Sebuah Perjalanan Menacari Tuhan dan Jati Diri

Radar Seni: Published On Saturday, June 29, 2013 By admin. Under: Buku Baru.

Cover Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Junaidi Khab)

Cover Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Junaidi Khab)

Judul               : Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Penulis             : Agus Sunyoto

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : I, 2012

Tebal               : xii + 552 halaman, 13 x 20 cm

ISBN               : 979-25-5376-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

“Kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari Iblis!”. Bagaikan kilatan cahaya petir, bisikan misterius itu membentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat saya ketahui maksudnya. Kilatan itu muncul begitu saja dengan frekuensi yang tak menentu fluktuasinya (Hal. 1).

Bisikan itu terus datang ketika “Saya” sedang menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Ia termasuk orang yang nakal jika dilihat dari sisi yang lain. Namun ia sebenarnya merupakan sosok pribadi yang jujur dari kenakalannya. Ia memiliki hobi menyingkap hal-hal yang tertutupi. Misalkan menyingkap rok temannya, tirai rumah orang, hingga menyingkap buku-buku dan koran, dan berbagai hal yang menyimpan kerahasiaan selalu ia singkap karena keingintahuannya yang begitu tinggi. Hingga Saya mencapai puncak dalam perjalanannya mencari Tuhan dan jati dirinya.

Beda orang, beda pula karakternya. Begitu pula beda dalam berbagai cara-cara menjalani kehidupannya. Dalam buku ini mengisahkan sebuah perjalanan kehidupan mencari Tuhan dan jati diri seorang yang bernama Saya. Dan pada suatu ketika namanya berganti “Saya Sudrun”, itu setelah ia lulus SD (Sekolah Dasar). Nama-nama itu ia peroleh karena jati dirinya yang memang layak mendapat nama tersebut. Dan ia akui bahwa nama-nama itu meski sedikit janggal merupakan hal berharga yang tujuannnya cukup jelas dan bermakna.

Ketika bisikan iblis itu muncul lagi, ia dipertemukan dengan sosok kiai Noyogenggong yang bernasehat. “Saya tahu bahwa sampean bukan orang senewen apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat, sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan. Masyarakat sudah memiliki anggapan bahwa yang jujur pasti hancur. Yang jujur psti edan. Yang jujur pasti lebur. Masyarakat menganggap bahwa kejujuran sampean sangat naif dan sinting, sehingga sampean pun dianggap naif, sinting, edan, dan sudrun” (Hal. 68).

Dari pertemuan dengan kiai Noyogenggong ini, Saya merasakan sebuah kedamaian yang sebelumnya jarang menemukan pengakuan tentang dirinya. Namun sempat sebelumnya Saya menggambarkan kiai Noyogenggong bagaikan seekor jangkrik dungu. Ternyata pikirannya salah. Ia merupakan tokoh kebatinan yang memahami tentang dirinya yang selama ini dianggap gila oleh masyarakat. Pada kenyataannya, Saya tak lain pengejawantahan dirinya yang sejati.

Pada puncak penemuan jati diri di akhir cerita, sosok Saya dalam buku ini dengan bahasa sastra mengkritik dan memperingati bahwa alam saat ini sudah rusak. Kerusakan tersebut akibat ulah tangan-tangan manusia yang serakah. Berbagai hutan dugunduli tanpa ada reboisasi. Hewan-hewan berserakan dan kehilangan habitatnya akibat kerakusan dan kelemahan keimanan umat manusia di era global ini. Akibatnya bukan hanya satu orang saja yang merasakan, namun seluruh elemen masyarakat merasakannya (Hal. 519-548).

Buku ini secara fleksibel menceritakan sebuah perjalan dalam mencari Tuhan dan jati diri seorang Saya. Melalui perjalanannya itu ia sering memiliki pikiran yang aneh, unik, lucu, dan menakutkan. Dari arah dan perjalanan pikirannya itu ia mendapat julukan “Saya Sudrun” dan “Kiai Sudurn”. Kalau diresapi kisah dalam novel relijius ini kita akan menemukan sebuah keseriusan seorang Saya. Selain itu pula, penceritaannya cukup nyaman dengan gelagat cerita yang cukup menggelikan meski di sisi lain membicarakan tentang perasaan yang sering muncul dalam kehidupan ini. Kemungkinan para pembaca memiliki pengalaman yang sama dengan isi novel ini.

Meski novel ini hanya sebatas karya yang isinya seakan pengalaman pribadi yang diceritakan dengan narasi seperti berbicara biasa, namun nilai moral dalam buku ini patut diacungi jempol. Misalkan kenakalan seorang Saya yang berani mendatangi seorang tokoh kiai yang menyimpang dari syari’at Islam, alias mengaku dirinya mengaku sudah mencapai tingkatan makrifat namun tidak melaksanakan solat. Dengan tegas tokoh Saya dalam novel ini mendatanginya karena keingintahuannya tentang alasan tidak melakukan solat ketika sudah mencapai pada tingkatan yang teramat tinggi. Padahal semua makhluk wajib beribadah secara lahir dan batin kepada Tuhan.

* Peresensi adalah Mahasantri Pondok Pesantren Al-in’am Pajagungan Banjar Timur Gapura Sumenep Madura.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: