Emansipasi Wanita dalam Periwayatan Hadis

Harian Bangsa: Jumat, 14 Juni 2013

Cover Perempuan Periwayat Hadis (Junaidi Khab)

Cover Perempuan Periwayat Hadis (Junaidi Khab)

Judul               : Perempuan Periwayat Hadis

Penulis             : Dr. H. Agung Danarta, M.Ag.

Penerbit           : Pustaka Pelajar

Cetakan           : I, April 2013

Tebal               : 389 halaman

ISBN               : 978-602-229-194-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Perempuan mendapat posisi terhormat saat kehidupan masyarakat Islam berada pada masa Rasulullah Saw. Kaum perempuan pada masa itu mendapat perlakuan yang tidak berbeda dengan kaum laki-laki. Apabila laki-laki berperan dalam ruang publik, maka perempuan juga tidak ada larangan untuk berperan dalam medan yang sama. Bahkan, kedekatan kaum perempuan dengan Rasulullah Saw. sendiri hampir tidak ada batasannya.

Misalkan, ketika kaum laki-laki memiliki sebuah kelompok pengajian dengan Rasulullah Saw., maka perempuan merasa tidak mau ketinggalan. Rasulullah menganggap bahwa majelis pengajian cukup diadakan untuk kaum laki-laki saja, nanti kaum laki-laki yang akan meneruskan pengetahuannya yang telah didapat kepada kaum perempuan. Tindakan ini diprotes oleh kaum perempuan. Atas protes ini, Rasulullah memutuskan membuka majelis taklim untuk kaum perempuan.

Buku ini akan menyajikan tentang penyebab penurunan jumlah partisipasi perempuan dalam periwayatan hadis dalam al-kutub al-tis’ah juga kaitannya dengan emansipasi wanita. Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa pada periode sahabat, dalam al-kutub al-tis’ah perbandingan perempuan periwayat hadis dibanding total periwayat hadis masa sahabat sebanyak 12,6%, dan mengalami penurunan secara tajam hingga tinggal 2/5-nya, yaitu 5% saja pada periode tabi’in, dan tinggal 1/10-nya yaitu sebanyak 1,26% pada generasi atba’ al-tabi’in (Hal. 231).

Kita lihat saja kenyataannya pada zaman sekarang, keterlibatan kaum perempuan dalam meriwayatkan hadis sangat jarang ditemui. Ini menjadi sebuah indikasi bahwa perempuan tidak memiliki ruang cukup luas dalam persoalan periwayatan hadis yang menjadi sumber rujukan umat Islam di dunia. Sehingga periwayatan hadis hanya didominasi oleh kalangan laki-laki saja. Dalam kaitannya dengan hal ini patut kita bertanya-tanya dan menelisik lebih jauh hal ihwalnya.

Misalkan Bukhari hanya memasukkan sebagian sanad dari kalangan perempuan saja dan meninggalkan yang lainnya. Hal itu lebih disebabkan pada metode Bukhari yang hanya mengambil jalur sanad sahih yang paling kuat saja. Sedangkan yang kurang kuat ia tinggalkan agar kitab himpunannya tidak terlalu tebal. Dengan metode ini pulalah yang menyebabkan perempuan tabi’in yang sanad hadisnya tertulis dalam Shahih al-Bukhari jumlah dan persentasenya turun drastis, dan menjadi nol pada generasi berikutnya (Hal. 235).

Dalam pandangan Bukhari ini secara tidak langsung ia meragukan kesahihan hadis yang diriwayatkan oleh kaum perempuan. Meskipun ada yang kuat namun sedikit meragukan secara terang-terangan penyebab tidak dibukukan oleh Bukhari dengan alasan agar kitab himpunannya tidak terlalu tebal. Sehingga periwayat hadis dari kalangan perempuan tabi’in jumlah dan persentasenya turun drastis dan bahkan menjadi nol pada generasi berikutnya. Namun kiranya sosok Bukhari tidak perlu disalahkan dalam rangka tujuannya untuk menjaga kemurnian hadis agar benar-benar sahih.

Pada masa pemerintahan ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz perempuan tidak mendapat ruang dalam periwayatan hadis. Pertama, karena budaya paternalisitik masyarakat Arab yang lebih menghargai laki-laki daripada kaum perempuan untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan publik. Kedua, sikap konservatif penduduk Madinah yang tidak mengizinkan perempuan belajar pada laki-laki yang bukan muhrimnya. Ketiga, pengakomodiran budaya non-Islam/Arab dalam  suatu imperium saat itu (Hal. 308).

Jika dilihat pada dekade ini cukup jelas karena faktor politik pemerintahan dan budaya orang Arab yang fanatik. Namun, meskipun kaum perempuan pada masa itu tidak mendapat ruang penuh dalam meriwayatkan hadis tidak ada penentangan dari kaum perempuan itu sendiri. Kemungkinan besar pula, cara demikian akan lebih efektif dan relatif mengurangi fitnah dalam penyampaian hadis pada masa itu. Secara tidak langsung, pada masa pemerintahan tersebut peran perempuan sudah dibatasi oleh fanatisme budaya masyarakat setempat.

Begitu pula pada masa pemerintahan Abu al-Abbas al-Saffah bahwa masih ada beberapa perempuan yang meriwayatkan hadis, tetapi umumnya tidak terkenal dan hanya meriwayatkan sedikit hadis. Beliau hanya melanjutkan upaya pembukuan hadis yang dirintis oleh ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, termasuk tidak mengikutsertakan perempuan (Hal. 309).

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Penyebab lain dari pengurangan partisipasi kaum perempuan dalam meriwayatkan hadis yaitu memang kesengajaan dengan tidak mengikutsertakan perempuan dalam pembukuan hadis pada masa Abu al-Abbas. Hal ini sebenarnya yang menimbulkan kecanggungan dan merombaknya gerakan emansipasi wanita dan gender pada era sekarang. Namun, setidaknya meski ruang perempuan dalam meriwayatkan hadis minim, masih ada walau hanya dalam jumlah sedikit.

Secara jelas dan komprehensif dalam buku ini mengulas tentang penyebab berkurangnya perempuan dalam meriwayatkan hadis dan kaitannya dengan emansipasi wanita dan gerakan kesetaraan gender. Yang mana hal tersebut lebih ditengarai oleh periwayatan hadis karena sikap politik khalifah (Hal. 305), peran keluarga dalam pengajaran hadis masih kurang dari sempurna (Hal. 312), tafsir agama tentang perempuan (Hal. 327), sosial politik (Hal. 338), dan kiprah perempuan dalam berbagai kehidupan (Hal. 348).

* Peresensi adalah Director of Writing University IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361       

E-Mail                         : john_gapura@yahoo.com

Jika ingin melihat file koran PDF aslinya silakan klik Harian Bangsa, Emansipasi Wanita dalam Periwayatan Hadis untuk men-download-nya. Semoga bermanfaat. Amin

Advertisements

2 Responses to Emansipasi Wanita dalam Periwayatan Hadis

  1. Defi Pane says:

    Assalamualaikum… izin copas ya akh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: