Nasionalisme dan Romantisme “Sang Kiai”

DUTA MASYARAKAT: Senin, 10 Juni 2013

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Sebuah film nasionalis-religius-romantis “Sang Kiai” yang disutradarai oleh Rako Prijanto merupakan sebuah lakon yang menokohkan sosok kiai dari pesantren Tebuireng Jombang dalam mengusir kolonialis Jepang di Indonesia sudah ditayangkan di beberapa bioskop Indonesia sejak 30 Mei 2013 kemarin.

KH. Hasyim Asy’ari sosok yang ditokohkan dalam film tersebut menunjukkan sebuah wibawa yang cukup menarik dan penuh simpatik. Baik oleh kalangan santri, masyarakat setempat, bahkan Jepang memanfaatkan kewibawaan sosok KH. Hasyim Asy’ari untuk mengeruk hasil bumi penduduk negeri ini.

Tokoh nasionalis dari pesantren ini cukup memberikan nuansa inspirasi baru untuk menyadari betapa sangat banyak jasa pahlawan dari pesantren untuk negeri ini yang tereliminasi dari sejarah nasional.

Dalam coretan sejarah hanya tokoh-tokoh nasionalis yang sering dan banyak disebutkan. Misalkan jenderal A. Yani, Bung Tomo, Jenderal Sudirman, dan tokoh-tokoh nasionalis lainnya yang jauh dari lingkungan pesantren. Padahal dunia pesantren yang diprakarsai oleh sosok kiai, santri, dan para pengikutnya juga berjuang mengusir kaum kolonialis dari negeri ini. Entah karena apa sejarah nasional melupakannya.

Maka dari itu setidaknya dari film “Sang Kiai” ini mata kita akan terbuka bahwa pesantren juga memiliki peran utama dalam mengusir penjajah dan menggapai kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun, meski film ini merupakan catatan yang beraliran nasionalis, tentu itu tak lain sudah bercampur fiksi dan rekaan dalam berbagai latar, setting, penokohan, dan berbagai pengubahan. Karena tidak mungkin sejarah masa silam akan terekam sedemikian rupa dan sempurna.

Film tersebut merupakan sebuah cerminan bahwa pesantren juga memiliki peran dalam menjaga keutuhan negeri ini. Toh meskipun pesantren identik dengan lembaga konservatif oleh publik yang pada kenyataannya cuma budayanya yang primitif, namun cara pikir dan keilmuannya sudah modern, yaitu sudah mengikuti gelindingan arus zaman ini.

Nasionalisme vs Romantisme

Selain film “Sang Kiai” ini menyuguhkan sosok kiai dan para santrinya dalam mempertahankan nasionalisme juga menyajikan sebuah kehidupan yang romantis. Itu terlihat ketika sosok Harun dan Sarini setelah menikah. Sebuah ikatan keluarga terbangun yang sedikit menghambat nilai nasionalisme seorang Harun. Yaitu ketika Harun akan berangkat berperang melawan sekutu di bandung.

Sosok Sarina dengan perasaan iba dan cintanya yang mendalam terhadap Harun sampai dirinya bersusahpayah mengejarnya memakai sepeda ontel. Namun juga pupus karena laju mobil yang membawa Harun cukup cepat. Akhirnya ia harus rela sosok Harun pergi dari keromantisan dalam hidupnya.

Begitu pula sosok KH. Hasyim Asy’ari dalam film tersebut juga menunjukkan sebuah keromantisan dengan istrinya meski berada dalam keadaan dan situasi berkecamuk melawan kaum kolonialis di luar sana. Keromantisan sosok kiai dengan sang istrinya ini tampak saat sang kiai berkata bahwa dirinya mendoakan para santrinya yang berjuang mengusir penjajah.

Di saat itu pula sang istri menyinggung pada kiai tentang dirinya dalam doa itu. Dengan penuh wibawa dan romantis ia mengatakan dirinya juga teralun dalam bisikan doanya pada Tuhan. Mendengar jawaban tersebut bibirnya merekah penuh senyum dan wajah penuh riang serta kagum pada sosok kiai dengan bahasanya yang lugas simpel dan penuh keromantisan.

Dari sini tak pelak jika Nafi’ah Al-Ma’rab (2013:15) mengatakan bahwa sebuah karya (sastra) selalu menyediakan ruang terbuka pada setiap objek yang diperbincangkan. Salah satu objek yang tak pernah habis menjadi sajian adalah tema perempuan di dalam sebuah karya. Keberadaan perempuan sebagai salah satu menu tema yang paling banyak dipilih oleh sebagai karya telah mendorong lahirnya banyak penelitian terhadap karya bertema perempuan.

Dalam film tersebut sosok perempuan juga tak luput dari lirikan meski dalam kondisi yang sangat terancam, perempuan masih menjadi tokoh romantis. Bukan hanya pada cerita-cerita dan karya yang lain perempuan menjadi suguhan. Tetapi sosok perempuan menunjukkan bahwa eksistensinya sebagai penggerak keromantisan dalam sebuah karya yang akan memperindah karya itu sendiri.

Ironisnya, film tersebut menyuguhkan sebuah alunan musik dan lagu yang tidak selevel dengan kondisi tragis-romantis pada masa itu. Mungkin ini harus menjadi sebuah tamparan bagi sang sutradara agar membenahi latar musik dan latar situasi dalam film itu.

Lihat saja pada adegan sosok Harun gugur dalam perang di Surabaya. Ia dibawa pulang dengan tubuh berlumuran darah karena ledakan granat yang dilontarkan oleh tentara Jepang ke dekatnya setelah menembak pimpinan Jepang dalam mobil.

Saat sang istri menghampirinya yang penuh darah di tubuhnya ada sebuah alunan lagu modern yang saya kira itu sebuah keganjalan bahkan kejanggalan dalam film tersebut. Karena sangat tidak rasional pada masa itu lagu band bernuansa islami-modern itu muncul saat memperjuangkan nasionalisme dengan mati-matian. Tidak mungkin ada musik band atau sejenisnya seperti alunan lagu-lagu tren asmara seperti saat ini.

Setidaknya meski film tersebut sudah beraduk dengan fiksi, latar musik dalam keadaan duka romantis yang dialamai seorang Sarina juga disesuaikan dengan kondisi pada masa penjajahan saat itu pula. Tentunya hanya berupa alunan gendang atau seruling sebagai ungkapan penyayat hati atas kematian sosok Harun dengan bakal calon anak yang ada dalam perut Sarina.

Di sini terlihat bahwa sebuah nasionalisme runtuh hanya karena nilai romantisme kehidupan Harun dan Sarina yang tak seirama. Seakan nasionalisme dalam film itu ditukar dengan romantisme kehidupan dengan alunan musik dan lagu modern. Namun meski demikian, film tersebut patut diacungi jempol karena berhasil memantapkan kesadaran bahwa nasionalisme juga ada di pesantren.

* Penulis Wakil Direktur Gerakan IAIN Sunan Ampel Menulis (Gisam) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp                               : 087866119361

 E-Mail                        : john_gapura@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: