Menelanjangi Sindikat Kebejatan para Pejabat Negara

Era Madina: Minggu, 14 Juli 2013

Cover Cerita Koplak di Negeri Koplak (Junaidi Khab)

Cover Cerita Koplak di Negeri Koplak (Junaidi Khab)

Judul               : Cerita Koplak di Negeri Koplak

Penulis             : Salman Rusydie Anwar

Penerbit           : Palapa (DIVA Press)

Cetakan           : I, April 2013

Tebal               : 192 Halaman

ISBN               : 978-602-255-084-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Jika berbicara tentang keterpurukan Indonesia, negara kita ini berada dalam kungkungan kategori negara terpuruk dan terkorup. Seperti dilansir laman Transparansi Internasional,  Indonesia duduk di peringkat 118 dari daftar peringkat indeks persepsi korupsi 174 negara dunia. Namun jika mengacu poin tiap negara, Indonesia duduk di posisi 56 negara terkorup. Sungguh prestasi yang tak patut kita banggakan indeks Indonesia dalam jajaran negara terkorup di dunia. Sungguh sangat memalukan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Namun, tidak semua penduduk Indonesia mengetahui keterpurukan negara kita yang selama ini dilanda kasus suap korupsi yang tumpang tindih. Jika satu kasus akan diselesaikan, maka kasus korupsi yang lainnya merambah lebih tajam lagi. Salah satu penyebab budaya korupsi itu sendiri sulit untuk diinterpretasikan. Namun secara umum, itu disebabkan karena para pejabat yang tamak dan rakus. Selain itu pula karena perilaku hidup hedonis dan serba mewah. Keserakahan dan kehedonisan tersebut bisa kita lihat ketika pejabat menuntut pensiun seumur hidup (Hal. 19).

Sungguh tidak masuk akal. Jajaran anggota dewan ketika menuntut gaji pensiunan seumur hidup. Buat apa pensiunan seumur hidup jika tidak ada kerja yang jelas bagi kemakmuran rakyat. Pensiun seumur hidup tak lain dari upaya hidup malas bekerja. Selain itu pula, ketika sudah pensiun kerja sebagai wakil rakyat tidak akan ada di parlemen negara. Hal tersebut hanya menguras kekayaan negara untuk menghidupi pejabat yang nakal itu. sementara nasib rakyat miskin di bawah hidup dalam keterpurukan dan serba kekurangan.

Detak-detak kekoplakan para pejabat semakin menggila sebagaimana buku ini membeberkan kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh anggota dewan. Kerja dan kinerja bukan lagi target utama para pejabat, namun agenda utama yang digarap yaitu bagaimana cara menumpuk harta sebanyak mungkin melalui proyek-proyek super besar dari negara. Misalkan anggota dewan mengusulkan renovasi perbaikan sarana dan prasarana gedung anggota dewan dangan dana sekitar 1,4 miliar. Itu pun hanya untuk renovasi toilet yang tidak seberapa pentingnya bagi kemakmuran dan kesejateraan rakyat Indonesia (Hal. 57).

Bukan hal yang asing lagi ketika hal sepeleh (kecil) dianggarkan dengan dana begitu besarnya kalau di balik itu tidak ada skandal pengerukan uang anggaran. Sejauh buku ini bercerita, masyarakat umum akan melihat dengan jelas bahkan seakan berada di mana para pejabat itu melakukan kejahatan terselubung tersebut. Sebut saja renovasi gedung tersebut. Masyarakat akan tahu bagaimana uang pajak mereka dimakan para tikus-tikus itu, sembunyi-sembunyi namun kelihatan.

Bukan hanya yang bekedok pada hal-hal yang sepeleh para pejabat negara mengeruk keuntungan dari kesempatan yang ada atau yang dibuatnya guna memperoleh uang saldo yang cukup besar bagi dirinya. Mungkin masyarakat sekarang harus benar-benar melihat dan berpikiran cerdas melihat tingkah dan ulah para pejabat. Istilahnya study banding ke luar negeri dengan anggaran juga mengundang kecurigaan publik dengan anggaran triliunan rupiah (Hal. 96).

Lagi pula negara kita butuh banyak belajar dari negara lain. Wakil rakyat kita juga butuh menimba pengalaman banyak dari bangsa lain. Sebab, tidak sedikit juga wakil rakyat yang hanya bisa duduk di kursi dewan dengan bekal popularitasnya saja, tempaan instan parpol, namun sebelumnya tidak memiliki pengalaman banya di bidang politik dan birokrasi. Inilah mungkin alasan anggota dewan ingin melakukan study banding ke luar negeri dengan dana yang sangat besar. Secara tidak langsung, acara study banding itu menunjukkan kebodohan dan kegoblokan para anggota dewan dalam bidang politik dan birokrasi. Selain itu pula sebagai kesempatan jalan-jalan dan mengambil untuk dari anggaran yang katanya untuk setudy banding itu. sungguh sangat ironis sekali.

Tidak hanya berhenti di kasus study banding saja. Titik korupsi alias kekoplakan para pejabat merambat lagi pada sektor penyediakan stok daging. Yang mana hal ini terkait dengan impor daging sapi yang berselubung di dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) entah partainya yang sejahtera dan menuntut keadilan entah untuk rakyat keadilan dan kesejahteraan itu. Selain terjangkit kasus korupsi daging impor luar negeri juga terjangkit korupsi daging lokal negeri yang harganya Rp. 10 juta, itupun tidak sampai satu ons jika ditimbang (Hal. 45).

Banyak kasus penyelewengan dan korupsi yang dilakukan oleh para pejebat negara yang tidak diketahui oleh rakyat Indonesia. Melalui buku ini, berbagai kejanggalan dan keserakahan para pejabat itu dipaparkan begitu ringan dibaca, sehingga masyarakat pembaca akan muda mengetahui sepak terjang kebusukan para pejabat negeri ini. Kisah-kisah bejat di dalam buku ini merupakan suatu kritikan bagi para pejabat dan sebagai peringatan bagi publik agar tidak terkecoh oleh para pejabat dan DPR yang berjargon membela kepentingan rakyat, namun kenyataannya membunuh rakyat. Cerita-cerita koplak anggota dewan di dalam buku ini juga disertai ulasan dan alasan yang cuku rasional. Selamat membaca dan merenungi kekoplakan para pejabat!

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: