Jalan Terjal Perjuangan Kartini

RADAR SURABAYA ● MINGGU, 7 JULI 2013

Cover Tuhan & Agama dalam Pergulatan Batin Kartini (Junaidi Khab)

Cover Tuhan & Agama dalam Pergulatan Batin Kartini (Junaidi Khab)

Judul               : Tuhan & Agama dalam Pergulatan Batin Kartini

Penulis             : Th. Sumartana

Penerbit           : Gading Publishing

Terbitan           : I, April 2013

Tebal               : 133 halaman

ISBN               : 978-602-17575-0-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Awalnya karya ini merupakan bagian dari disertasi berjudul Mission at the Cross Road, dari Th. Sumartana (1944-2003), di Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda. Jelas sekali kalau kita menengok keseluruhan isi disertasi tersebut. Th. Sumartana menempatkan Kartini dan Pemikirannya sebagai bagian penting dari dinamika kehidupan intelektual dan sosial di peralihan dan awal aba ke-20 di Hindia-Belanda. Ikhtiar keras Kartini adalah menjadikan agama itu sebagai suatu yang manusiawi, dan bukan suatu yang dogmatis dan terasing dari kehidupan kemanusiaan. Dan ikhtiar ini membawanya pada problem-problem sosial lain di luar agama.

Dari problem sosial di luar agama itu, perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia tak lepas dari perjuangan Kartini pada sejarah masa silam. Keteguhan dan kegigihannya yang digambarkan dalam buku ini menunjukkan betapa batin Kartini memberontak terhadap adat istiadat yang berkedok agama yang dipeluknya. Ia menjadi pelopor masyarakatnya yang tertindas oleh kekangan adat dan hegemoni ajaran agama yang kurang maksimal oleh keluarga dan rakyat pada masa itu. Namun, meski melalui perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan, Kartini gagal dalam perjuangan itu. Itulah batin Kartini menjerit hingga saat ini.

Perlawanan Kartini terhadap praktik poligami misalnya, di kalangan bangsawan Jawa akhirnya membawa dirinya pada kesadaran bahwa ia sendiri sudah selalu hidup dalam bayang-bayang musuh besar yang dilawannya. Ia sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan lawan yang teramat bengis dan kuat, yang didukung adat-istiadat, bahkan juga dibenarkan oleh ajaran-ajaran agama yang ada pada masa itu (Hal. 19).

Dugaan Kartini tidak luput. Tiga tahun kemudian dari dugaannya itu ia harus menikah dengan seseorang yang bukan pilihannya sendiri. Lagi pula lelaki itu sudah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak. Yaitu pernikahan dengan bupati Rembang, Djojoadiningrat tak dapat dielakkan.

Pada saat itulah, kebanggaan dan kebesaran dirinya dalam perjuangannya telah sirna. Kartini merasa bahwa dirinya kini hanyalah salah seorang dari ribuan korban perempuan Jawa yang hendak ditolong oleh dirinya. Malah ia sendiri yang telah menambah jumlah bilangan tersebut. Perlawanannya menemui jalan buntu, bahkan menelan korban baru, yaitu dirinya sendiri. Dari sini tampak bahwa perjuangan Kartini selama peredaran suratnya sepanjang empat tahun dengan para korespondennya gagal. Namun, kegagalan itu tidak sepenuhnya, itu dapat dilihat dari surat-suratnya yang penuh gagasan dan ide cemerlang.

Tak jauh dari itu, perjuangan Kartini bukan serta-merta pada persoalan adat dan agama sebagai tali temalinya. Pendidikan juga tak lepas dari perjalanan terjalnya ketika dirinya gagal berangkat ke negeri Belanda untuk belajar. Kegagalan itulah menumbuhkan ide baru bagi roda pemerintahan pada saat itu.

Sebagaimana kartini menuliskan dalam suratnya menyatakan bawha pemerintah tidak mungkin bisa menyediakan nasi di piring bagi setiap orang untuk mereka makan, tetapi yang bisa dilakukan pemerintah adalah memberikan daya upaya agar rakyat sanggup mencapai tempat di mana makanan itu tersedia. Daya upaya itu adalah pendidikan. Pemberian pendidikan kepada anak negeri berarti pemerintah memberi suluh ke tangan mereka, agar selanjutnya ia sendiri menemukan jalan yang semestinya menuju tempat di mana nasi itu terdapat (Hal. 22).

Konsepsinya itu meski merupakan ide yang cemerlang pada masanya tidak mendapat ruang dari pemerintah. Kesenjangan sosial terkait pendidikan masih terlihat ada garis pemisah yang cukup besar. Pendidikan waktu itu hanya diberikan pada kaum lelaki. Kaum perempuan memang ditelantarkan, dibodohkan, dan dijauhkan dari hak yang semestinya. Perempuan pada masanya menjadi objek pengurus kehidupan keluarga saja. Sehingga, ia juga memprakarsai hidupnya perjuangan emansipasi wanita dan pendidikan untuk perempuan Jawa pada masa itu.

Kenyataan yang membatasi arti renungan keagamaan Kartini terletak pada minat dan perhatiannya yang bukan pertama-tama pada soal agama. Persoalan agama hanyalah menempati tingkat kedua dalam perjuangannya sesudah keprihatinan yang tertumpah pada soal pendidikan dan emansipasi wanita. Karena Kartini bukanlah ahli agama, dan persoalan agama muncul ke permukaan sebab mau tidak mau soal itu terkait dengan persoalan pokok yang dihadapi (Hal. 100-101).

Buku langka ini memberikan kilasan perjuangan kartini yang gagal karena dirinya juga terjerambab dalam musuh bebuyutannya sendiri, yaitu poligami yang memeras eksistensi para perempuan di masanya. Perjuangan sekaligus perlawanan melalui surat menyurat memberikan secercah cahaya yang pada suratnya ia menuliskan “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Sejarah berlalunya perjuangannya saja yang mampu memberikan jalan terang dari keterpurukan jiwanya di masa kolonial. Sedangkan dirinya menjadi korban dari perjuangannya sendiri.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: