Meneladani Ketabahan Para Nabi

Era Madina: Kamis, 04 Juli 2013

Cover Air Mata Para Nabi Kisah-Kisah Inspiratif tentang Ketabahan Para Nabi dalam Memperjuangkan Kebenaran (Junaidi Khab)

Cover Air Mata Para Nabi Kisah-Kisah Inspiratif tentang Ketabahan Para Nabi dalam Memperjuangkan Kebenaran (Junaidi Khab)

Judul               : Air Mata Para Nabi Kisah-Kisah Inspiratif tentang Ketabahan Para Nabi dalam Memperjuangkan Kebenaran

Penulis             : TGH. Lalu Ibrohim M. T.

Penerbit           : Pustaka Pesantren (LKiS)

Cetakan           : I, 2012

Tebal               : 192 halaman: 12 x 18 cm

ISBN               : 602-8995-18-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Semua orang sudah tentu tahu bagaimana kehidupan para rasul dan para nabi pada zaman dahulu kala. Mereka tidak mudah dalam menyampaikan syari’at dan perintah dari Allah menuju jalan kebenaran. Berbagai rintangan dan hambatan menjadi santapan setiap langkah hidupnya. Itu akibat kecongkakan para kaumnya yang apatis dan egois terhadap kebenaran. Sebenarnya kaumnya tahu bahwa itu benar, namun karena egois dan congkak mereka menentang dan tidak meu patuh terhadap apa yang dititahkan oleh para rasul dan nabi tersebut.

Melalu buku ini, TGH. Lalu Ibrohim M. T. mencoba untuk mendeskripsikan kembali kejadian yang menimpa para utusan Allah ketika menyampaikan perintah menuju jalan kebenaran. Di sisi lain diceritakan tentang kecongkakan kaum nabi Nuh yang tidak peduli dengan seruannya untuk kembali menyembah Allah Swt. mereka menentang nabi Nuh dengan berbagai ancaman pula. Hingga ketika nabi Nuh membuat sebuah perahu, mereka lebih mengejeknya lagi karena tidak mungkin akan terjadi banjir. Namun, berkat ketabahan dan kesabaran nabi Nuh, beliau tetap bersikukuh meski mendapat ejekan, bahkan dianggap gila oleh kaumnya sendiri. Mereka yang membangkang ditenggelamkan (Hal. 11).

Tidak semua perjalan hidup ini selalu lurus tanpa mendapat rintangan apapun. Kekasih Allah saja diuji olehnya dengan berbagai cemoohan dan hinaan. Tetapi berkat kesabaran dan ketabahannya, para utusan dan para nabi mampu melewati jalan-jalan yang berliku itu. Itu tak lain merupakan berkat ketabahan dan kesabarannya dalam mengemban amanah dari Allah Swt. Namun sudah barang tentu, kesabaran dan ketabahan para nabi perlu menjadi teladan bagi kita semua. Dan segala bentuk kecongkakan dan keapatisan kaumnya perlu dijadikan sebagai pelajaran hidup.

Bukan hanya nabi Nuh yang diuji kesabarannya oleh Allah Swt. dalam mengemban amanah-Nya untuk mengajak umat manusia kembali ke jalan yang lurus. Namun nabi Ibrohim juga mendapat ujian dan cobaan yang tak jauh berbeda dengan nabi Nuh. Beliau dihadapkan pada raja Namrud yang sangat congkak dan enggan menyembah Allah Swt., hingga ia membakar nabi Ibrohim karena kekejaman dan kekalahannya ketika berargumen. Kendati demikian, nabi Ibrohim masih tetap sabar menghadapinya hingga ia dijuluki sebagai nabi Ulul Azmi, begitu pula dengan nabi Nuh (Hal. 37).

Sungguh ujian dan cobaan yang memerlukan jiwa yang sangat tabah dan ketabahan hati meski berada dalam kekangan dan himpitan para pembangkang. Layaklah kiranya jika nabi Ibrohim diuji dengan ujian yang cukup menjadikan bulu roma merinding – dilempar ke dalam api yang menjilat-jilat – karena beliau sebagai kekasih Allah Swt. Kisah ini yang terus digaung-gaungkan oleh umat Islam agar dalam menjalani hidup ini perlu ketabahan hati dan optimisme hidup dalam menjalani hidup ini. Sebab ujian itu akan diberikan sesuai tiap kemampuan jiwa masing-masing.

Tak jauh berbeda lagi dengan kehidupan nabi Nuh dan Ibrohim, nabi Isa lebih berat ujiannya ketika menjalani masa kenabiannya. Beliau dihadapkan dengan raja yang congkak, sombong, dan mengaku dirinya sebagai tuhan karena kekuasaannya cukup luas dengan para pengikutnya yang pintar sihir, dialah Fir’aun (Ramses II). Umat Bani Israil harus patuh dan menyembah Fir’aun, jika tidak nyawa yang menjadi taruhannya. Namun apa daya ketika dihadap dengan kekuatan Allah Swt., segalanya akan musnah. Termasuk Fir’aun musnah dengan para pasukannya ditenggelamkan di lau merah oleh Allah Swt. pada saat itulah ia baru sdar dan bertaubat, namun taubatnya terlambat sehingga ia mati dalam keadaan tidak beriman. Mayatnya hingga kini tetap diabadikan sebagai bukti sejarah kaum pembangkang terhadap kebenaran (Hal. 133).

Buku semerbak penuh dengan wewangian inspirasi yang menggugah jiwa ini memberikan spirit baru dalam menatap masa depan. Kisah-kisah inspiratif dalam buku ini mayoritas merupakan kisah teladan tentang kesabaran dan ketabahan para nabi Ulul Azmi, kecuali kisah nabi Isa yang tidak diurai di dalam buku ini. Mulai dari nabi Nuh dan para kaumnya, nabi Ibrohim, nabi Musa, dan nabi Muhammad Saw.

Namun sayangnya, buku ini ditulis sangat tergesah-gesah dan alurnya pun tidak teratur. Misalkan ada ungkapan “singkat cerita” dan rentetan cerita dari nabi tertua hingga yang lebih mudah tidak diurut berdasarkan zamannya. Namun meski buku ini memperlihatkan beberapa kelemahan, seabrek spirit hidup dan inspirasi akan tumbuh dengan sendirinya ketika membaca kisah-kisah teladan para nabi dan kecongkakan para kaumnya di masa dulu hingga diazab oleh Allah, hancur dan binasa yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan ini.

* Peresensi adalah Mahasantri Pesantren Luhur al-Husna Wonocolo Surabaya.

No. Rekening                 : 00064-01-61-004983-4 Cabang BTN. a.n. JUNAIDI

NPWP                         : 36.571.243.9-608.000

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: