Ibu Penjual Nasi

METRO RIAU: MINGGU, 16 Juni 2013

Oleh: Junaidi Khab*

METRO RIAU Ibu Penjual Nasi (Junaidi Khab)

METRO RIAU Ibu Penjual Nasi (Junaidi Khab)

Jalanan itu dahulu kala sepi senyap. Anak-anak bermain pun jarang dilihatnya. Tak ada gang lain yang sepi kecuali di dekat warung itu. Tapi dengan penuh semangat Bu Wati bersama keluarganya sepakat membuka warung nasi. Bagai membuka lahan untuk rumah. Warung kecil-kecilan itu dibangun di depan rumahnya yang teramat sempit. Keluarganya dengan sepenuh hati mendukung pembukaan warung itu. Karena disadari warung itu akan mendatangkan berkah. Dengan warung itu Bu Wati akan menghidupi keluarganya.

Warung sederhana itu sudah rampung dibangun oleh Bu wati bersama keluarganya. Malam pertama pembukaan warung nasi itu Bu Wati mengadakan selamatan kecil-kecilan bersama suami dan anak-anaknya. Acara tersebut berlangsung khidmat dipimpin oleh suaminya.

“Bapak harap anak-anak mau membantu ibu saat berjualan ya, begitu pula dengan bapak akan membantu ibu”. Seusai pembacaan surat Yasin, Karmin berpetuah pada anak-anak dan dirinya sendiri.

Anak-anaknya hanya terdiam karena kecapean membaca ayat al-Qur’an tiga halaman itu. Mereka hanya mengangguk pertanda setuju dengan nasihat ayahnya. Begitu juga dengan Bu Wati dengan senyum merekah mengiyakan pesan suaminya. Seusai selamatan mereka membagi-bagikan nasi bungkus pada beberapa tetangganya yang dikenal di dekat gang-gang sempit itu.

Suasana pagi masih tenang meski udara di tempat itu selalu panas tanpa mengenal musim. Bu Wati dengan anak-anaknya bangun sebelum adzan subuh berkumandang di masjid di sebelah rumahnya. Segala lauk dan ikan yang dibeli di pasaran kemarin dimasak.

“Bu, bapak mau ke masjid, shalat tahajjud sambil nunggu waktu shalat subuh ya”. Pinta Pak Karmin pada istrinya ketika sibuk bersama anak-anaknya di dapur.

Enggheh pak, monggo. Berdoa semoga usaha kita berjalan lancar pak”. Sahut Bu Wati dari dalam dapur sempitnya. Hingga salah stu tetangganya terbangan karena sahutan Bu Wati. Tapi bukan persoalan bagi tetangganya dengan sahutan Bu Wati yang mengagetkan di pagi petang.

Sepulang dari masjid setelah shalat subuh, nasi beserta lauknya sudah siap di dalam rombong kecil tempat jualan Bu Wati. Pak Karmin melihat kemudian tersenyum. Kemudian masuk ke kamarnya ganti baju untuk siap-siap membantu istrinya di dapur.

“Bu, sudah shalat subuh?”. Secara tiba-tiba Pak Karmin menanyakan Bu Wati tentang shalatnya. Perlahan Bu Wati mendongak melihat suaminya yang mulai memegangi piring.

“Belum pak”. Dengan nada santai dan penuh hormat Bu Wati menjawab pertanyaan suaminya.

“Glodakkk!”. Piring di tangan Pak Karmin terlepas dari genggamannya di atas ranjang kecil tempat lauk dan sayur. Tanpa kata dan tanpa melihat istrinya ia pun meninggalkan dapur menuju teras rumahnya. Perlahan Bu Wati menaruh panci berisi sayur lalu menyusul suaminya.

“Ada apa toh pak, kok pagi-pagi tampak begitu marah karena aku bilang belum shalat subuh?”. Tanya Bu Wati penuh keheranan dengan sikap suaminya. Lalu duduk di sampingnya sambil memotong wortel.

“Bu, masuk kamar kita bicara baik-baik agar tidak ada yang salah paham”. Pinta Pak Karmin.

Mendengar perintah Pak Karmin, sang istri langsung mematuhinya. Masuk ke kamar diikuti suaminya. Dengan sepenuh hati Bu Wati duduk di lantai dan memberikan tempat tidur sebagai tempat dudu Pak Karmin. Anak-anaknya masih bersibuk ria mengatur nasi dan lauknya di dapur keburu pembeli datang ke warungnya. Keadaan seakan menegangkan bagaikan di pengadilan. Namun dengan napas lega karena Bu Wati merasa tidak bersalah, ia tidak menunjukkan rasa gugup dan takut di raut wajahnya yang mulai keriput di depan suaminya.

“Kenapa ibu tidak shalat subuh, ini sudah waktu shalat dluha lho bu?”. Tanya Pak Karmin dengan nada sedikit tinggi. Namun di saat itu juga pertanyaannya seakan-akan tidak mendapat respon dari Bu Wati.

“O, itu sebabnya bapak kaget hingga menjatuhkan piring di dapur dan memanggil masuk kamar toh?”. Bu Wati menganggap remeh pertanyaan Pak Karmin karena suaminya tidak paham atau tidak tahu atau lupa.

“Ibu kan nggak shalat subuh pagi ini karena sibuk di dapur dan Ibu sedang Dapet”. Pak Karmin hanya merunduk dengan dahi mengernyit karena ketidakpahamannya dengan keadaan istrinya yang sedang datang bulan. Perhatian Pak Karmin pada istrinya sangat dalam apalagi urusan shalat.

Tanpa pamit pada Pak Karmin, Bu Wati langsung keluar melanjutkan kerjaannya di dapur bersama anak-anaknya. Kini segala sesutu untuk jualan nasinya telah siap. Di rombong kecil depan rumahnya penuh dengan masakan yang enak dan lezat.

Bu Wati bergegas mandi dan anak-anaknya menunggui para pembeli di warungnya yang sekaligus juga rumahnya. Satu per satu menu masakan ditatap oleh anak-anaknya. Lalat pun ikut mencicipi merasakan lezatnya masakan Bu Wati. Cap tiga roda yang dipasangnya seakan tidak mempan mengusir lalat-lalat itu dari saking lezatnya menu masakan itu.

Dari hari pertama hingga hari ketiga Bu Wati membuka warung usaha jualan nasi tidak ada sama sekali yang menghampirinya. Cuma dapat dihitung dengan jari. Itupun hanya tetangga dua meternya yang sedang malas masak sendiri. Selama itu, masakan lezatnya menjadi santapan para tetangganya. Karena tidak laku dan khawatir basi, Bu Wati mensedekahkan nasi dagangannya pada para tetangga dekatnya.

Hari keempat pengunjung mulai berdatangan. Entah tahu dari mana kalau di pojokan itu ada yang jualan nasi. Nasi Bu Wati laris manis. Hingga petang anak-anaknya memasak hingga empat kali. Kini merupakan hari kemujuran Bu Wati. Begitupun pada hari kelima, nasinya laris sebagaimana hari keempat, juga anak-anaknya memasak hingga empat kali.

Pada hari keenam, sebelum subuh Bu Wati sudah bangun sendirian untuk siap-siap segala menu masakannya. Empat kali lipat untuk target hari itu yang dimasak satu kali pada pagi itu. Hingga ia melupakan shalat subuh. Padahal ia telah suci dari haid. Kini Pak Karmin tidak mengontrol lagi tentang keadaan Bu Wati. Namun setelah beberapa hari Pak Karmin tahu bahwa sang istri tidak datang bulan. Tetapi dia jarang shalat subuh.

Gang yang sunyi itu hanya bisa menatap tangisan Bu Wati yang dimarahi suaminya. Begitu pun anak-anaknya di dapur hanya duduk termangu memikirkan ibunya yang tersedu-sedu. Orang-orang yang berseleweran di gang hanya menoleh. Mereka urungkan niatnya makan di warung Bu Wati. Kini keuntungan jualannya terbawa isak tangisnya. Hingga seharian penuh tidak ada yang membeli nasi di warung Bu Wati kecuali seperti hari-hari pertama hingga ketiga. Hanya tetangga dekatnya yang malas masak yang membelinya.

“Lain kali, kalau mau masak di waktu pagi jangan sampai lupa shalat subuh nduk…”. Pak Karmin mulai buka mulut menasihati istrinya. Begitu juga dengan anak-anaknya yang ada di sampingnya.

“Kalau begini jadinya, dagangan kita kan gak laku, para pembeli hanya berseleweran dan menatap saja”. Imbuh Pak Karmin meyakinkan istrinya.

“Shalat itu penting, mendatangkan berkah, melancarkan rizki”. Pak Karmin memantapkan hati Bu Wati serta anak-anaknya yang sedang termangu di samping ibunya.

Para tetangganya tanpa harus memasak lagi pada sore itu. Nasi jualan Bu Wati diberikan dengan cuma-cuma. Doa dan syukur serta rasa terimakasih tetangganya mulai terdengar di telinga Bu Wati dan keluarganya. Bu Wati kini sadar. Dia berjanji akan melakukan shalat sesibuk apapun pekerjaannya.

Pagi itu sebagaiaman biasa, Bu Wati bangun pagi-pagi untuk memasak. Tiba shalat subuh ia langsung mengambil mukenah tersayangnya. Anak-anaknya pun bangun dan ikut shalat di belakangnya. Pak Karmin sejak sebelum subuh sudah ada di Masjid sebelah rumahnya. Kini ia senang dengan sang istrinya yang mulai taat beribadah. Hingga Pak Karmin ikut membantu memasak di dapur. Keluarga Bu Wati kini diliputi rasa bahagia sekali. Gelak dan tawa di dapur bersama anak dan suaminya di dapur menjadi bunga melati para tetangganya.

Sajian menu-menu belum siap para pembeli sudah berdatangan hingga antre. Gang sempit yang dikelilingi rumah-rumah sesak dengan para pembeli. Masakan Bu Wati memang nikmat. Padahal dia tidak pernah kursus masak seperti penjual nasi lainnya. Porsi hidangannya pun berbeda dengan hidangan penjual nasi lainnya. Hidangan nasi Bu Wati lebih banyak dibanding penjual nasi lainnya.

Hari-hari terus berlalu melewati gang kecil itu. Keuntungan pun mengikuti dan singgah di warung Bu Wati. Keluarga Bu Wati tak pernah lepas dari rasa syukur dan doa setiap kali selesai shalat. Hingga dirinya dan keluarganya merutinkan melakukan tasyakuran pada malam jumat bersama para tetangganya. Kemujurannya kini sudah berada di ujung kesuksesan, rumah dan warung serta rombongnya direnovasi berkat hasil jualan nasi yang ditekuni dengan doa dan ibadah. Titik keceriaan seiring berjalannya waktu di gang sempit itu menjadi sajian keluarga dan tetangganya.

Rumah kecil dulu kini terlihat megah di sebelah masjid. Disaksikan nyamuk-nyamuk yang ada di selokan air bah. Tikus-tikus menjadi penikmat sampah berkah jualan Bu Wati. Siang dan malam melewatinya dengan penuh keanggunan. Cuaca panas di daerah itu mendinginkan keluarga dan sanak familinya.

* Penulis Bergiat di Komunitas Sastra IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Bergabung di Pondok Bduaya Ikon Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Untuk membaca bentuk aslinya, file koran PDF bisa diunduh berikut ini. Silakan klik METRO RIAU Ibu Penjual Nasi. Semoga bermanfaat. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: