Pelacur Juga Beragama

Harian Bhirawa: Kamis, 13 Juni 2013 22:29/Jumat, 14 Juni 2013

Cover Agama Pelacur Dramaturgi Transendental (Junaidi Khab)

Cover Agama Pelacur Dramaturgi Transendental (Junaidi Khab)

Judul               : Agama Pelacur Dramaturgi Transendental

Penulis             : Prof. Dr. Nur Sayam, M.Si.

Penerbit           : LKiS

Cetakan           : II, 2012

Tebal               : xviii + 200 halaman: 14,5 x 21 cm

ISBN               : 979-25-5330-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Pelacur ibarat seekor hewan kurus kering kerontang kelaparan yang masuk ke lubang kecil pada bangunan yang berbeton sangat kokoh, dan di balik lubang kecil itu banyak makanan nikmat yang bisa mengenyangkan perut. Ia akan merasa hidup nyaman di dalamnya hingga gemuk. Kemudian ia sadar, bahwa dirinya sedang berada di tempat yang salah dan terkutuk. Ia mau keluar, namun karena badan sudah gemuk, tidak mungkin untuk lewat lubang kecil yang dilewatinya semenjak kurus kering. Solusinya ia harus menguruskan badannya lagi, atau membongkar tembok yang lobangnya kecil itu. Itu kiranya dilema yang menjadi tameng pelacur sulit kembali menjadi manusia seutuhnya.

Itu mungkin sekilas gambaran tentang pelacur yang katanya sangat sulit keluar dari dunia gelap itu. Namun meski demikian, pelacur masuk ke lobang itu bukan karena kehendak dirinya, namun dengan berbagai alasan dalam hidupnya. Sayangnya masyarakat menganggap pelacur tak lain orang terkutuk yang tidak mau belajar tentang etika kehidupan dan jauh dari keyakinan beragama sebagaimana selain para pelacur. Padahal jika dilihat dari berbagai aspek kehidupan, mereka masuk ke dunia gelap itu bukan serta merta oleh dirinya. Namun dikarenakan situasi, tuntutan lingkungan, ekonomi, dan kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi (Hal. 3).

Mereka berada di lumbung maksiat itu merupakan suatu tarikan setan yang tidak dirasa secara sadar ketika masih di luar. Namun ketika berada di dalam kiranya beribu penyesalan muncul, namun sangat mustahil dengan mudah bisa melepas tali-tali uang dan nafsu yang telah melilitnya. Memang, jika seseorang sudah berada di bawah krisis uang semangat juang dan etos kerja akan membara sedemikian rupa. Hingga menjual kehormatan ala para pelacur. Namun perlu ditegaskan bahwa mereka tetap memiliki percikan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan versi masyarakat luas.

Ada sebuah anggapan yang sangat aprioristik bahwa para pelacur atau penjaja cinta adalah orang-orang pinggiran (terpinggir) dari tindakan keagamaan. Mereka dianggap sebagai orang yang telah berada di luar ajaran agamanya. Padahal sesungguhnya mereka sama sebagaimana manusia lainnya, yang tetap butuh pada dunia keyakinan, Tuhan yang misterius, dan amal kebaikan. Akan tetapi, stigma negatif yang sudah terlanjur melekat demikian kuat dan dibangun secara terstruktur – terutama oleh kaum agamawan – telah menjadikan mereka ini sebagai orang-orang terbuang secara struktural dan kultural sekaligus (Hal. 7).

Anggapan demikian yang ingin diluruskan oleh Nur Syam melalu peneltian di dalam buku ini. Memang secara kasat mata mereka telah menyimpang dari dogma agama yang telah digariskan. Namun hal tersebut tidak jauh dari kultur manusia yang masih membutuhkan pada nilai-nilai keyakinan. Karena tidak serta merta manusia mengandalkan pikirannya yang terbatas itu. Ketika akal itu sudah tidak mampu melakukan nalar kehidupan, tentu hati sebagai ruang keyakinan dalam beragama akan menjadi jalan utamanya meski menurut akal tidak bisa diterima. Namun, kenyataannya sebuah keyakinan itu perlu ketika akal tidak mampu menyelesaikan suatu persoalan yang sangat rumit dalam hidup ini.

Keyakinannya mengenai nila-nilai keagamaan, pelacur juga sama dengan manusia lainnya yang mempercayai adanya hal-hal yang gaib yang sulit dijangkau oleh akal manusia pada umumnya. Dari kisah dalam buku ini, pelacur yang menjadi objek penelitian tentang keberadaannya di lumbung maksiat terkait keyakinan masih terlihat nilai-nilai keagamaan yang tidak terang-terangan ditampakkan. Di lokalisasi Dolly, pelacurnya masih memiliki keyakinan yang begitu mantap. Ia menyadari perbuatan dosa, malaikat, rasul, nabi, dan bahkan sikasa ketika berada di neraka. Begitu pula pelacur yang ada di lokalisasi yang lainnya memiliki pernyataan yang serupa. Mereka juga tetap beragama dan berkeyakinan meski hidup dalam kungkungan maksiat. Tentu versinya berbeda pada umumnya (Hal. 153-173).

Meski mereka berada dalam dunia yang menurut akal sehat masyarakat pada umumnya jauh dari nilai-nilai keagamaan, namun faktanya mereka masih ingat terhadap siksa neraka. Mereka mau kembali ke jalan yang benar, namun sulit. Mereka juga ingin melakukan tawasul dengan para keluarganya yang hidup ataupun yang telah meninggal dunia melalui bacaan-bacaan ayat suci al-Quran yang dihafal dan yang disimpan.

Buku ini tak lain sebagai refleksi bagi kita agar tidak serta merta memojokkan para pelacur. Karena sebuah pemojokan terhadap mereka sama saja menanamkan benih-benih stereotip yang menjadikan mereka malah berkembang lebih subur lagi. Namun, melalui buku ini, kita sebagai manusia juga sama dengan para pelacur hakikatnya. Sama-sama memiliki pikiran dan hati. Maka dari itu, setidak kita melalui buku ini tidak perlu menghujat para pelacur. Tetapi, kita sebagai sesama manusia harus mampu membina mereka agar terlepas dari pekerjaan yang memang tidak dikehendaki tersebut.

* Peresensi adalah Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Untuk men-download file koran PDF aslinya silakan klik Harian Bhirawa Pelacur Juga Beragama atau harian-bhirawa-pelacur-juga-beragama. Semoge bermanfaat. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: