka perlu diabadikan melalui tulisan kreatif dengan ulasan yang mendalam. Maka tidak ada alasan lain bgi mereka yang mengalami aleksi dan demam baca untuk tidak membaca buku-buku sebagai penambahan wawasan dan sain secara utuh.

Sangat banyak manfaat bagi orang yang sering membaca berbagai buku dan literatur-literatur ilmiah lainnya. Namun dengan majunya teknologi pada saat ini seakan-akan kita tidak menyadari betapa sangat penting membaca sebuah keilmuan yang terkandung di dalam banyak buku. Kesadaran penuh untuk menumbuhkan minat baca harus terus dinomorsatukan. Karena dengan membaca kita akan memperoleh baca pengetahuan dan pandangan akan lebuh menjadi luas dalam melihat suatu persoalan.

Diakui atau tidak, bahwa manusia membutuhkan komunikasi, yang mana hal tersebut dikenal dengan istilah dialog. Dialog tidak akan berjalan dengan jika orang yang diajak berdialog keilmuan dan pengetahuannya sangat rendah. Sebuah dialog akan vakum jika salah satu responden mendapat kendala. Atau dialog akan tetap berjalan, namun dalam ranah apa adanya, tidak berdasar pada kebenaran yang diharapkan. Tumpang tindih saling bantah tanpa menemukan ujung kesepakatan. Maka dari itulah sangat penting sebuah wawasan dan keilmuan yang luas untuk keberlangsungan sebuah dialog yang baik.

Jika seseorang dalam berdialog kekurangan akan wawasan dan keilmuan, maka ucapannya hanya akan berupa alegasi semata. Respon darinya akan memperumit suatu persoalan, karena keilmuan dan wawasannya kurang memadai untuk diajak berdialog/diskusi tentang suatu persoalan. Maka, antipatif yang bisa memberikan jalan keluar dengan menumbuhkan kebiasaan untuk membaca berbagai buku dan literatur keilmuan lainnya. Kemampuan berdialog dengan baik akan tampak jika suatu individu memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas.

Kemajuan dan kepintaran bangsa ini akan menemui masa kemilaunya jika budaya baca masih melekat pada tiap individu. Budaya membaca merupakan peradaban umat manusia sejak zaman manusia purba. Namun dalam tiap masa, metode baca dan memahami berbagai bidang keilmuan berbeda dengan masa yang sebelumnya.

* Penulis adalah Pengelola Pondok Budaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: